Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 205-S2


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Gibran akan pergi keluar kota. Sebelum berangkat, seperti biasa mereka akan sarapan bersama. Tapi sarapan hari ini terasa berbeda karena ini adalah hari terakhir mereka sarapan bersama Gibran.


"Gibran, jaga diri baik-baik ya disana" Mengantar sang putra sampai didepan pintu, Imelda tak kuasa menahan air matanya.


"Iya mom" jawab Gibran kemudian menatap Chayra yang terlihat diam menundukkan kepalanya.


"Kenapa? kan kakak pergi untuk melanjutkan pendidikan kakak" Gibran langsung memeluk Chayra yang sudah menangis sesenggukan.


"Daddy hanya bisa mendoakan selebihnya itu kamu yang usahakan" Riko yang memeluk Imelda memberi wejangan pada putranya itu.


"Iya dad" Ucap Gibran dan langsung melepaskan pelukannya


"Gibran berangkat terlebih dahulu mom, dad" Gibran memeluk kedua orang tuanya bergantian kemudian mencium kening Chayra.


"Apa kau yakin tidak ingin membawa mobil?" Riko kembali bertanya saat melihat mobil sport kesayangan Gibran masih di dalam garasi dan Gibran memutuskan untuk diantar oleh supir.


"Gibran yakin dad" Diabntu oleh pelayan memasukkan koper kedalam mobil Gibran kembali memeluk adik nya yang terlihat sangat berat melepasnya itu.

__ADS_1


Setelah berpamitan dan melewati beberapa momen keharuan, Gibran langsung menaiki taksi. "Mom dan daddy hati-hati, Ara masuk dulu" Chayra langsung berlari masuk kedalam rumah dan menuju kamarnya. Sedangkan Imelda dan Riko harus pergi bekerja.


Sedangkan didalam mobil, Gibran hanya menatap kosong pada jalanan padat itu. Tapi pikirannya teralihkan pada ponselnya yang berbunyi.


"Hallo uncle" Gibran mencoba untuk tenang meskipun didalam hatinya sedikit merasa tidak enak karena tidak busa berpamitan pada uncle yang sudah dianggapnya seperti ayah kedua itu.


"Kenapa kau tidak berpamitan pada uncle, apa kau sudah tidak menganggap uncle" Gibran menghela nafasnya, dirinya sudah menyiapkan hati mendengar Alvian marah-marah karena dirinya lupa berpamitan.


"Maaf uncle, kepergian Gibran mendadak jadi Gibran lupa berpamitan" terdengar helaan nafas dari seberang telepon dan Gibran tahu jika sang uncle tengah mencoba menahan kekesalannya.


"Apa kau sudah berangkat?"


"Apa kau membawa mobil sendiri?"


"Tidak uncle, aku diantar oleh supir"


"Baiklah kau hati-hati, jaga dirimu baik-baik" Setelah itu, panggilan terputus.

__ADS_1


...****************...


Di kampus, Chayra hanya diam termenung tanpa memperhatikan mahasiswa lain yang sibuk bergosip ria. "Chayra" Mendongakkan kepalanya, Chayra menautkan kedua alisnya saat melihat salah satu teman satu kelasnya sedang berdiri didepannya.


"Ini ada titipan" gadis didepannya menyerahkan kotak berwarna gold dengan tali pita.


"Apa ini? dari siapa?" tanya Chayra tanpa menerima kotak tersebut.


"Dari seseorang" gadis tersebut langsung meletakkan kotak dimeja Chayra kemudian dia berlalu begitu saja. Chayra menatap heran pada kotak yang ada didepannya. Setelah memantapkan hatinya, Chayra membuka kotak tersebut dan melihat apa isinya. Matanya membelalak, dirinya terkejut saat melihat sebungkus coklat ratu perak dikotak tersebut. Membuka kertas yang ada didalam kotak tersebut, Chayra menautkan kedua alisnya bersamaan.


"I'am sorry ~Dareen" Chayra menatap Dareen yang duduk tidak jauh dari tempat duduknya. Dareen tersenyum tapi Chayra tidak membalasnya. Tanpa berkata apapun, Chayra kembali memasukkan coklat dan surat tersebut kedalam kotak.


Kuliah dimulai saat dosen memasuki kelas, tapi pandangan Dareen tidak bisa terlepas dari sosok Chayra yang sudah menarik hatinya sejak pertama bertemu. Bahkan Dareen seolah sudah tidak berminat melakukan kencan bersama pacar-pacarnya.


Setelah melakukan beberapa SKS, perkuliahan selesai. Semua mahasiswa berhamburan keluar kelas. "Marcell" baru saja Marcell akan keluar pintu, Chayra berlari menghampirinya.


"Aku ikut ke taman ya" karena perkuliahan Elard dan Alesha masih lama, jadi Chayra memutuskan untuk ikut bersama Marcell daripada dirinya harus berurusan lagi dengan Dareen.

__ADS_1


Marcell hanya mengangguk dan langsung berlalu. "Cowok ini hampir mirip dengan kak Gibran, sangat-sangat acuh dan dingin. Ahh kak Gibran, Ara sudah rindu" gumam Chayra didalam hati seraya mencoba mengejar langkah lebar Marcell.


__ADS_2