Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 277-S2


__ADS_3

Leo terus tersenyum, kembali melanjutkan langkahnya dengan senyum yang merekah. Bahkan ia sampai lupa bahwa tujuan ia naik tangga ialah untuk menuju kamar Elard.


"Eh" Leo menghentikan langkahnya ditengah tangga, membalikkan badan kemudian kembali naik karna ia harus kekamar sahabatnya itu. Sesampainya dilantai dua Leo kebingungan, rumah seluas ini membuat ia tidak tahu dimana letak kamar Elard.


"Bi, dimana kamar Elard?" tanya Leo pada salah satu pelayan yang berada dilantai dua.


"Kamar tuan Elard ada dilantai tiga tuan" ucap pelayan itu, Leo melongo.


"Astagaa, satu tangga lagi" jawab Leo menghembuskan nafasnya.


"Maaf tuan, kan ada lift" ucap pelayan itu seraya menunjuk lift yang ada diujung. Leo tersenyum, segera berlalu karena ia merasa malu.


Dibawah, pelukan dan berbagai ucapan selamat didapatkan oleh Jasmine. Ia tidak menyangka bahwa kehamilannya yang pertama mendapat respon baik dari keluarga barunya. Kekuarga yang baru saja ia temui secara lengkap kemarin.


"Ceritakan keluh kesahmu dengan kami ya Jasmine, bilang sama mommy jika kau ingin makan sesuatu" entah sudah berapa kali Jasmine mendengar ucapan seperti ini, bukan hanya dari mertuanya tapi para paman dan bibinya.


Jasmine menitikkan air matanya haru, menatap sosok ibu mertuanya yang sangat baik padanya. Imelda peka, segera merentangkan tangannya dan Jasmine masuk kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Gibran, ikut mama sebentar" Gibran mengangguki ajakan Dinda, segera berdiri dan mengikuti langkah Dinda menuju ruang kerja dokter dirumah ini yang sudah disiapkan dengan berbagai peralatan lengkap.


"Baca" Gibran melongo saat ia baru saja mendudukkan tubuhnya tapi sudah disuguhi buku setebal itu.


"Buku itu menjelaskan tentang ibu hamil" ucap Dinda saat melihat Gibran ingin membantah.


"Setebal ini?" heran Gibran.


"Nanti mama akan menjelaskan poin-poinnya itu bisa kau baca pelan-pelan saja" Gibran mengangguk, menutup kembali bukunya dan bersiap mendengar penjelasan istri pamannya itu.


"Apa semua ibu hamil seperti itu?" tanya Gibran.


"Tidak juga, tapi jangan terlena" Gibran mengangguk, membuka kembali buku tebal itu dan mengolak-aliknya.


"Ma, seperti apa permintaan konyol ibu hamil? emm satu contoh mungkin?" tanya Gibran ingin mempersiapkan mentalnya.


"Yang sering dijumpai, seperti meminta makanan asam, meminta sesuatu ditengah malam, meminta suami mengambilkan mangga dipohonnya langsung, dan banyak lagi hal konyol lainnya" Gibran membelalakkan matanya,

__ADS_1


"Lebih baik menuruti ditengah malam daripada mengambil mangga dipohonnya" lirih Gibran yang disambut gelengan kepala oleh Dinda.


"Kau tidak bisa seperti itu, itu bawaan bayi." jawab Dinda.


Gibran meneguk ludahnya kasar, membayangkan saja ia tidak mampu apalagi mengalaminya secara langsung? ah semoga istrinya tidak mengidam yang aneh-aneh seperti ibu hamil lainnya.


"Bawa saja buku itu, kau bisa membacanya kapanpun" ucapan Dinda segera diangguki oleh Gibran


"Ma, apa boleh melakukan hal itu?" tanya Gibran sedikit ragu.


Dinda terkikik, membuka dan menunjukkan halaman dibuku itu yang menjelasakan tentang pertanyaan yang dilontarkan Gibran. Gibran tersenyum puas, membaca awalnya saja ia sudah sebahagia ini.


"Selamat berjuang menjadi ayah" ucap Dinda menepuk pelan bahu Gibran dan berlalu keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


SUBSCRIBE yt : HAI ZA YOKKK😘

__ADS_1


__ADS_2