Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 170


__ADS_3

Andra sampai di hotel paling terakhir karena disana sudah terparkir mobil yang ditumpangi oleh orang tua dan kedua adiknya. Karena acara digelar aula yang ada di lantai 5 jadi di lobby hotel terlihat biasa seperti tidak ada acara apapun.


Andra langsung mengajak Dinda turun dan menggandeng tangan Dinda untuk menenangkan karena Dinda sangat gugup saat ini.


Setelah menaiki lift, akhirnya mereka sampai diaula hotel tersebut. Lampu gelap menjadi ketakutan sendiri bagi Dinda.


"Aku ingin ketoilet sebentar, kau bisa masuk dulu." Andra melepaskan tautan tangannya tapi ditahan oleh Dinda.


"Tapi..." ucap Dinda menggantung.


"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa nanti aku akan menyusulmu" jelas Andra kemudian mengecup kening Dinda dan langsung berlalu.

__ADS_1


Dinda menghela nafasnya, membuka pintu aula dengan pelan kemudian mulai menapaki ruangan yang gelap itu. Terkejut, Dinda terkejut saat lampu menyala disetiap langkah kakinya. Lampu berjejer rapi dikanan kirinya dengan hiasan bunga diatas lampu. Tak lupa mawar merah bertaburan mengiringi langkahnya.


Dinda terus melangkahkan kakinya sampai tepat ditengah aula lampu menyorot pada dirinya. Dinda berputar saat mendengar suara lantunan musik mencari sumber suara. Betapa terkejutnya dia saat melihat Andra berjalan dengan gagahnya membawa buket bunga mawar merah ditangan kirinya sedangkan tangan kanannya membawa kue ulang tahun.


"Selamat ulang tahun sayang, Kamu dan aku diciptakan untuk satu sama lain! Pada hari ulang tahunmu dan sepanjang tahun, aku ingin kamu tahu bahwa kamu adalah satu-satunya untukku. Mungkin aku bukan pria yang pandai bermulut manis seperti pria lainnya. Sayang, kamu seperti potongan puzzle yang hilang yang akhirnya kutemukan. Kamu telah membantu setiap aspek hidup ku kembali ke tempatnya.  Semoga ulang tahunmu dipenuhi dengan kebahagiaan. Kamu adalah hari ini ku dan semua hari esokku. I love you" Andra berkata dengan tulus hingga membuat Dinda tak mampu berkata-kata, air mata haru tumpah begitu saja. Tidak menyangka bahwa dirinya akan dicintai oleh pria seperti Andra.


"I love you too" hanya itu yang mampu Dinda ucapkan.


Setelah lilin diatas kue ditiup oleh Dinda, Andra langsung menjetikkan jari untuk mengkode pelayan agar mengambil kuenya. Setelah kue diambil, Andra langsung berjongkok didepan Dinda.


"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi.

__ADS_1


Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku?


Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama … itu … Kamu. Will you marry me?" mendengar ucapan Andra, air mata Dinda semakin mengalir deras.


"Yes, i will" Dinda tak mampu menjawab dengan panjang hanya kata singkat itu tapi sudah membuat Andra bahagia. Andra langsung bangkit memakaikan cincin dijari manis Dinda. Bersamaan dengan itu, lampu aula menyala dengan keseluruhan. Terdengar suara tepuk tangan riuh memenuhi aula tersebut. Dinda dibuat terkejut kembali. Bagaimana tidak, aula ternyata dipenuhi keluarga Gunawan tak lupa juga keluarga Yunanda yang ikut hadir.


Setelah cincin tersemat dijari manis Dinda, Andra langsung memeluk Dinda dengan diiringi musik romantis juga taburan bunga menambah kesan romantis untuk oasangan itu.


Setelah puas berpelukan, Andra melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang tersisa dipipi mulus Dinda.


"Terima kasih" Dinda berkata seraya menatap Andra intens.

__ADS_1


Andra hanya tersenyum kemudian menarik tangan Dinda untuk bergabung pada anggota keluarga yang lain. Ucapan, pelukan tulus dan penuh kasih sayang membuat Dinda semakin terharu. Ini adalah hari yang paling berkesan setelah sekian lama hidupnya hampa.


__ADS_2