Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 166


__ADS_3

"Kak" Andra yang ingin masuk kedalam mobil menghentikan langkahnya saat mendengar ada yang memanggilnya dan Andra pun menoleh.


"Mengapa kau disini?" Andra bertanya dengan wajah datarnya.


"Aku ingin makan siang dan tidak sengaja melihatmu jadi aku memutuskan untuk menyapa terlebih dahulu. Apa kamu juga selesai makan siang?" wanita tersebut yang ternyata adalah Dinda menjelaskan bagaimana dia bisa bertemu Andra.


"Tidak"


"Lalu?" Dinda bertanya dengan wajah bingung.


"Aku hanya bertemu klien" jawab Andra acuh.


"Oh, kalau begitu aku permisi kak" Dinda langsung berlalu meninggalkan Andra yang masih terbengong.


"Glen, mengapa dia tidak mengajakku?" tanya Andra pada sang sekretaris hingga Glen pun dibuat bingung dengan pertanyaan bosnya itu.


"Kenapa anda tidak menyusulnya saja pak? mungkin saja alasan Bu Dinda tidak mengajak anda karena beliau berpikir anda sedang sibuk" Glen menjawab sekenanya.


"Apakah begitu? baiklah aku akan menyusulnya" Andra langsung kembali masuk kedalam restoran dan Glen pun semakin dibuat bingung dengan kelakuan aneh bosnya.


Sedangkan Glen yang juga lapar langsung ikut masuk kedalam restoran, dia memilih duduk tidak jauh dari sang bos agar jika sang bos berdiri dia akan tahu.


"Mengapa kau menyusulku kak?" pertanyaan Andra berhasil membuat Andra menjadi gugup.

__ADS_1


"Aku hanya lapar dan aku memutuskan untuk makan disini sekalian" jawab Andra setelah menguasai gugupnya.


"Oh" Dinda menjawabnya dengan manggut-manggut tanda mengerti.


Menunggu pesanan mereka, mereka hanya diam dengan kesibukan mereka masing-masing. Baik Dinda maupun Andra sedang bermain ponsel.


"Permisi, silahkan pesanan anda" dengan sopan, pelayan menyajikan apa yang dipesan oleh kedua manusia itu.


"Terima kasih" jawab Dinda sopan sedangkan Andra hanya memasang wajah datarnya.


"Selamat makan" ucapan Dinda terdengar lembut ditelinga Andra.


"Apa yang terjadi denganku" gumam Andra didalam hati.


"Makan dulu Dinda" ucap Andra terdengar tegas dan mengelap saus yang ada diujung bibir Dinda.


Andra yang sadar dengan kelakuannya langsung menarik tangannya, gugup. Andra benar-benar tidak sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya.


"Maaf" agar tidak terjadi kesalah pahaman, Andra meminta maaf pada Dinda yang masih terkejut itu.


"I-iya kak" bukan hanya Andra yang gugup, Dinda pun juga.


"Haduhh kenapa dengan jantungku" gumam Dinda didalam hati.

__ADS_1


"Bolehkah saya ikut gabung?" saat Andra dan Dinda masih mencoba mengontrol rasa gugup mereka, mereka dikejutkan oleh suara seorang wanita yang berdiri disebelah Andra. Baru saja Dinda akan menjawabnya, Andra sudah lebih memotongnya.


"Tidak" jawab Andra dengan nada acuh dan wajah dinginnya.


"Baiklah, saya harap lain waktu kita bisa makan berdua pak Andra" Karena merasa malu, wanuta tersebut langsung pergi setelah mengucapkan hal itu. Dinda tiba-tiba merasa sesak didadanya saat mendengar wanita tersebut mengajak Andra untuk makan berdua. Dinda merasa aneh pada dirinya sendiri.


"Apa kau mengenalnya kak?" meskipun kesal, Dinda mencoba tenang agar Andra tidak mengetahuinya.


"Aku tidak tahu namanya, tapi dia adalah klien ku tadi yang ku temui direstoran ini" jawab Andra masih dengan wajah datarnya.


Mendengar penjelasan Andra, Dinda merasa lega dan juga sedikit kesal karena Andra menjelaskan seolah-olah Andra ingin mengetahui namanya.


"Apa kau ingin mengetahui namanya kak?" Tanya Dinda berusaha tenang.


"Tidak. Bahkan kuharap aku tidak akan pernah bertemu dengan nya lagi, aku benar-benar muak dengan wanita seperti itu" Dari jawaban Andra, Dinda bisa memastikan jika Andra tidak menyukai wanita tadi.


"Ehh kenapa aku jadi sensi seperti ini? bukankah itu bagus jika kak Andra bisa menemukan pendamping hidupnya. Tapi kenapa aku seperti sakit saat mengetahui ada wanita yang mendekati kak Andra. Apa aku suka dengan kak Andra? Tidak tidak tidak boleh Dinda kau tidak boleh suka dengan kak Andra. Keluarganya sudah banyak membantumu jadi tidak pantas jika kau menyukai anaknya" gumam Dinda didalam hati seraya menepuk-nepuk kepalanya.


"Dinda apa kau baik-baik saja?" Andra bertanya dengan nada sedikit khawatir


"Hah iya kak, Aku baik-baik saja" jawab Dinda sedikit terbata.


...****************...

__ADS_1


Ditempat lain, Imelda dibuat lelah karena ulah Riko yang seakan tidak mau berhenti melakukan kegiatan panas tersebut.


__ADS_2