
Sudah hampir larut malam tapi Chayra belum juga membuka matanya. Gadis cantik cucu kesayangan di keluarga Yunanda itu terlihat masih terbaring lemah diranjang pasien dengan selang infus ditangannya. Kondisinya tidak ada yang mengkhawatirkan tapi hanya saja gadis itu seolah enggan membuka matanya.
"Ara bangun, apa kau tidak merindukan kakak?" Gibran menghapus buliran bening yang lolos dipelupuk matanya. Menoleh pada Jasmine yang berdiri dibelakangnya dan mengelus lengannya.
"Kita doakan Ara biar cepet sadar, kalo kamu nangis Ara juga akan semakin sedih" Gibran mengangguk, tak henti-hentinya dirinya mencium punggung tangan Chayra.
"Selamat malam" Gibran dan Jasmine menoleh, tersenyum bersamaan saat yang masuk kedalam ruang rawat Chayra adalah kakek neneknya.
"Kapan kalian datang?" Gibran berdiri kemudian mencium tangan mereka diikuti oleh Jasmine.
"Baru saja, dari bandara kami langsung kesini" Jawab Grandpa Heru dan mengikuti langkah istrinya yang sudah berdiri di samping ranjang Chayra dan mengusap air matanya.
"Sudah berapa lama dia tertidur?' pertanyaan Sandra membuat Heru langsung memeluk istri cantiknya meskipun sudah tidak lagi muda.
"Gadis nakal, kau membuat grandma harus kembali ke negara ini lagi saat mendengar bahwa kau kembali drop" Sandra melepaskan pelukannya dari Heru dan langsung menarik kursi untuk duduk.
__ADS_1
"Apa orang tua kalian pulang?" tanya Heru saat tidak melihat anak beserta menantunya.
"Iya, karena mereka sudah disini sejak siang tadi jadi Gibran meminta mereka untuk pulang dan beristirahat" jawab Gibran.
"Kalian pulanglah, biar grandpa dan grandma yang menjaga Ara" ucap Heru.
"Tapi.." belum sampai Gibran melanjutkan ucapannya, pintu kembali terbuka. Menampilkan sosok paman tertua beserta sang istri.
"Mama dan papa kapan sampai?" Andra menyapa terlebih dahulu dan meraih tangan mereka untuk dikecup.
"Baru saja"
"Baiklah, segera kabari kami jika terjadi sesuatu" jawab Heru.
"Gibran ayo ajak istrimu pulang" Gibran mengangguk saat Heru berbicara padanya.
__ADS_1
.
.
Hari sudah menjelang pagi, matahari juga sudah merangkak naik memancarkan cahaya hangatnya. Belum ada kabar sama sekali tentang keberadaan Marcell. Menjadi Korban pesawat atau tidaknya, semua anak buah keluarga Gunawan dan Yunanda belum menemukan titik terang. Begitu juga dengan Chayra yang seolah masih sangat malas untuk membuka mata, mata cantik itu masih terpejam dengan rapatnya.
Saat sedang berdiskusi diruang kerjanya bersama para lelaki sekaligus kepala rumah tangga, mereka dibuat diam dengan munculnya sebuah pesan yang kemungkinan memberikan petunjuk untuk menemukan titik dimana Marcell berada.
"Datanglah ke gedung X di Jl. Y arah hutan Lebat tepat diperbatasan kota. Bawa pihak keamanan dengan senjata lengkap jika kalian ingin orang yang kalian cari selamat. Jangan gegabah, penjagaan sangat ketat. Aku akan mengirimkan beberapa titik dan itu bisa kalian buat untuk patokan penjagaan" Gibran menatap satu persatu pria yang lebih tua darinya disana satu persatu.
"Ada nomor asing yang memberi petunjuk" Gibran langsung menyodorkan ponselnya agar yang lain dapat membaca dan mengetahui isi pesan itu.
"Bagaimanapun kita tidak boleh langsung percaya begitu saja, jika memang informasi itu benar apa motif nya?" Alvian menyenderkan tubuhnya disofa, mencoba memikirkan langkah yang akan diambil setelahnya.
Saat mereka sedang berpikir, suara dering ponsel kembali menyita perhatian mereka.
__ADS_1
"Kalian tidak punya waktu lama, sebentar lagi dalang dibalik semua ini akan datang dan menghabisi nyawa orang yang kalian cari. Jangan lupa hubungi pihak berwajib sebanyak-banyaknya karena mereka bukan orang biasa yang mudah ditangani. Kalian bisa mencariku melalui gelang merah yang aku pakai. Jangan membuang waktu, aku akan meminta imbalan ke kalian jadi kalian bisa mempercayaiku" Tanpa menunggu waktu lama, Riko langsung menghubungi pihak berwajib dan meminta bantuan keamanan. Sedangkan yang lain bersiap untuk memulai misi mereka.
"Gibran dan Elard kalian tidak usah ikut, jaga para wanita" Gibran mengangguk tanpa bentahan.