
"Hallo tuan" sapa seseorang di seberang telepon.
"Tolong selidiki wanita bernama Rista Hernanto dan laporkan padaku segera" ucap Andra dingin hingga membuat Yolla bertanya-tanya apa motif sang bos menyelidiki CEO perusahaan Hernanto itu.
"Baik tuan" jawab nya dan sambungan teleponnya langsung diputus oleh Andra.
"Apakah hari ini masih ada jadwal meeting?" tanya Andra pada Yolla yang duduk dikursi depan.
"Tidak pak, ini meeting terakhir kita untuk hari ini" jawab Yolla sopan.
"Baik. Saya akan langsung pulang setelah ini. Kau handle pekerjaanku. Saya ingin istirahat" ucap Andra seraya memijat pelipisnya
"Apa anda sakit pak? apa perlu kita kerumah sakit?" tanya Yolla perhatian.
"Tidak" jawab Andra dengan acuh dan menyandarkan tubuhnya disandaran jok mobil dan Yolla pun memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
Setelah mengantarkan Yolla kembali ke kantor, Andra langsung meminta sopir untuk mengantarnya pulang karena tidak mungkin jika dia menyetir sendiri dengan keadaan sedikit pusing itu akan berbahaya.
"Terima kasih" ucap Andra pada sang sopir saat sudah sampai dirumah keluarga Gunawan.
"Lohh nakk, kok sudah pulang?" tanya Sandra yang sedang bermain bersama baby Gibran diruang keluarga.
"Iya ma, Andra hanya sedikit pusing saja" jawab Andra kemudian mendekati mamanya dan mencium pipi mamanya dan beralih mencium pipi baby Gibran.
__ADS_1
"Jagoan uncle" ucap Andra gemas pada baby Gibran yang mulai aktif itu. Baby Gibran pun tersenyum saat mendapat ciuman bertubi-tubi dari Andra.
"Pergilah ber istirahat nakk" ucap Sandra.
"Iya ma" jawab Andra dan langsung melangkah menuju lantai 2 dimana kamarnya berada.
Rumah yang semula sepi karena ditinggal oleh penghuninya untuk bekerja itupun menajdi ramai saat kehadiran baby Gibran ditengah-tengah mereka. Suara tangisan baby Gibran membuat keramaian tersendiri di keluarga besar itu.
……
Karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Riko yang sudha menyelesaikan pekerjaannya langsung menuju rumah sakit untuk menjemput Imelda kemudian pulang bersama.
"Hallo sayang" ucap Riko dalam sambungan telepon saat sudah sampai didepan rumah sakit.
"Iya sayang. Apa kau sudah sampai?" tanya Imelda seraya membereskan barangnya.
"Baik. Aku akan keluar" balas Imelda kemudian langsung memutus sambungan telepon.
Setelah menunggu sekitar 5 menit dimobil, terlihat Imelda sedang berjalan bersama dengan Vani Dinda disampingnya sedangkan Vani masih ada jadwal operasi di jam 5 jadi pulang terlambat.
Riko yang melihat Imelda sudah dekat pun langsung keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Imelda.
"Aku duluan Din" pamit Imelda pada Dinda.
__ADS_1
"Iya Mel" jawab Dinda seraya melambaikan tangannya.
Mobil Riko membelah jalanan raya. Sedikit macet, karena ini adalah jam pulang kerja.
"Aku sudah merindukan Gibran sayang" ucap Imelda menatap Riko yang sibuk menyetir itu.
"Aku juga sayang" jawab Riko kemudian menggenggam tangan Imelda.
"Sayang, ternyata Dinda sedang dekat dengan seorang polisi" ucap Imelda saat mengingat jika Dinda tadi bercerita tentang polisi yang dikenalnya dua minggu yang lalu.
"Bukankah Dinda sedang dekat dengan kak Andra?" tanya Riko.
"Tidak sayang, mereka berdua hanya dekat sebatas kakak dan adik. Aku sudah bertanya langsung pada Dinda" jawab Imelda.
"Kukira mereka sedang menjalin hubungan" jawab Riko.
"Kukira Dinda akan trauma dekat dengan seorang abdi negara" ucap Imelda lirih.
"Trauma? apa yang menyebabkan dia trauma sayang?" tanya Riko heran.
"Dinda pernah mempunyai kekasih seorang tentara waktu usianya 20 tahun, mereka saling mendukung hingga akhirnya mereka menjalin hubungan sudah dua tahun tapi cinta mereka harus berakhir karena sang tentara itu gugur di medan perang" jelas Imelda dan Riko pun terkejut dibuatnya.
"Apa mungkin penyebab dia jadi pendiam itu?" tanya Riko memastikan.
__ADS_1
"Iya itu salah satunya" jawab Imelda.
"Ada masalah lain?" tanya Riko.