Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 283-S2


__ADS_3

"Apa yang kau lakukann?" Teriak Jasmine saat Venya mengambil gunting dimejanya.


"Kau tahu bu, aku ingin membunuhmu dari lama karna kau sudah menghalangi ku untuk mendapat pak Gibran, sekarang giliranku untuk menjadi nyonya Gibran." Jasmine semakin ketakutan, ia memundurkan langkahnya.


"Sayang tolong aku" teriak Jasmine histeris, beruntung tadi ia sempat menelpon Gibran jadi semoga saja panggilannya sudah tersambung.


"Hahaha, teriaklah bu. Bukankah sia-sia? Karena ruangan ini dilengkapi pengedap suara bukan? Ahh begitu nikmatnya jika suatu saat nanti aku disini dan bermesraan dengan pak Gibran" licik Venya dengan senyum jahat.


"Kauu gilaa, buang guntingmu Venyaa" teriak Jasmine masih memundurkan langkahnya.


"Ya aku memang gila karna tidak bisa mendapatkan pak Gibran"


"Auhhh" rintih Alesha saat ia terkena gunting ketika ia mencoba merampas gunting dari tangan sekertaris gila itu. Ia memang tidak mendengar teriakan Jasmine tadi, tapi Gibran menghubunginya jika ia harus masuk keruangan Jasmine secepatnya. Dan inilah yang terjadi, Jasmine hampir celaka.


Venya semakin brutal, bukannya berhenti atau takut, ia langsung berlari mencekal tangan Jasmine dan mendorongnya sekuat tenaga.


"Aaaahh" teriak Jasmine merasakan sakit yang amat sangat dibagian perutnya.


"Kak Jasminee" Alesha berlari, berniat membantu Jasmine tapi ia gagal saat Venya mendorong tubuhnya hingga ia jatuh.


"Kau diam, sebelum aku juga membunuhmu" ancam Venya


Venya mengambil apapun yang ada disana, vas bunga. Ia melempar vas itu tepat mengenai perut Jasmine dan akhirnya ia tertawa jahat.

__ADS_1


Pyarrr


Dorr


Suara pecahan vas diiringi suara tembakan, Alesha dan Venya kaget. Beberapa polisi dan Gibran sudah berdiri disana. Gibran langsung menghampiri istrinya, membopongnya karena Jasmine sudah tak sadarkan diri.


"Sayang kau tak apa?" Tanya Leo saat tadi dirinya memang rapat bersama Gibran jadi Gibran mengajaknya


"Pak urus dia, jangan sampai terlepas" ucap Gibran pada polisi.


"Leo, cepat bawa Alesha. Kita kerumah sakit sekarang"


Gibran menggendong Jasmine, begitu juga Leo yang menggendong Alesha.


Darah terus mengalir di kaki jenjang Jasmine membuat Gibran semakin murka atas perbuatan keji sekertaris istrinya itu. Ia berjanji, ia tidak akan membiarkan sekertaris itu hidup tenang karena telah mengusik hidup orang yang ia sayangi.


"Cepatt tolong istriku" teriak Gibran memenuhi loby rumah sakit. Beruntung tadi Gibran membawa anak buah jadi kini dirinya tinggal masuk kerumah sakit karena anak buahnya sudah mengurus semuanya.


"Kakk maafkan akuu" sesal Alesha terjatuh dibawah kaki Gibran, meminta permohonan maaf atas kejadian ini.


"Apa yang kau lakukan? Ini bukan salahmu, kau sudah berusaha" ucap Gibran membantu Alesha berdiri dan memeluknya.


"Obati dulu lukamu, kakak ingin menghubungi yang lainnya" Leo mengambil alih Alesha, menuntunnya keruangan yang tidak jauh disana agar tangan Alesha yang terluka bisa segera diobati.

__ADS_1


"Dokter apa yang terjadii?" Tanya Gibran panik ketika perawat berlarian mendorong ranjang istrinya.


"Maaf pak, janinnya tidak bisa diselamatkan. Kami harus melakukan tindakan secepatnya karena jika tidak, bisa membahayakan nyawa ibunya karena darah terus keluar, silahkan urus administrasi agar kami bisa secepatnya bertindak" dunia Gibran bagai runtuh seketika,


"Baik, lakukan yang terbaik dok" inilah keputusannya, melepas anaknya yang ia nantikan kehadirannya.


"Gibran apa yang terjadi sayang" Gibran menoleh, air matanya luruh begitu saja. Ia menatap sang mommy dengan datar, tapi terlihat jelas jika ia sedang terpuruk.


Imelda langsung memeluk putra nya, menguatkan bahwa semuanya yang terjadi ialah takdir yang harus mereka jalani.


"Gibran harus mengurus administrasi mom" ucap Gibran melepaskan pelukannya,


"Duduk Gibran, daddy sudah mengurus semuanya" Gibran mengangguk dan mendudukkan tubuhnya, menatap jauh keruang operasi yang berada diujung lorong.


Ia hanya diam, tapi air mata tidak berhenti menetes. "Jangan seperti ini, istrimu akan semakin sedih kalau melihat kamu lemah" ucapan Riko membuat Gibran langsung mengusap air matanya.


.


.


Jasmine masih belum membuka matanya, sudah satu jam yang lalu operasi selesai dan Jasmine masih setia memejamkan mata.


Gibran tak henti-hentinya mengecup punggung tangan istrinya, air mata pun kembali luruh saat ia mengingat bahwa ia telah gagal menjadi seorang ayah.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang" lirih Gibran entah sudah berapa kali.


__ADS_2