Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 143


__ADS_3

"Mari nona" ucap pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam tak lupa kacamata yang bertengger dihidung mancungnya.


"Sebentar, saya akan mengambil ponsel saya di papa saya" belum sempat melangkahkan kakinya, suara pelayan terdengar memanggil.


"Nona, ini ponsel anda" ucap pelayan.


"Papa dimana bi?" tanya Dinda karena semakin merasa aneh saat papa nya tidak muncul.


"Tu-tuan sedang beristirahat nona" jawab pelayan tersebut gugup.


"Baik. Titip papa ya bi" jawab Dinda kemudian langsung menaiki mobil hitam yang digunakan untuk menjemput dirinya itu.


Selama perjalanan, hanya ada keheningan diantara sopir, pengawal dan Dinda itu. Dinda yang sibuk dengan pikirannya hanya menatap kearah luar.


"Nona kita sudah sampai" ucap Pelayan menyadarkan Dinda yang masih melamun.


"Baik" jawab Dinda dan langsung turun kemudian berjalan memasuki hotel. Setelah menyusuri lorong dan menaiki lift, Dinda sampai di depan kamar nomor 143A. Dengan ragu, Dinda pun mengetuk pintu. Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok pria paruh baya yang tak lain adalah Jek.

__ADS_1


"Sangat cantik" gumam Tuan Jek sangat pelan.


"Silahkan masuk" ucap Tuan Jek dan langsung menarik tangan Dinda mengajaknya masuk kedalam.


"Terima kasih" jawab Dinda berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Tuan Jek.


"Ah maaf, aku terlalu terpesona hingga tidak bisa mengontrol diriku" mendengar ucapan Tuan Jek, Dinda semakin merasa tidak enak. Dinda pun hanya bisa berdoa didalam hatinya semoga tidak terjadi apa-apa.


"Bisakah kita mulai Meeting nya Tuan" ucap Dinda karena sedari tadi Tuan Jek terus menggoda dirinya bahkan kini duduknya semakin mepet kearah Dinda.


"Kenapa pintunya dikunci tuan?" ucap Dinda heran kenapa Tuan Jek mengunci pintu.


"Iya. Agar tidak ada pengganggu" jawab Tuan Jek dengan senyum menggoda.


Tuan Jek langsung mendekat dan duduk tepat disamping Dinda. Sesekali tuan Jek mengusap pipi Dinda hingga membuat Dinda ketakutan.


"A-apa yang ingin kau lakukan" bentak Dinda ketakutan dengan air mata mulai tumpah.

__ADS_1


"Mulai meeting sayang, bukankah kau sudah tidak sabar, kita akan mempertemukan milik kita." jawab Tuan Jek dengan tangan yang terus bergerilya.


"Lepaskann" teriak Dinda mencoba terlepas dari Tuan Jek.


"Aku sudah membeli mu dengan sangat mahal di orang tuamu. Tidak mungkin aku membuang uangku sia-sia kan. Orang tua mu sudah bersenang senang di luar negeri bahkan meninggalkanmu disini. Tidak usah sedih, karena aku akan memberikanmu hadiah nanti setelah memuaskanku." jawab Tuan Jek mulai menggapai resleting gaun Dinda.


Seperti dihantam, Dinda tidak menduga jika sang ayah tega menjual dirinya. Tangisnya pun semakin pecah.


"Heyy jangan menangis, aku akan memberimu kenikmatan yang belum pernah kau rasakan. Kita akan menikmati pagi dengan indah" ucap Tuan Jek mulai bergerilya. Tangannya mulai tak bisa dikondisikan. Mulai meremas bagian atas tubuh Dinda yang masih dibawah balutan dres itu.


"Kumohon lepaskan aku" ucap Dinda terus mendorong Tuan Jek tapi usahanya sia-sia karena tenaga nya tidak sebanding dengan tenaga pria paruh baya itu.


Seakan membisu, Tuan Jek sama sekali tidak menghiraukan teriakan Dinda. Tapi tindakannya terhenti saat mendengar suara ponselnya berbunyi. Awalnya tidak dihiraukan karena terus berbunyi, akhirnya Tuan Jek langsung bangkit dan mengambil ponselnya dan melihat sang pemanggil. Saat melihat nama istri pertamanya, Tuan Jek langsung pergi ke kamar mandi untuk mengangkat telepon.


Melihat Tuan Jek pergi begitu saja, Dinda langsung mengambil ponselnya dan itu bertepatan dengan panggilan masuk dari Imelda. Dengan cepat Dinda mengirim lokasi nya pada Imelda sebelum mengangkat teleponnya. Di pikirannya, jika nanti tiba-tiba Tuan Jek keluar dan merampas ponselnya, setidaknya dia sudah mengirimkan lokasinya pada Imelda dan berharap Imelda bisa membantunya.


*Flashback Off*

__ADS_1


__ADS_2