
"Saya yang akan menjadi wali nikah Jasmine" semua menoleh, menatap pria paruh baya yang baru saja datang. Mama Jasmine terkejut, tetapi tidak demgan yang lainnya yang masih menerka-nerka siapa pria patuh baya itu.
"M-mas Haris" mama Jasmine menutup mulutnya, seraya berjalan menuju pria yang diduga bernama Haris itu dengan wajah yang terkejut.
"Anda siapa?" Tanya penghulu.
"Saya ayah kandung Jasmine, cepat mulai pak. Saya harus kembali setelah ini" Baik Jasmine maupun Gibran saling pandang dengan raut wajah keheranan. Berbeda dengan mama Jasmine yang terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.
"M-mas dia anakku kau tidak berhak menjadi wali nikahnya" teriak mama Jasmine seraya mencoba menarik lengan Haris yang sudah duduk disamping penghulu atau lebih tepatnya didepan Gibran.
"Lalu apa suami mu itu berhak? Disini saya ayah kandung Jasmine yang sebenarnya. Saya yang mempunyai benih hingga muncul Jasmine. Tidak ada yang berhak menjadi wali nikah Jasmine selain saya" tegas Haris dengan lantang.
"Tapi aku yang membesarkannya dengan suamiku mas, dia yang lebih berhak menentukan hidup Jasmine" bantah mama Jasmine.
__ADS_1
"Jika kau tidak meninggalkanku saat aku tidak mempunyai apa-apa dulu, Jasmine akan hidup dan tumbuh besar dengan dampinganku. Kau lebih memilih pria itu karena dia lebih kaya dariku saat itu. Jelas-jelas kau tahu jika kau hamil karena berhubungan denganku tapi kau mengaku pada keluarga pria itu jika kau hamil dengan pria itu. Bahkan jelas-jelas kita sudah menikah tapi kau mengaku pada keluarga pria itu jika kau masih single. Jadi berhentilah. Sekarang tidak ada yang bisa menghalangiku untuk menjadi wali di pernikahan sakral putriku" bentak Haris dengan tatapan tajam. Mama Jasmine terduduk lemas, rahasia yang sudah disimpannya rapat-rapat selama 20 tahun lebih terbuka dengan tidak terduga. Bahkan putrinya kini menatap dirinya dengan tatapan kecewa.
"Baik mari kita mulai acara akadnya" Penghulu langsung menarik tangan Haris dan dijabatkan dengan Gibran. Gibran hanya menurut sedangkan Jasmine yang mendengar setiap perdebatan mama dan pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya hanya menunduk. Meremas kuat ujung kebayanya.
"Siapa nama anda?" Tanya penghulu pada Gibran.
"Ryuichi Gibran Squelle" Haris tersenyum sedangkan Jasmine tidak terlalu mendengar karena dirinya masih tenggelam dengan rasa kecewanya. Begitu juga dengan mama Jasmine yang tidak mendengar jelas siapa nama asli Gibran karena dirinya sudah berjalan menjauh dari tempat prosesi akad.
"Sahh" kalimat itu membuat sepasang pengantin tersenyum bahagia. Gibran menyematkan cincin dijari manis Jasmine kemudian mengecup keningnya.
"Selamat atas pernikahan kalian. Gibran saya titipkan anak om kepadamu. Om harus pergi" Gibran mengangguk sedangkan Jasmine yang masih belum bisa menerima hal ini hanya menatap punggung ayah kandungnya yang berjalan keluar dari rumahnya.
"Ayo" Gibran langsung menarik tangan Jasmine untuk keluar dari rumah itu, Jasmine hanya menurut. Tidak ada lagi yang membuatnya bertahan dirumah ini. Semua mengecewakan, bahkan orang tuanya yang membesarkannya tega menjual dirinya.
__ADS_1
"Gibran, barang-barangku" Jasmine mencekal tangan Gibran yang berjalan lebih dulu.
"Nanti biarkan orangmu yang mengantarkannya kerumahku" Gibran kembali menarik tangan istrinya itu.
Pengantin baru itu menaiki motor, angin malam yang menusuk seolah tidak bisa mengalahkan hangatnya suasana pengantin baru. Jalanan yang sepi membuat mereka tidak perlu terjebak macet. Tidak butuh waktu lama, motor Gibran memasuki rumah satu lantai yang ditinggali Gibran selama disini.
"Duduklah aku buatkan teh hangat untukmu" ucap Gibran seraya menyuruh Jasmine untuk duduk disofa minimalisnya.
"Gibran aku istrimu jadi tidak pantas jika suaminya yang melayani" Jasmine langsung berlalu kedapur dan mengambil air dan teh.
10 menit berlalu, Jasmine kembali keluar dengan membawa dua gelas teh diatas nampan "Silahkan" ucap Jasmine dan duduk disamping Gibran.
Aroma dan kepulan asap seolah membuat tubuh mereka menghangat.
__ADS_1