
Marcell mengusap telinganya yang terasa panas, dirinya menatap ibunaya yang sedari tadi mengabaikannya setelah melepaskan tarikan ditelinganya. Marcell mendengus saat ibunya sibuk dengan Chayra bahkan Marcell tidak diberikan izin mendekat.
Sudah cukup lama ibu Marcell menahan Chayra untuk tetap tinggal, tapi ibu Marcell tidak punya pilihan lain saat melihat matahari sudah menenggelamkan cahaya dan Chayra berpamitan.
"Tante, Chayra pamit dulu ya" ucap Chayra seraya menyalami tangan ibu Marcell.
"Iya nak, biar diantar Marcell" Ibu Marcell menatap Marcell tajam sebagai kode untuk mengantarkan Chayra dan Marcell mengangguk.
"Tidak usah tante, Chayra bawa sepeda kok" Chayra menolak halus karena tidak ingin merepotkan dan berlama-lama dengan pria tampan itu karena rasa kesalnya.
__ADS_1
"Ini sudah petang nak, tidak baik anak gadis bersepeda malam hari, lagi pula kakimu juga masih sakit jadi biarkan Marcell yang mengantarmu" Chayra mengangguk, tidak mungkin dirinya menolak kebaikan ibu Marcell.
"Loh ada tamu ya tante?" baru saja Chayra ingin melangkah pergi dari ruang keluarga, Chayra mengurungkan niatnya dan berbalik menatap seorang gadis yang tadi pagi dilihatnya sedang bersenda gurau dengan Marcell ditaman. Terlihat gadis tersebut mendekat dan menatap penampilan Chayra dari bawah sampai atas. Kenapa gadis ini baru muncul? Ah iya Chayra menyadari bahwa rambut gadis ini terlihat tak beraturan mungkin baru bangun tidur.
Gadis tersebut tersenyum sinis dan langsung memeluk pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Chayra menatap punggung gadis tersebut sampai berlalu menjauh.
Chayra dibantu oleh Marcell untuk berjalan keluar rumah. Seakan berat melepaskan Chayra, Ibu Marcell terus menatap mkbil Marcell yang sudah berjalan menjauh. Ibu Marcell masuk kedalam rumah dan berniat menegur Alena karena sikap kurang sopannya.
"Alena, tante tidak mengajarimu seperti itu ya, tante mengajarimu untuk bersikap sopan pada orang lain bukan memberikan tatapan seperti itu pada tamu kita. Kamu boleh tinggal disini saat orangtuamu pergi keluar negeri tapi kau juga harus mendengarkan nasehat tante. Selama kau disini, kau menjadi tanggung jawab tante" Alena hanya diam, dirinya menyadari bahwa dirinya salah karena tidak menyapa tamu mereka.
__ADS_1
"Tapi tan-" setelah terdiam beberapa saat, Alena membuka suara tapi belum sempat menyelesaikan ucapannya, Alena dibuat diam kembali dengan kata-kata Rista, Ibu Marcell.
"Tante tahu kau menyukai Marcell tapi Marcell menyukai gadis itu. Jadi tante mohon untuk tidak menghalangi kebahagiaan kakakmu. Kakakmu hanya menganggap kau sebagai adik kecilnya dan itu tidak akan merubah apapun. Tante menyayangimu seperti anak tante sendiri jadi jangan kecewakan tante" gadis kelas 3 sekolah menengah atas itu terdiam. Hatinya mencelos saat mendengar ucapan Ibu Marcell yang ada benarnya. Dirinya seperti gadis yang tidak tahu diri karena mengharap Marcell menganggapnya lebih dari adik. Beberapa tahun melawan penyakitnya dengan ditemani oleh Marcell membuat gadis anak dari sahabat Rista (Ibu Marcell) itu terbawa hati sampai dirinya menaruh harapan pada Marcell.
Sedangkan didalam mobil Marcell hanya ada keheningan, dua manusia itu sedang bergelut dengan pikiran masing-masing. Marcell yang sibuk dengan jalanan didepannya dan Chayra yang sibuk menatap kearah luar melalui jendela mobil, entah apa yang dipikirkan gadis itu.
"Apa kau tidak ingin tahu siapa gadis itu?" Chayra menoleh menatap Marcell sejenak kemudian kembali mengalihkan pandangannya.
"Seharusnya kau tidak perlu bertanya, kenapa kau tidak langsung menjelaskannya saja" gerutu Chayra didalam hati.
__ADS_1