Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 189


__ADS_3

Berjalan dengan pasti, Vani menuju ruang perawatan Alvian. Membuka pintu dengan perlahan, Vani tidak menemukan siapapun diruang perawatan calon suaminya itu. Melihat Alvian yang memejamkan mata, membuag Vani berjalan dengan pelan dan duduk disamping ranjang Alvian dengan hati-hati agar tidak mengganggu istirahat Alvian. Perlahan Alvian membuka matanya saat merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Dengan senyuman manisnya, Alvian menatap Vani yang sedang menunduk dan melatakkan tangan Alvian didahinya.


"Sayang" Vani mendongak saat ada yang memanggilnya.


"Sayang maafkan aku karena mengganggu istirahatmu" ucap Vani penuh sesal karena Alvian terbangun karena ulahnya.


"Kau tidak apa?" Alvian mengelus pipi Vani.


"Memangnya apa yang terjadi denganku?" Vani kembali bertanya dengan wajah bingung.


"Aku tahu kau tadi bertemu dengan orang tua Lexa" ucapan Alvian berhasil mengejutkan Vani.


"Oh ya dimana yang lain?" Vani baru sadar jika diruangan itu hanya ada dirinya dan Alvian. Itu dijadikannya alasan untuk mengalihkan pembicaraan.


"Mereka sudah pulang" jawab Alvian menatap manik mata Vani yang menyiratkan sedikit rasa iba.

__ADS_1


"Ah maaf aku membuatmu menunggu ku disini sendiri" ucap Vani sendu.


"Tidak apa, tadi ada papa yang menemaniku. Sayang, coba katakan apa yang dibicarakan oleh mereka hingga membuatmu seperti ini. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu" Alvian menelisik bola mata Vani yang menyiratkan kesedihan itu. Meskipun Alvian sudah tahu semuanya dari Heru, tapi Alvian ingin mendengar sendiri dari mulut gadis didepannya itu.


"Aku sangat menyesal karena aku yang berlari hingga membuatmu berbaring seperti ini, dan juga aku sedikit kasian pada bibi karena tertekan oleh masalah paman dan Lexa" mata Vani berkaca-kaca, Alvian menghembuskan nafasnya kemudian merentangkan tangan kanannya yang tidak terkena infus untuk Vani agar memeluknya.


Didekapan calon suami sekaligus kakak dari sahabatnya, Vani tak kuasa menahan air matanya. Tangis yang ditahan olehnya seketika pecah.


"Aku tidak apa, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Aku akan membantu bibimu tapi maaf, aku tidak bisa membantu membantu Lexa dan ayahnya" mendengar ucapan Alvian, Vani melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan Alvian meskipun dalam keadaan sakit.


"Aku akan mengirimnya keluar negeri agar dia bisa terbebas dari tekanan suaminya."


"Tapi sayang, bibi tidak akan meninggalkan Lexa begitu saja" ucap Vani.


"Dia hanya punya dua pilihan, tetap disini terus menangisi putrinya dan mendapat tekanan dati suaminya atau hidup bebas diluar negeri tanpa memikirkan putrinya" Alvian berkata dengan tegas.

__ADS_1


"Dan aku yakin bibimu akan memilih opsi kedua karena sekarang anaknya sedang kritis dirumah sakit bayangkara karena mencoba bunuh diri dan jika dia masih tetap berada disini, aku yakin pamanmu bisa saja menjualnya kedunia malam untuk membayar hutang mereka pada rentenir." lagi-lagi Vani dibuat terkejut, menutup mulut dengan kedua tangannya Vani menatap Alvian penuh tanda tanya. Bagaimana bisa Alvian yang sedari tadi berbaring dirumah sakit bisa mengetahui keadaan sepupunya.


"Sayang, bagaimana bisa kau tahu semuanya?" Vani bertanya dengan wajah heran.


"Karena papa mendapat panggilan dari kantor polisi dan sekarang papa sedang berada dirumah sakit bayangkara tempat wanita itu dirawat. Dan apa kau lupa bahwa calon mertuamu itu Heru Gunawan? sangat mudah bagi papa untuk menggali semua informasi itu" ucap Alvian disertai senyuman.


Vani langsung kembali memeluk Alvian dengan erat.


"Oh ya kapan aku bisa pulang? rasanya sudah tidak betah berada disini" Alvian mengeluh dengan nada manja setelah Vani melepaskan pelukannya.


"Kakimu belum sembuh sayang jadi bersabarlah" ucap Vani menenangkan dengan senyum lembutnya.


"Sayang, aku akan lama bisa berjalan lagi jika kalian terus saja melarangku untuk bangkit. Rasanya punggungku sudah seperti penggaris, sangat lurus bahkan tidak ada cengkoknya sama sekali." gerutu Alvian dan dibalas tawa oleh Vani.


Baru saja Vani akan menjawab, Alvian sudah lebih memotongnya "Aku bisa melakukan terapi setiap minggu untuk berjalan. Lagipula sampai kapan aku akan berbaring disini tanpa melakukan apapun" lanjut Alvian disertai wajah kesalnya.

__ADS_1


"Aku akan bicara pada dokter besok, jadi sekarang tidurlah" membenarkan posisi selimut Alvian, Vani memegang telapak tangan Alvian dan tidak lama Alvian tertidur karena sudah terlalu lama dirinya terjaga.


__ADS_2