
"Sayang kamu disini sebentar ya" ucap Wahyu pada Dinda yang dijawab anggukan oleh Dinda.
Wahyu langsung menyusul oramg tuanya yang sudah masuk kedalam ruang kerja. Perlahan Wahyu membuka pintu dan mendorongnya. Dilihatnya orang tuanya yang duduk di sofa yang ada diruang kerja tersehut.
"Wahyu duduk" ucap Dion dan Wahyu pun langsung duduk didepan kedua orang tuanya.
"Ada apa pa, ma?" tanya Wahyu heran.
"Apa kamu yakin dengan kekasihmu itu? bisa saja dia mendekati kamu hanya untuk popularitas saja" ucap Dion tenang.
"Kenapa papa bicara seperti itu?" tanya Wahyu seraya menaikkan kedua alisnya dan memandang Dion dan Tessa bergantian.
"Papa hanya tidak ingin kamu menikah dengan orang yang salah, jika kau ingin menikah dengan seorang dokter papa bisa mencarikan untukmu yang jelas bibit bebet dan bobotnya" ucap Dion tegas dan terdengar ada suara benta jatuh dari arah luar.
"Mama akan melihatnya" jawab Tessa dan langsung berlalu keluar.
"Pa, harta tidak menjamin seorang bahagia" bantah Wahyu tak kalah tegasnya.
"Papa hanya ingin yang terbaik buat kamu" bentak Dion tersulut emosi.
Wahyu yang sudah sangat marah dengan Dion pun langsung keluar dan betapa terkejutnya dia saat melihat mama nya yang memarahi Dinda.
"Mamaaa" panggil Wahyu kemudian berlari meraih tangan Tessa yang akan melayangkan tamparan untuk Dinda.
__ADS_1
"Saya memang orang tidak punya nyonya. Tapi saya tidak pernah berniat masuk ke keluarga ini hanya karena harta. Saya tulus mencintai Wahyu." Ucap Dinda dengan berderaian air mata.
"Ada apa ini" tanya Dion yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Liat pa, baru sehari dia disini tapi sudah membuat rusuh. Dasar tidak tau diri" ucap Tessa.
"Ma" bentak Wahyu.
"Ohh karena wanita jalang ini kamu sudah berani membentak mama. Jangan harap mama merestui hubungan kalian" Ucap Tessa.
"Saya sudah tidak butuh restu nyonya, saya juga tidak akan menikah dengan Wahyu sesuai dengan apa yang Tuan dan Nyonya inginkan. Terima kasih atas sambutan yang tidak menyenangkan ini" jawab Dinda yang ingin pergi tapi tangannya dicekal oleh Wahyu.
"Assalamualaikum tantee, om" ucap gadis seksi yang baru saja datang dengan jas dokter ditangan kirinya.
"Dokter Dinda" ucap Dokter tersebut berpura-pura terkejut.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Dion.
"Tentu om, dia dokter kandungan dirumah sakit tempat Novi bekerja" jawab dokter Novi tersebut.
"Sayang" Ucap Novi seraya menghampiri Wahyu yang memeluk Dinda. Sedangkan Dinda dibuat terpana dengan panggilan yang dilontarkan Novi untuk Wahyu.
"Stop. Untuk apa kau kesini" bentak Wahyu tanpa melepaskan pelukan Dinda.
__ADS_1
"Wahyu cukup. Novi lebih jelas asal usul nya daripada wanita itu. Ingat, Novi yang menbantu keuangan perusahaan." Mendengar ucapan Dion, Dinda langsung menghempaskan pelukan Wahyu. Kini Dinda tahu bahwa keluarga Wahyu hanya mementingkan materi.
"Sayang" ucap Wahyu terkejut.
"Terima kasih sudah memberikan kenangan yang tidak terlupakan ini" ucap Dinda kemudian langsung berlari keluar yang disusul oleh Wahyu.
"Wahyuu, jika kamu masih melanjutkan hubunganmu dengan wanita itu jangan harap mama akan menganggapmu anak" teriak Tessa berhasil menghentikan Wahyu untuk sejenak kemudian kembali berlari.
"Tantee" ucap Novi manja.
"Sabar sayang" jawab Tessa kemudian langsung mengajak Novi untuk menuju ruang keluarga.
Sedangkan diluar, Wahyu yang sudah berhasil menghentikan Dinda langsung memeluknya.
"Maaf" hanya itu yang bisa Wahyu ucapkan.
"Kita cukup sampai disini, Terima kasih telah menjadi bagian hidupku selama beberapa bulan terakhir ini" ucap Dinda kemudian langsung melepaskan pelukan Wahyu.
"Dinda, bisakah kita berjuang bersama-sama?" tanya Wahyu seraya menggenggam kedua tangan Dinda.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membantu orang tuamu untuk menstabilkan keuangan perusahaanmu. Lebih baik aku tidak jadi menikah daripada aku harus menikah tapi tidak bahagia karena dihantui oleh mertua yang selalu menuntut harta." jawab Dinda kemudian melepaskan genggaman tangan Wahyu.
Dinda langsung berlari meninggalkan Wahyu yang masih tercekat karena ucapan Dinda yang memang ada benarnya.
__ADS_1