
"Iya tante, saya teman satu kelas Chayra" jawab Marcell sopan.
"Tidak usah terlalu formal" balas Imelda disertai kekehan kecil. Riko menatap sang istri dengan pandangan heran.
"Karena sebentar lagi makan malam, jadi tinggalah sebentar lagi kita akan makan malam bersama" Riko dan Chayra membulatkan matanya.
"Sayang"
"Mom"
Dua orang tersebut menatap Imelda meminta penjelasan, "Sayang, bukankah tidak ada yang salah? kenapa kalian seperti itu?" tanya Imelda menatap dua orang yang masih kebingungan itu.
"Tidak usah tante, saya pulang saja" tolak Marcell sopan karena merasa tidak enak pada Riko dan Chayra yang terlihat keberatan
"Husstt, tidak ada penolakan, tante mau ke belakang dulu" setelah mengatakan itu, Imelda langsung bangkit dan berlalu dari ruang tamu. Kini tinggalah tiga manusia yang masih terlihat tegang, mata tajam milik Riko Yunanda menatap dingin pada pria tampan yang masih menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dad Ara keatas dulu" Berniat menghindari tatapan aneh dari sang daddy, Chayra memutuskan untuk pergi kekamarnya agar tidak terlibat suasana canggung seperti ini. Tapi usahanya sia-sia karena baru saja akan bangkit, tangan Chayra dicekal oleh Riko.
Chayra menunduk lemah tanpa berani menatap mata tajam milik sang daddy itu. "Daddy keatas dulu" hah? apa ini? Chayra sampai membulatkan matanya saat melihat sang daddy berlalu begitu saja. Bukankah tadi daddynya menyuruh untuk tetap disini? lantas kenapa sang daddy malah pergi keatas?
"Araa" setelah kepergian Riko, Marcell baru berani bersuara. Chayra menoleh tanpa mengatakan sepatah katapun. Didalam hatinya bertanya, kenapa Marcell ikut memanggilnya Ara seperti anggota keluarganya.
"Maafkan aku, untuk gadis yang dirumah tadi adalah anak dari teman ibu, aku membantunya sembuh dari penyakit ganasnya. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa"
"Aku tidak bertanya" jawab Chayra ketus dan memalingkan wajahnya. Marcell tersenyum saat melihat respon Chayra yang terlihat seperti sedang jealous.
"Tidak usah" lagi-lagi Chayra menjawab dengan ketus.
"Anggap saja ini sebagai tebusan permintaan maafku"
"Memangnya pegadaian harus ditebus" lirih Chayra tetapi masih didengar oleh Marcell. Marcell tersenyum dan langsung mendekat kearah Chayra dan mengacak rambut Chayra dengan gemas. Chayra semakin mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Nak Marcell silahkan mandi terlebih dahulu setelah itu kita langsung makan malam" Imelda yang baru saja didapur langsung menyuruh Marcell untuk membersihkan dirinya.
...****************...
Sedangkan dibelahan kota lain, Gibran terlihat sedang menunggu seorang gadis yang sudah beberapa hari ini selalu dipantaunya. Bahkan Gibran tidak menyuruh anak buah, melainkan dirinya sendiri langsung yang mengawasi gadis tersebut. Duduk dimobil tanpa mengalihkan pandangannya, Gibran terus tersenyum melihat betapa mulianya hati seorang gadis bernama Jasmine itu.
Jasmine menggunakan celana jeans dan hoodie berwarna hitam. Duduk disebuah pipa besi yang bertumpukan seraya mengajari anak-anak disana menjadi rutinitasya jika mempunyai waktu luang.
"Kau memang layak diperjuangkan" hati Gibran seolah sudah terpatri pada sosok Jasmine.
Melihat Jasmine yang sudah berlalu pergi, Gibran juga memutuskan untuk pergi dari sana menyusul Jasmine dan mengantarkannya diam-diam. Merasa ada yang mengikutinya, Jasmine menatap dari kaca spion. Dirinya acuh, sudah beberapa hari ini dirinya sadar jika mobil itu terus mengikutinya tapi selama mobil itu tidak mengganggunya, maka dirinya tidak akan mencegahnya.
Memasuki gerbang rumahnya, Jasmine sengaja tidak langsung masuk kedalam rumah hanya untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh penumpang mobil itu. Tapi hasilnya nihil, meskipun rumahnya terletak diujung komplek perumahan yang dekat dengan jalan raya, Jasmine sudah kehilangan jejak mobil itu.
"Sebenarnya siapa kau?" lirih Jasmine.
__ADS_1