
"Tolongg" teriak Bu Jiem, tetangga yang paling dekat dengan keluarga Nesya.
"Ninaa" Ibu Nesya langsung berlari dengan tertatih diikuti oleh yang lain dibelakangnya sedangkan Alvian mengurus Gito yang sudah setengah sadar karena dihajar oleh Alvian.
"Apa mau mu?" Tanya Alvian dingin.
"Beri aku uang maka aku tidak akan mengganggu keluarga ini lagi" ucap Gito dengan tidak tahu malunya.
"Berapa nomor rekeningmu?" Tanya Alvian seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Gito pun menyebutkan nomor rekeningnya. Tidak lama terdengar suara dering ponsel di hp Gito tanda pemberitahuan pesan masuk. Meskipun tangannya sakit, Gito tetap meraih ponselnya dan betapa terkejutnya dia melihat nominal yang tertera.
"Kurasa itu cukup untuk mu. Jika kau masih mengganggu Ibu Nesya dan Adiknya jangan harap kau akan tetap hidup" ucap Alvian dan langsung pergi menyusul yang lainnya di kamar almarhumah Nesya.
"Apa yang terjadi kak?" Tanya Alvian pada Andra yang berdiri didekat ranjang seraya melihat para ibu-ibu yang sibuk membantu Nina sadar.
"Dia pingsan. Mungkin karena kelelahan dan tertekan dengan kedatangan ayahnya" jawab Andra tanpa menoleh kearah Alvian.
Karena hari sudah mulai larut, akhirnya Andra dan Alvian memutuskan untuk pulang setelah mengikuti doa bersama di rumah Nesya.
__ADS_1
Hari ini adalah hari ketujuh meninggalnya Nesya, keluarga Gunawan disibukkan dengan acara persiapan mengaji mengenang tujuh hari kepergian Nesya. Selama tujuh Hari ini, Andra menjadi lebih pendiam dan hanya bicara seperlunya saja. Semua orang bisa merasakan jika Andra sangat terpukul dengan kepergian kekasihnya.
Kini jam sudah menunjukkan pukul empat sore, semua anggota keluarga memutuskan untuk membersihkan tubuh mereka sedangkan pekerjaan yang belum selesai dilanjutkan oleh para pelayan.
Imelda yang sudah sangat kelelahan pun akhirnya memutuskan untuk berbaring sebentar sebelum membersihkan tubuhnya. Akibat terlalu lelah, akhirnya Imelda pun tertidur. Tidak lama, pintu terbuka dan munculah sosok laki-laki tampan dengan pakaian kantornya. Siapa lagi kalau bukan Riko.
Melihat wajah damai istrinya saat tidur, membuat rasa lelah yang dirasakannya seolah memudar begitu saja. Setelah meletakkan tas dan jasnya disofa, Riko langsung ikut berbaring disamping Imelda dan merengkuh tubuh yang sedikit berisi itu. Riko mengecup kening Imelda lama. Menyalurkan kerinduan yang beberapa hari ini mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Dengan susah payah Riko meneguk ludahnya karena tidak sengaja melihat gundukan favoritnya karena baju yanh digunakan Imelda sedikit terbuka.
Karena tidak ingin membangunkan istrinya, Riko berusaha menahannya dan berencana untuk menyalurkannya nanti malam. Tapi usahanya gagal saat Imelda terbangun karena merasakan nafas berat Riko dirambutnya.
"Iya sayang. Tidurlah" jawab Riko dengan suara seraknya karena menahan hasrat.
"Ayo melakukannya" ajak Imelda karena tidak tega melihat Riko seperti itu.
"Tapi say-" belum sampai Riko melanjutkan ucapannya, Imelda sudah lebih dulu mengecup bibir Riko singkat. Awalnya hanya satu kecupan, tapi Riko menahan tengkuk Imelda hingga mereka saling ******* sampai nafas mereka tersengal.
Riko melepaskan pagutannya dan mengusap bibir itu dengan jarinya. Riko tersenyum kemudian langsung melancarkan aksinya dan sore ini menjadi sore panas bagi pasutri itu.
Setelah pergulatan panas itu, mereka berdua langsung bergegas mandi untuk bersiap turun karena jam sudah menunjukkan pukul 6 petang. Mereka memutuskan untuk turun dan ternyata dibawah sudah banyak karpet yang digelar dan banyak camilan yang tersebar.
__ADS_1
"Sayang aku akan kedapur menghampiri mama" ucap Imelda saat melihat Sandra dan Dian sedang sibuk di dapur.
"Iya sayang aku juga akan menemui papa" jawab Riko kemudian mencium kening Imelda. Imelda pun langsung berlalu menuju dapur.
"Sayang" ucap Dian dan langsung memeluk Imelda kemudian menghadiahkan kecupan dikeningnya, Sandra pun ikut tersenyum saat melihat Dian sangat menyayangi putrinya.
"Mama apa kabar?" Tanya Imelda sopan.
"Mama baik kok sayang, kamu gimana? Kelihatannya semakin berisi ya apa jangan-jangan sudah ada dia ya mbak" jawab Dian seraya mengedipkan sebelah matanya kepada Sandra seraya menunjuk perut Imelda dengan dagunya.
"Melda baik kok ma. Maaf ya ma Melda belum bisa ngasih cucu buat kalian" jawab Imelda sendu.
"Nggak papa sayang. Kan masih bisa setiap hari untuk membuatnya" goda Sandra kemudian terkikik bersama Dian saat melihat wajah memerah Imelda.
🌸🌸🌸
Haii maaf banget ya autho ngilang nya lama soalnya author disibukin sama tugas kuliah. Jadi author mohon sama kalian agar memaklumi author karena author sendiri juga masih harus berjuang di dunia nyata😁Author kan masih kecil ya jadi kesinggung banget saat ngebaca komen kalian bahkan ada yang sangat sangat menjatuhkan author.😭 Tolong yaa mulutnya disaring biar nggak buat orang lain sakit hati😘Kalian yang ngehujat author tuh udah punya karya belum ?
Doain author biar bisa up banyak secepatnya😚
Author sayang kalian jangan lupa VOTE, LIKE, AND KOMEN❤
__ADS_1