
"Sayang" panik Gibran.
"Maaf tuan, biar kami memeriksanya terlebih dahulu" ucap Dokter kemudian Gibran langsung menjauh agar memudahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan.
"Nona Jasmine hanya syok, sebentar lagi pasti akan siuman" Gibran bernafas lega.
Sepuluh menit, setelah dokter pergi akhirnya Jasmine kembali membuka mata, mengedarkan pandangannya saat melihat hanya suaminya diruangan itu. Mommy dan daddy mertuanya sudah tak ada.
"Sayang" tidak menjawab panggilan suaminya, Jasmine menatap perutnya yang rata dan mengulurkan tangannya untuk mengelus.
"Dia pergi" lirih Jasmine dengan air mata menetes dan pandangan yang kosong.
"Tuhan akan menggantikan yang lebih baik sayang" ucap Gibran, dirinya tidak boleh lemah agar istrinya tidak semakin terpuruk.
Pintu terbuka, menampikan sosok ayah kandung Jasmine. Beliau yang baru saja dihubungi tadi pagi langsung meluncur kerumah sakit. Membatalkan semua pertemuan yang harus ia datangi hari ini, dan pergi menjenguk anaknya.
"Ayah" ucap Gibran berdiri dan mencium punggung tangan ayah mertuanya.
"Yang kuat ya" ucap ayah Jasmine dan menepuk bahu Gibran.
__ADS_1
Beralih mendekati anaknya, mengelus rambut panjang itu yang pemiliknya sangat hancur.
"Sayang, anak ayah" Jasmine hanya menoleh, masih dengan air mata yang bercucuran.
"Dia meninggalkan Jasmine ayah" lirih Jasmine dan mengelus perutnya.
"Dia tidak meninggalkanmu, dia akan digantikan dengan yang lain. Jangan seperti ini, banyak orang yang sedih ketika melihatmu seperti ini. Semua sudah digariskan" ucap ayah Jasmine dan memeluk anaknya.
"Aku sudah gagal menjaganya ayah" ucap Gibran mengusap sudut matanya.
"Semua kecelakaan, kau sudah berusaha. Jangan menyalahkan diri kalian sendiri."
Mereka berbincang, menghibur Jasmine yang masih sangat belum menerima keadaan ini. Hingga hari sudah siang dan ayah Jasmine memutuskan untuk berpamitan.
"Hati-hati ayah" ucap Gibran yang diangguki oleh sang ayah.
Gibran duduk disamping ranjang istrinya, mengelus punggung tangan sang istri.
"Sayang" panggilan Gibran tak mampu membuyarkan lamunan Jasmine.
__ADS_1
"Gibran, maafkan aku karena tidak bisa menjaga anak kita dengan baik" lirih Jasmine dengan air mata yang terus bercucuran
"Husttt, jangan bicara seperti itu." Ucap Gibran memeluk istrinya.
"Tidurlah, ingin ku peluk?" Tanya Gibran yang diangguki oleh Jasmine, Gibran langsung naik keatas ranjang Jasmine, memeluknya dengan hati-hati agar tidak mengenai bekas operasi.
"Jangan pernah menyesali semua yang terjadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri" ucap Gibran mengelus pipi istrinya yang masih basah akibat air mata.
Jasmine mulai tenang, memejamkan mata untuk beristirahat karena pengaruh obat tadi menyebabkan kantuk.
"Kakk" pintu terbuka, Chayra yang masuk bersama Marcell memanggil Gibran.
"Sssttt" ucap Gibran meletakkan jari telunjuknya dibibir agar Chayra tidak berisik. Setelah memastikan Jasmine tertidur lelap, Gibran bangkit, mengecup kening istrinya sebelum ia turun dari ranjang.
"Ini makanan untuk kakak, tadi mommy yang menyuruhku untuk membeli makanan karna makanan kakak tadi pagi pasti sudah dingin" ucap Chayra pelan.
"Iya makasih, kapan kau kesini Marcell?" Tanya Gibran basa-basi pada adik iparnya.
"Tadi pagi kak, Setelah tadi malam Chayra menghubungiku jika kak Jasmine sakit aku langsung terbang kesini." Jawab Marcell sekenanya.
__ADS_1
Gibran mengangguk, meraih makanan yang sudah dibawakan oleh adiknya dan mulai makan meskipun lidahnya terasa hambar.
"Kakk, yang kuat yaa" ucap Chayra mengelus punggung tangan kakak iparnya yang terlelap. Mengusap sudut matanya, tidak menyangka sebelumnya jika kakaknya akan mendapat ujian seberat ini. Tapi percayalah, tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya melampaui batas kemampuan hambanya. Dan Chayra percaya jika tidak butuh waktu lama lagi kakak iparnya pasti akan hamil.