
Alvian hanya bersedekap tanpa berniat membantu Baby Gibran keluar dari kerumunan para kaum hawa yang sedang berburu itu. Baby Gibran yang melihat Alvian langsung menangis kemudian menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat meminta pertolongan.
"Ehh eh kok nangis"
"Kamu sihh"
"Ehh kok aku, kamu kan juga"
Para wanita yang semula memperebutkan baby Gibran pun semakin heboh saat baby Gibran menangis.
"Dasar nakal" ucap Alvian disertai gelengan kepala. Alvian sudah bisa menebak jika Baby Gibran hanya pura-pura menangis terbukti saat tidak ada air mata, tapi karena tidak mau terjadi kehebohan di sorumnya akhirnya Alvian memutuskan untuk menghampiri baby Gibran dan mengangkatnya.
Setelah diangkat oleh Alvian, baby Gibran langsung diam dan mengalungkan tangannya dileher Alvian dan menyenderkan kepalanya dibahu Alvian.
__ADS_1
Para pengunjung yang semula saling menyalahkan langsung terdiam saat tidak mendengar suara tangis baby Gibran. Dilihatnya kemana perginya baby Gibran dan ternyata sudah digendongan Alvian.
Baby Gibran yang merasa dirinya dipandangi semua orang langsung menatap dengan tatapan sinisnya. Seolah-olah itu adalah tatapan mengintimidasi.
"Apa kau sudah puas membuat keributan?" tanya Alvian seraya membawa baby Gibran keluar dari sorum untuk pulang. Baby Gibran hanya menepuk pelan leher belakang Alvian sebagai jawaban.
Alvian langsung membawa baby Gibran kedalam mobil dan mendudukannya di carseat. Kemudian Alvian duduk di kursi belakang disamping baby Gibran. Kemudian pak Udin langsung menancap pedal gas untuk pulang kerumah. Sesekali Alvian yang sedang bermain ponsel menoleh kearah baby Gibran yang sibuk berceloteh seakan menikmati pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan.
"Kita sudah sampai tuan" ucap pak Udin dan Alvian langsung memasukkan ponselnya disaku jasnya.
"Tidak tuan, saya makan siang dirumah saja" jawab pak Udin yang membukakan pintu mobil untuk Alvian dan membantu menyiapkan stroller untuk baby Gibran.
"Karena uncle lapar, jadi kamu harus menemani uncle makan terlebih dahulu" ucap Alvian.
__ADS_1
Alvian langsung mengangkat baby Gibran dan meletakkannya di stroller. Tak lupa Alvian juga membawa susu yang tadi dibawa untuk jaga-jaga saat baby Gibran menangis didalam.
"Sepertinya kau akan kembali membuat keributan di restoran ini" Alvian sedikit membungkukkan badannya dan berbisik pada baby Gibran.
Seperti yang diduga, restoran dihebohkan dengan kehadiran dua makhluk tampan itu. Tatapan kagum ditujukan untuk Alvian yang sedang mendorong stroller dan baby Gibran yang terus berceloteh seakan tidak ada lelahnya.
Bisik-bisik para pengunjung pun terdengar ditelinga Alvian. Tanpa memperdulikan, Alvian langsung duduk disalah satu meja dan meletakkan stroller baby Gibran di sampingnya.
Setelah memesan makanan, Alvian mengajak bermain baby Gibran. Tawa baby Gibran terdengar sangat lucu saat Alvian mendekatkan wajahnya kemudian saat baby Gibran akan meraih wajah Alvian, Alvian langsung menjauh.
"Permisi" ucap pelayan menghentikan tindakan Alvian yang asik menggoda baby Gibran. Seolah mengerti jika sang uncle lapar, baby Gibran hanya diam dengan mainan miniatur mobil yang sengaja dia ambil diruangan Alvian tentu saja Alvjan yang mengambilkan.
Setelah 15 menit, akhirnya Alvian sudah selesai dengan ritual makan siangnya. Dilihatnya baby Gibran yang tertidur dengan miniatur mobil yang masih ada ditangannya.
__ADS_1
"Kenapa kau pandai sekali" ucap Alvian gemas dengan tingkah keponakannya itu. Setelah membayar tagihan, Alvian langsung membawa baby Gibran pulang. Sesampainya dimobil, Alvian langsung mengangkat baby Gibran dan menggendongnya disepanjang perjalanan karena takut jika baby Gibran tidak nyaman saat tidur di carseat. Pak Udin pun dengan sigap membukakan pintu mobil untuk sang tuan kemudian langsung menaruh stroller di bagasi mobil.