Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 286-S2


__ADS_3

Terbangun dan membuka mata, Jasmine menatap sekelilingnya. Ya, ia masih dirumah sakit. Ingatan tentang anaknya Kembali menyeruak dan membuncah didalam hatinya. Ia tak boleh seperti ini, ada banyak orang yang ikut larut dalam kondisinya jika seperti ini secara berkelanjutan. Ia menoleh kesamping kanan, Menatap adik iparnya yang tersenyum tapi dengan air mata yang menetes.


“Kakak mau minum?” seharusnya ia tidak boleh larut, pikir Chayra. Seharusnya tugasnya adalah menghibur kakak iparnya agar kondisinya cepat pulih.


Jasmine menggeleng. Menolak tawaran adik iparnya. “kakak yang kuat ya, kita semua ada disini” Jasmine menganggukkan kepalanya, air matanya pun menetes saat ingatan itu muncul dan tidak dapat ia hindari.


Melamun, menatap atap – atap ruang perawatannya. Masih tak bergeming, bahkan tenggorokannya yang kering seperti musim kemarau pun ia tak merasakannya.


“Tadi Marcell mengajak kak Gibran kekantin rumah sakit untuk membeli kopi kak, mungkin sebentar lagi akan kembali” lagi – lagi Jasmine menganggukkan kepalanya, selain kering keronta, tenggorokannya bahkan belum siap berbicara. Masih tercekat seolah ada batu besar yang menghalangi dan menyesakkan dada.


Meski tak mendapat jawaban, Chayra tak berhenti. Ia masih terus bercerita hal absurd yang dialaminya. Demi memancing respon kakak iparnya. Berhasil. Jasmine merespon meskipun hanya sebuah lengkungan bibir. Bahkan, kakak iparnya itu sudh menghadap kearahnya.


“dan kakak tahu, kak Alesha harus menahan malu karena aku terus memesan makanan dikafe itu” sambung Chayra dengan tawa renyah.


“Ara, gimana keadaan Alesha?” ya, ia baru ingat jika ia bersama Alesha sebelumnya. Hingga ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


“Kakak tidak usah khawatir, kak Alesha baik-baik aja kok. Hanya luka dibagian tangan dan demam saja tapi sekarang udah sembuh” terang Chayra agar kakak iparnya tidak merasa bersalah.


“Andai saja kakak tidak menerima tawaran Alesha untuk mengantar ke kantor pasti Alesha tidak akan kena imbasnya” tuh kan, apa yang dipikirkan oleh Chayra benar. Jika kakaknya akan menyalahkan dirinya sendiri jika mengingat Alesha juga terluka karena kejadian itu.


“Sayang” pintu terbuka diiringi suara berat yang memanggil penuh kelembutan tersebut berhasil menyita perhatian mereka.


“Ada yang sakit?” Jasmine menggeleng menanggapi ucapan penuh kekhawatiran suaminya.


“Aku ingin pulang” ujar Jasmine membuat bola mata Gibran membola, diiringi gelengan kepala cepat tanda tak setuju. Bukan hanya Gibran, tapi Chayra juga demikian.


“kondisimu masih perlu pemulihan dengan pengawasan dokter” tolak Gibran halus dan duduk ditepi ranjang Jasmine.


“dalam keadaan tidur atau terjaga”


“Semua terekam jelas diingatanku dimana anakku terbunuh akibat kelalaianku sendiri.”

__ADS_1


“Aku tak mampu melawan, bahkan aku lemah.”


“Aku ingin pulang agar aku bisa sedikit demi sedikit melupakan kejadian itu. Memulainya dari awal seperti pertama kali aku menikah denganmu.”


“Aku akan menjadi istri yang baik dan Tangguh agar dimasa depan….” Rentetan ucapan dengan air menggenang dipelupuk mata Jasmine tiba-tiba terhenti saat suaminya meletakkan jari telunjuk kokohnya tepat dibibir.


“sssttt. Jangan katakan apapun lagi. Baik. Kita akan pulang tapi tidak hari ini, besok ya. Karena ini sudah hampir larut malam. Dan jangan menolak ketika aku tetap memberikan perawatan medis seperti disini ketika dirumah” penuturan dan keputusan suaminya dapat diterima baik olehnya. Dengan cepat ia menganggukkan kepalanya.


Chayra pun sudah memundurkan diri sejak tadi tanpa berpamitan, tidak ingin mengganggu waktu keluarga kakaknya.


“Oh maaf, mommy mengganggu sepertinya” Imelda yang baru saja membuka pintu bersama suaminya mengurungkan niatnya. Kembali menutup pintu dan memilih menunggu diluar saat mellihat anak dan menantunya sedang berpelukan.


“Mom” pintu Kembali terbuka, Gibran munul disana. Mempersilahkan orang Taunya masuk dan ia kembali menutup pintu.


Mommy mertuanya menghampirinya, terenyum dan mencium keningnya sebentar lalu mendudukkan diri disamping ranjangnya.

__ADS_1


“Makan ya sayang, mommy membawakanmu makanan kesukaanmu” sebenarnya ia tak berselera. Tak lapar juga. Tapi demi menghormati ibu mertua yang sangat perhatian padanya, rasanya tidak sopan jika harus menolak. Menelan makanan itu dengan hambar, biasanya makanan ini sangat menggoyang lidahnya. Tapi saat ini? Sangat berbeda. Keadannya yang sekarang membuat lidahnya seakan mati rasa.


Sesekali ia tersenyum menanggapi ucapan ibu mertuanya yang menceritakan tentang kekonyolan Gibran. Sementara yang dibicarakan sibuk dengan perbincangan para lelaki sang suami dan sang daddy mertuanya yang sama sekali tak ia mengerti.


__ADS_2