Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 281-S2


__ADS_3

"Belum bu, nunggu taksi" jawabnya.


Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, Jasmine kembali memundurkan tubuhnya saat baru saja ia akan memasuki mobil tapi tubuhnya terkena air hujan.


"Sayang diam disitu" teriak Gibran dari dalam mobil, kemudian turun dengan membawa payung dan memeluk istrinya.


"Venya, ayo ikut kami. Sudah petang apalagi hujan deras seperti ini, bahaya" ajak Jasmine pada sekertarisnya. Tanpa menolak, Venya langsung mengangguk, ikut masuk kedalam mobil dengan sedikit berlari. Tapi tentu saja bajunya sedikit basah.


"Dingin bu, apa saya boleh meminjam jas pak Gibran" ucapnya basa-basi. Tapi sayang, Gibran langsung menatapnya tajam dan menjawab "tidak". Bisa-bisanya Venya meminta jas Gibran yang sudah diselimutkan ditubuh Jasmine, apa sekertaris istrinya itu tidak punya hati.


"Sayang" Jasmine mengelus lengan suaminya, memberi ketenangan agar suaminya tidak terbawa emosi tapi Jasmine juga tidak berniat meminjamkan karena ia sudah tahu akal bulus sekertarisnya itu.


Gibran menghela nafasnya, menoleh kearah istrinya dan tersenyum kemudian mearih tangan Jasmine untuk digenggam. Hati Venya semakin panas melihat keromantisan yang ada didepannya.


"Em saya turun disana saja pak" ucap Venya menunjuk lampu merah yang tinggal beberapa meter didepan.


Tidak menjawab, Gibran langsung memberhentikan mobilnya. Menyuruh Venya turun dengan isyarat tangannya.


"Terima kasih, pak, bu, saya permisi" Jasmine hanya tersenyum, tanpa menanggapi apapun. Mencegah pun tidak, ia sudah muak dengan sekertarisnya itu.

__ADS_1


"Pecat saja dia sayang, aku akan menyuruh anak buahku mencarikan sekertaris yang lebih kompeten dan profesional dalam bekerja." geram Gibran.


"Iya besok" jawab Jasmine dengan entengnya kemudian memejamkan mata.


Menyusuri jalanan yang padat sore itu, meskipun hujan masih turun dengan derasnya. Gibran mengemudikan mobilnya benar-benar pelan, ia sangat memperhatikan istrinya.


"Kau ingin makan apa sayang?" Bukan hanya posesif, Gibran juga selalu menanyakan apa yang diinginkan oleh istrinya.


"Emm, aku ingin memasak sendiri sayang, tidak usah membeli makanan siap saji. Emm tapi nanti mampir di minimarket dulu ya, aku ingin membeli beberapa bahan" Gibran tersenyum, menganggukkan kepalanya.


Sepuluh menit, akhirnya mobil Gibran sampai diminimarket.


Setelah Jasmine menyebutkan apa yang harus dibeli, Gibran langsung turun. Meninggalkan istrinya di mobil.


.


.


Setelah sampai dirumah, mereka langsung turun. Membersihkan tubuh mereka sebelum akhirnya Jasmine memasak. Beruntung tadi Jasmine sudah menghubungi asisten rumah tangga jika tidak usah memasak, jadilah tidak ada makanan yang terbuang.

__ADS_1


"Aku bantu ya sayang?" Tanya Gibran saat melihat istrinya bergelut didapur.


"Tidak usah sayang, duduklah. Cukup lihat aku dari sana oke" bujuk Jasmine. Ia tidak mau masakannya kini gagal karena Gibran ikut campur, karena bukan hanya sekali ia harus bersabar karena harus gagal, tapi sudah berulang kali.


Jasmine membuat corndog, dengan dihias sederhana tapi cukup menggiurkan mata. Ia tak membuat banyak, hanya membuat beberapa tusuk saja yang penting ia kenyang, Gibran sudah ia masakkan nasi dan beberapa lauk tadi.


"Bagaimana persiapan pernikahan Alesha sayang?" Tanya Jasmine seraya membereskan piring setelah selesai makan.


"Aku tidak tahu, mungkin sudah 80% sayang" jawab Gibran sekenanya.


Alesha dan Leo, mereka berdua benar-benar memutuskan menikah setelah Alesha wisuda beberapa minggu yang lalu. Alesha juga berusaha membuka hatinya, mencoba bersikap lebih hangat dan membuang sikap dinginnya ke Leo. Meskipun ia belum bisa melakukan itu sepenuhnya.


"Emm, a-aku bingung harus memberikan kado apa" lirih Jasmine, ia bingung karena Alesha sudah memiliki segalanya.


"Jangan pikirkan itu sayang, aku sudah menyiapkannya. Jadi cukup perhatikan kesehatanmu saja" Gibran berdiri dari duduknya, menghampiri istrinya yang sibuk meletakkan piring diwastafel.


"Ahhh" kaget Jasmine saat Gibran tiba-tiba menggendong tubuhnya.


"Bi, tolong bersihkan itu ya" ucap Gibran pada asisten rumah tangga yang memang berdiri disana untuk berjaga-jaga jika majikannya membutuhkan sesuatu.

__ADS_1


"Baik tuan" jawabnya.


__ADS_2