Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 266-S2


__ADS_3

Hari semakin malam, dinginnya angin menusuk kulit hingga tulang. Semua sudah menyelami mimpi dikamarnya masing-masing. Alesha baru saja menyelesaikan ritual perawatan kulit wajahnya. Segera merebahkan dirinya dan memejamkan matanya.


Lima menit berlalu, baru saja dirinya sedikit menyelami alam mimpi ponselnya dengan nyaring berbunyi.


"Siapa sih malam-malam begini telepon" gerutu Alesha seraya meraih dan langsung menggeser tombol hijau diponselnya tanpa melihat sang pemanggil.


"Tidur saja kau sangat cantik dan manis" Alesha melonjak, mengucek-ucek matanya dan menatap ponselnya penuh tanya.


"Hei siapa kau? perlihatkan seluruh wajahmu jangan hanya mata saja" omel Alesha.


"Apa kau sudah siap mengetahui siapa aku sebenarnya sayang?" Tanya pria dibalik telepon dengan nada menggoda.


"Sebenarnya kau siapa? Kenapa seenaknya memanggilku sayang" tanya Alesha tidak sabar. Bahkan dirinya sampai menggertakkan giginya saat mendengar suara tawa diseberang sana.


"Baiklah-baiklah." Alesha memasang wajah dan membolakan matanya, memastikan agar yang dilihatnya nanti tidak salah.


"K-kau?" Alesha menutup mulutnya yang menganga.


"Haii cantik" ucap pria tersebut seraya tersenyum dan mngedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"K-kau? Kau teman kak Elard yang waktu itu kita bertemu dimobil kan? Iya kau teman kak Elard. Darimana kau mendapat nomorku? Apa kak Elard yang memberikannya ah tapi tidak mungkin. Cepat jelaskan padaku darimana kau mendapat nomorku dan kenapa kau terus menghubungiku akhir-akhir ini" cecar Alesha dengan banyak pertanyaan.


"Aku Leo Siregar dan aku menyukaimu" deg, hati Alesha mencelos mendengar pernyataan cinta tiba-tiba dari pria yang baru ditemuinya satu kali.


"Heii aku bertanya, cepat jawab pertanyaanku" ucap Alesha.


"Kurasa itu sudah cukup untuk menjawab berbagai pertanyaan konyolmu itu. Dan untuk masalah darimana aku mendapatkan nomor ponselmu aku mencurinya di ponsel kakakmu itu. Karena kakak Elard kesayanganmu itu tidak akan memberikan nomor ponselmu kepadaku" jawab Leo dengan gamblangnya.


Alesha terdiam, memikirkan setiap ucapan pria itu.


"Sayang apa kau ingin memancingku dengan bajumu itu" Ucapan Leo membuat Alesha langsung menutup dadanya, secepat kilat menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sebatas dada.


"Berhenti memanggilku sayang" bentak Alesha dengan wajah garangnya. Bukannya takut, Leo malah tertawa. Merasa lucu sekaligus tantangan baginya untuk mendapatkan gadis seperti Alesha.


"Kau sungguh menggemaskan sayang rasanya aku ingin segera menikahimu dan memakanmu saat itu juga" goda Leo kembali.


"Hentikan omong kosongmu" geram Alesha dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Astagaaa bocah gila itu" Alesha merebahkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


.


.


Pagi menjelang, membawa embun yang menyapa dedaunan. Membangunkan makhluk hidup untuk kembali keperaduan nasibnya. Lelah yang dirasa dihari yang lalu sudah digantikan oleh semangat baru yang menggebu. Hari ini adalah hari pertama Gibran kembali kekampus tapi dengan status yang berbeda. Ada hati yang harus ia jaga, tapi tetap pada pendiriannya. Gibran tetap memakai kostum penyamarannya demi menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi. Biarlah mereka merendahkannya yang terpenting tidak ada yang melakukan hal konyol demi mendapatkan dirinya kalau sampai dirinya memakai identitas aslinya.


"Sayang tidak apa kan kalau kau berangkat dengan supir?" Tanya Gibran pada Jasmine yang sibuk memasangkan dari kupu-kupu dikerah bajunya.


"Tidak apa sayang, aku akan menghargai semua keputusan kamu" jawab Jasmine seraya menepuk pelan dada Gibran.


Gibran langsung menarik tubuh Jasmine hingga rapat padanya, memeluk dan mencium aroma rambut sang istri yang sudah menjadi candu baginya.


"Sudah sudah ayo berangkat" Jasmine melepaskan pelukannya, jika diteruskan mereka tidak akan berangkat kuliah hari ini. Gibran tersenyum dan mengacak rambut Jasmine gemas, sedangkan Jasmine mengerucutkan bibirnya karena rambut yang sudah ditata rapi olehnya kini terlihat berantakan.


Gibran mengambil kunci motornya, kemudian keluar kamar untuk melihat apakah anak buahnya sudah menyiapkan motor yang ia perintahkan.


"Sayang aku berangkat dulu ya" pamit Gibran pada Jasmine kemudian mengecup kening Jasmine lembut dan penuh sayang.


"Hati-hati ya sayang"

__ADS_1


__ADS_2