Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 188


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang, Vani yang sudah selesai operasi langsung keluar dari ruang operasi kemudian keruangan dokter sebentar sebelum ke ruang perawatan Alvian. Melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan Alvian, Vani terkejut saat jalannya dihadang oleh orang tua Lexa. Menghentikan langkahnya, Vani menatap paman dan bibinya itu yang terlihat saling pandang.


"Vani?" panggil ibu Lexa.


"Iya bibi? ada apa kalian menghadangku?" tanya Vani langsung pada intinya.


"Vani mari ikut kami sebentar" ucapan ayah Lexa membuat Vani mengangkat kedua alisnya lalu kemudian mengangguk.


Ibu Lexa pun lega dan langsung mengajak Vani berjalan keluar rumah sakit menuju kantin rumah sakit. Sambil berjalan, Vani merogoh ponselnya dan mengirim pesan pada Alvian agar tidak mengkhawatirkannya.


"Sayang, aku ada urusan sebentar nanti aku akan kesana jika urusanku sudah selesai" tulis pesan Vani pada Alvian.


Alvian yang sedang mengobrol bersama Heru pun mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang ada disamping ranjangnya, dengan pelan dia meraih ponsel dan membuka pesan dan membacanya. Alvian memicingkan matanya kemudian membalasnya. Setelah membalas, Alvian menghubungi anak buahnya.

__ADS_1


"Tolong kau cari dimana calon istriku" singkat, padat, dan jelas. Titah Alvian dalam sambungan telepon dan langsung memutuskannya begitu saja tanpa menunggu jawaban anak buahnya.


"Dimana Vani?" mendengar kata calon istriku dari mulut Alvian, Heru penasaran saat melihat wajah anaknya yang sedikit khawatir.


"Al tidak tau pa, dia hanya mengatakan ada urusan" seperti halnya Alvian, Heru juga menautkan kedua alisnya kemudian tersenyum tipis.


"Kenapa papa tersenyum seperti itu?" melihat senyuman tak biasa dari Heru, Alvian bertanya dengan nada penasaran.


"Lalu apa hubungan Vani dengan dalang kecelakaan pa?" Alvian menautkan kedua alisnya.


"Dasar bodoh, dalang dibalik kecelakaanmu itu sepupu Vani yang tertinggal kapal waktu pernikahan kakakmu" jawab Heru dan memukul pelan lengan Alvian hingga membuat Alvian mengaduh dan mengusap lengannya.


"Lexa?" tanya Alvian memastikan dan dijawab anggukan oleh Heru. Tidak lama kemudian terdengar suara dering ponsel Alvian dan tertera nama anak buahnya sedang mengirim foto.

__ADS_1


Alvian membuka ponselnya dan melihat ternyata didalam foto tersebut terlihat Vani dan sepasang suami istri paruh baya. Terlihat jelas kalau difoto itu pasangan suami tersebut sedang memohon pada Vani. Alvian langsung menunjukkan pada Heru dan Heru pun mengangguk.


Sedangkan dikantin rumah sakit, Vani dibuat bingung dengan apa yang harus dilakukannya sekarang saat orang tua Lexa trus memohon padanya agar membantu membujuk Alvian agar perusahaan orang tua Lexa kembali stabil. Di satu sisi dia kasian pada Lexa disisi lain dia juga sangat kecewa pada tindakan Lexa.


Dengan memantapkan hatinya, Vani memutuskan "Maaf paman, bibi, Vani tidak bisa membantu. Bagaimanapun tindakan Lexa sudah membuat calon suami Vani hampir kehilanagan nyawanya. Lagi pula itu juga hukuman untuk Lexa karena sudah berani menyinggung papa Heru, kalian pasti tahu apa yang akan dilakukan papa Heru saat ada yang berniat mencelakai anggota keluarganya. Jadi Vani mohon maaf Vani sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Vani permisi" setelah mengatakan hal itu, Vani langsung bangkit tapi dirinya terkejut saat ibu Lexa tiba-tiba bersimpuh dikakinya.


"Vani, bibi tahu kau sangat kecewa pada Lexa tapi bibi mohon bantu Lexa hiks Lexa selalu hidup bergelimangan sejak kecil dan bibi tidak berdaya saat melihatnya harus kelaparan dibalik jeruji besi, tolong demi bibi bantu Lexa nak hiks hiks" Vani tidak bisa berkata-kata, melihat pandangan orang alin sudah tertuju padanya Vani membantu Ibu Lexa untuk berdiri.


"Maaf bibi tapi Vani benar-benar tidak bisa, Vani harus pergi" Vani langsung berjalan dan langkahnya kembali terhenti saat mendengar ucapan Ayah Lexa.


"Bu, untuk apa kau bersujud dikaki Vani demi bocah itu? ayah sudah tidak peduli dengan anakmu itu. Sekarang tinggal bagaimana cara ayah bisa mengatasi masalah perusahaan" karena ucapan ayah Lexa sedikit keras, jadi Vani bisa mendengarnya dengan jelas.


"Ternyata hidup bergelimangan harta membuat paman lupa bahwa putri paman sedang sengsara" gumam Vani dan melangkahkan kakinya keluar kantin rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2