
"Apa aku boleh meminta nomor ponselmu?" Melawan segala kegugupannya, Marcell menyodorkan ponselnya tanpa menatap Chayra sama sekali. Jauh dari ekspetasi Marcell, Chayra langsung menuliskan nomor teleponnya.
"Terima kasih atas tumpangan dan makan siangnya, Ini helm mu" Chayra langsung menyodorkan helm yang dipakainya tadi pada Marcell.
"Untukmu saja, Aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu lain waktu" Marcell langsung melajukan motornya tanpa menunggu jawaban Chayra. Chayra menatap helm yang ada ditangannya seraya tersenyum lebar.
...****************...
Gibran langsung memasuki rumah minimalis yang akan ditinggalinya selama di kota ini, Gibran sengaja tidak membeli rumah besar karena itu akan menyulitkan misinya. Supir membantu Gibran menurunkan barang-barang Gibran dan meletakkan didalam rumah tersebut.
"Bapak sudah bisa kembali, sisanya biar saya sendiri yang membereskannya.Dan ini untuk keluarga bapak" Gibran menyodorkan sepuluh lembar uang seratus ribuan pada sang supir sebagai tips.
"Terima kasih tuan" Sang supir sangat berterima kasih bisa dipertemukan dengan keluarga Yunanda, selain mereka baik mereka juga sering memberi tips pada para pekerjanya.
Setelah kepergian supir, Gibran menelisik setiap sudut rumah barunya itu. Meskipun kecil, tapi sangat nyaman jika digunakan untuk tempat tinggal. Gibran mendudukkan tubuhnya disofa minimalis tersebut dan menghubungi orang tuanya untuk memberi kabar jika dirinya sudah sampai.
__ADS_1
Setelah menghubungi kedua orang tuanya, Gibran merebahkan tubuhnya diranjang yang ada didalam kamarnya. Baru saja memejamkan matanya, Gibran dibuat terkejut dengan dering ponselnya.
"Halo kak" mendengar suara cempreng nan manja tersebut membuat Gibran tersenyum.
"Iya Ara"
"Apa kak Gibran sudah sampai? bagaimana tempat tinggal kakak apa sesuai dengan gambar? apa tempatnya nyaman?" Chayra langsung melontarkan banyak pertanyaan.
"Iya kakak sudah sampai, dan tempatnya juga nyaman kau cerdas memilihnya" Gibran tersenyum saat mengingat adiknya itu sangat antusias saat memilihkan dirinya tempat tinggal kemarin melalui agen properti kemarin.
"Ara sudah merindukan kakak" Gibran tertawa saat melihat wajah ditekuk adiknya, beruntung saat ini mereka melakukan panggilan video jadi Gibran bisa melihat wajah menggemaskan adiknya itu.
"Ishh kakak, Eh kak tadi Ara makan siang bersama pria tampan, dia sangat baik. Apa kakak tahu? tadi dia mengajakku naik motor bahkan dia membeli helm baru untukku karena dia hanya membawa satu helm." Wajah Gibran yang semula tersenyum langsung kembali datar dan menatap wajah bahagia Chayra dari layar ponsel.
"Hati-hati dengan orang asing Ara" ucap Gibran tegas. Chayra mendengus, sejak kejadian dua tahun lalu seluruh anggota keluarga Yunanda maupun Gunawan sangat posesif padanya.
__ADS_1
"Kak dia orang baik, tadi saja waktu aku makan siang aku bertemu dnegan daddy. Dan daddy tidak marah" Gibran terkejut, biasanya Chayra akan takut jika sang daddy mengetahui jika dirinya dekat dengan seorang pria tapi kini Chayra terlihat santai.
"Daddy?" dahi Gibran mengernyit heran.
"Ehh sudah ya kak, Ara mau tidur. Assalamualaikum kakak tampan dan dinginku" Chayra langsung memutus sambungan teleponnya saat melihat raut wajah aneh dari Gibran. Chayra tahu jika sang kakak tidak akan tinggal diam jika ada yang mendekatinya apalagi orang tersebut berniat mencelakainya.
"Marcell orang baik jadi tidak mungkin dia mau mencelakaiku. Jika dia berniat mencelakaiku pasti tadi dia sudah melakukannya. Ahh kak Gibran sangat posesif" gumam Chayra didalam hati dan langsung memejamkan matanya untuk menjemput mimpi di siang bolongnya.
Sedangkan ditempat lain, Gibran mencoba mencari tahu siapa pria yang dimaksut Chayra. Karena tidak mengetahui namanya, Gibran memutuskan untuk bertanya pada Elard, mungkin saja bocah tengil itu mengetahui sesuatu.
"Halo kakk?" sapa Elard saat sambungan sudah terhubung
"Elard apa kau tahu siapa pria yang dekat dengan Ara dikampus?" tanya Gibran langsung pada intinya.
"Oh Marcell, tenang kak dia orang baik. Dia sering mewakili kampus dalam perlombaan dan kakak tidak perlu khawatir karena aku sudah menyelidiki semuanya tentang Marcell dan menurut ku Marcell irang baik. Bahkan dia sering melindungi Chayra" mendengar penjelasan Elard, membuat kekhawatiran didiri Gibran seakan hilang. Tapi Gibran tidak gegabah, Gibran juga masih memantau Chayra.
__ADS_1
"Baiklah terima kasih, aku percayakan Chayra padamu" setelah mengatakan hal tersebut, Gibran langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Tidak adik, tidak kakak, semuanya menyebalkan" gerutu Elard diseberang setelah Gibran mematikan sambungan teleponnya begitu saja.