Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 141


__ADS_3

"Apa penyebabnya sayang?" tanya Imelda tidak sabar seraya mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan sang suami.


"Aku akan menceritakannya nanti, sekarang istirahatlah dulu. Kasian anak kita kelelahan" jawab Riko seraya mengecup kening Imelda.


"Oh iya sayang. Apa kau tidak ingin makan dulu?" tanya Riko yang baru ingat jika sang istri belum makan dari tadi pagi. Untungnya tadi Riko membawa sandwich sehingga setidaknya sudah ada makanan yang masuk kedalam perut sang istri.


"Nanti saja sayang, setelah bangun tidur" jawab Imelda.


"Tapi pasti akan dingin, biar ku ambilkan dulu lalu aku akan membantumu makan" Riko yang hendak bangkit pun mengurungkan niatnya saat tangannya dicekal oleh Imelda.


"Tidak apa, aku akan memakannya nanti sayang." jawab Imelda dan kembali merengkuh tubuh suaminya.


"Baiklah. tapi kau harus janji akan makan setelah bangun tidur" titah Riko.


Imelda pun mengangguk dan memejamkan matanya perlahan. Sejujurnya tubuhnya juga sudah terasa lemas tapi saat melihat kondisi sahabat baiknya, Imelda mlawan rasa lelah nya itu. Tidak lama mata nya terpejam. Dengkuran halus terdengar jelas ditelinga Riko. Riko yang sebenarnya juga kelelahan pun ikut menyusul sang istri ke alam mimpi.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Imelda dan Riko pun masih setia berpelukan diatas tempat tidur tanpa membuka matanya. Sepertinya mereka benar-benar kelelahan. Sedangkan di ruang keluarga, Alvian terlihat gelisah saat melihat makanan yang dimasaknya khusus untuj sang adik belum tersentuh sama sekali.


"Kau bisa tenang tidak" ucap Andra yang sedikit geram dengan kelakuan lebay adiknya.


"Bagaimana aku bisa diam kak, makanan itu sudah dingin dan Melda belum menyentuhnya sama sekali. Apa kakak mau nanti jika disuruh masak lagi yang lebih aneh" gerutu Alvian.

__ADS_1


Ditengah obrolan para lelaki di ruang keluarga, Sandra yang menemani Dinda di kamar tamu pun sedikit lega saat Dinda sudah merespon ucapannya.


"Bolehkah Dinda memeluk mama?" tanya Dinda hati-hati. Sandra yang mendapat panggilan mama dari Dinda pun merasa bahagia, anak perempuan nya tambah satu begitu lah pikirnya.


"Tentu" jawab Sandra kemudian merentangkan kedua tangannya.


Dinda yang merasa sangat bahagia pun tidak kuasa meneteskan air matanya. Apakah seperti ini rasanya dipeluk oleh seorang ibu? tanya Dinda dalam hatinya.


"Terima kasih ma" jawab Dinda dan melepaskan pelukannya.


"Ayo keluar, berkumpul dengan yang lainnya juga. Mama akan menyiapkan makan malam untuk kita semua" ucap Sandra.


"Iya nak, Melda masih beristirahat. Mungkin dia kelelahan" jawab Sandra kemudian langsung mengajak Dinda untuk keluar.


Mereka berdua langsung menuju dapur, sebenarnya Sandra sudah menyuruh Dinda untuk tidak membantunya tapi Dinda tetap bersikeras membantunya. Dan kini Dinda hanya diberi tugas untuk mengupas buah yang akan dijadikan salad buah nanti oleh Sandra.


-----


Setelah selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Dinda yang merasa canggung pun hanya menunduk tanpa berani ikut menyahuti obrolan hangat keluarga itu.


"Nakk, Mama mau minta satu hal sama kamu" ucap Sandra pada Imelda.

__ADS_1


"Iya ma" jawab Imelda sedikit bingung.


"Mama ingin kamu tinggal disini sampai kamu melahirkan dan anak kamu sudah usia beberapa bulan. Mama ingin mengawasi kamu secara langsung. Karena mengingat perutmu semakin membesar jadi lebih baik mama yang mengawasi sendiri saat suami mu bekerja" ucapan Sandra berhasil membuat Imelda terkejut.


Imelda mau menerima tawaran mamanya, tapi dia juga harus meminta persetujuan sang suami karena dia berada dalam tanggung jawab Riko. Imelda menoleh kearah Riko dan Riko pun mengangguk. Riko sangat setuju dengan keputusan mamanya, karena itu akan lebih baik jika sang istri berada dalam pengawasan sang mertua.


"Iya ma. Melda akan tinggal disini" jawab Imelda kemudian memeluk mamanya yang sedang bahagia karena keinginannya untuk berkumpul dengan keluarga besarnya terkabul.


"Dinda juga harus tinggal disini" ucap Sandra pada Dinda hingga membuat semua orang terkejut.


"Ti-tidak perlu ma" jawab Dinda tidak enak.


"Tapi.."


"Dinda akan sering menghubungi mama dan papa dan jika Dinda merasa dalam bahaya Dinda pasti akan segera menghubungi kalian" jawab Dinda. Sejak Heru dan Sandra memutuskan untuk mengangkat Dinda jadi anak nya, mereka akan bertanggung jawab penuh atas keselamatan Dinda.


"Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada mu waktu itu?" tanya Alvian sudah tidak sabar.


"Alviannn" tegur Heru.


"Tidak apa pa. Waktu itu...." belum sampai menyelesaikan ucapanbya, bel rumah keluarga Gunawan berbunyi dan mengehntikan ucapan Dinda.

__ADS_1


__ADS_2