
"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter yang baru saja keluar setelah memeriksa keadaan Dinda.
"Iya dok, saya kakaknya. apa yang terjadi pada adik saya dok? apa ada luka atau penyakit serius?" tanya Andra dengan wajah dinginnya.
"Pasien hanya mengalami tekanan sehingga menyebabkan stres kemudian kekurangan cairan. Pasien bisa langsung dibawa pulang jika cairan infusnya sudah habis" jelas Dokter tersebut.
"Baik terima kasih dok" jawab Andra.
"Sama-sama, saya permisi dulu" ucap Dokter tersebut dan langsung berlalu. Dan Andra pun langsung masuk kedalam seraya menunggu yang lain datang.
"Kenapa kau bisa seperti ini? ini kedua kalinya aku mengetahui kamu stres sampai pingsan" ucap Andra yang duduk disamping ranjang Dinda seraya bersedekap dada.
Dinda mengerjapkan matanya, pertama dilihatnya adalah wajah tampan Andra yang sedang menemaninya tapi masih tetap memasang wajah dinginnya.
"Kakk" panggil Dinda lirih.
"Ya, apa kau mau sesuatu?" tanya Andra datar.
"Minum" jawab Dinda masih terdengar lemas
Andra pun dengan sigap membantu Dinda minum sampai suara pintu terbuka mengejutkan mereka. Menampilkan Heru, Sandra, Alvian dan Vani yang baru saja datang sedangkan Riko dan Imelda tidak ikut karena mereka sedang menemani Dian dan Tomi dirumah utama.
__ADS_1
"Dindaaa, kenapa nakk? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sandra panik.
"Dinda nggak papa ma" jawab Dinda seraya tersenyum.
"Sudah terlihat jelas stres masih saja mengelak" gerutu Andra dengan sangat pelan tapi masih bisa didengar oleh yang lain.
"Nanti kamu harus cerita ya din" ucap Vani seperti seorang ibu memarahi anaknya dan Alvian pun menjadi gemas dengan kekasihnya itu.
"Iya" jawab Dinda.
"Kapan bisa pulang?" tanya Dinda menatap Andra.
"Sebentar lagi, menunggu cairan infus mu habis" jawab Andra dengan wajah dinginnya.
"Coba ceritakan apa yang terjadi nak" ucap Heru saat semua sudah berkumpul di ruang keluarga sesudah makan malam.
"Waktu itu..."
FLASHBACK ON
"Waalaikumsalam" jawab kedua orang tua Wahyu serempak.
__ADS_1
"Kenalkan ini Dinda ma, pa, dokter kandungan di rumah sakit GNW hospital's ni yang Wahyu ceritain ke mama dan papa waktu itu" ucap Wahyu saat sudah sampai di depan orang tuanya kemudian menyalami mereka berdua bergantian.
"Saya Dinda nyonya" sapa Dinda sopan kemudian ikut menyalami tangan kedua orang tua Wahyu.
"Oiya duduk" jawab Tessa, mama Wahyu.
"Ma, pa, Wahyu kekamar dulu ya, mau ganti baju" pamit Wahyu.
"Iya nak" jawab Tessa lembut.
"Orang tua kamu bekerja apa?" tanya Dion, papa Wahyu setelah memastikan Wahyu sudah masuk kedalam kamar.
"Maaf tuan, tapi saya sudah tidak mempunyai orang tua" jawab Dinda sopan. Bukannya Dinda tidak mau mengakui sang ayah tapi rasa kecewa nya melebihi rasa sayangnya untuk Hans.
"Lalu kau tinggal dimana?" tanya Tessa menatap Dinda dari bawah keatas.
"Saya tinggal di apartment kecil didekat rumah sakit nyonya" jawab Dinda sedikit tidak nyaman dengan tatapan aneh Tessa
"Mama dan papa tanya apa ke Dinda kok kelihatannya serius sekali" tanya Wahyu yang baru saja selesai mengganti pakaian polisinya dengan baju casual.
"Wahyu, papa dan mama ingin bicara denganmu. Ikut papa keruang kerja" ucap Dion kemudian langsung berdiri diikuti Tessa dibelakangnya.
__ADS_1
"Sayang kamu disini sebentar ya" ucap Wahyu pada Dinda yang dijawab anggukan oleh Dinda.