Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 142


__ADS_3

"Tidak apa pa. Waktu itu...." belum sampai menyelesaikan ucapannya, bel rumah keluarga Gunawan berbunyi dan menghentikan ucapan Dinda.


"Selamat malam semuanya" sapa seorang gadis cantik dengan mententeng buah ditangannya.


"Malam" jawab semua orang serempak.


"Ehh Vani, sini nakk" ajak Sandra.


"Iya tante," jawab Vani kemudian menyalami Heru dan Sandra.


Alvian menatap tajam Vani yang sudah duduk disamping Dinda. Alvian geram karena Alvian sudah menyuruh Vani untuk tidak datang sekarang tapi Vani bersikeras untuk datang karena alasan ingin menjenguk sahabatnya.


"Bagaimana kabarmu Din?" tanya Vani mencoba tenang dari tatapan membunuh Alvian.


"Aku baik-baik saja Van" jawab Dinda seraya tersenyum.


"Ayo lanjutkan ceritamu" titah Alvian dengan wajah dinginnya.


"Cerita apa?" tanya Vani yang belum mengerti.


"Diam" ucap Alvian menatap tajam Vani.


"Vian" tegur Sandra dan Alvian pun hanya menghela nafasnya.


"Jadi waktu itu..."

__ADS_1


*Flashback On*


Pagi hari menjelang, gadis cantik berprofesi dokter itu menggeliat dari tidur malamnya karena ketukan pintu yang sangat mengganggu indra pendengarannya.


"Dinda buka pintunya" suara berat papanya terdengar dari arah luar kamar.


"Iya pa" jawab Dinda malas. Karena sudah bisa dipastikan jika papanya pasti akan memintanya melakukan suatu hal dan itu sudah menjadi kebiasaan papa nya yang mengajak nya bicara hanya pada saat butuh bantuan saja.


"Ada apa pa?" tanya Dinda yang sudah membuka kan pintu.


"Mandi habis itu temui papa diruang kerja" titah papanya tegas dan langsung pergi begitu saja.


"Huffttt selalu saja begitu" gumam Dinda seraya menutup kembali pintu kamarnya.


Tok tok tok.


"masuk" jawab Tuan Hans/papa Dinda.


Perlahan Dinda membuka pintu ruang kerja papa nya itu. Dilihatnya ruangan yang baru saja ia masuki itu, ruangan yang penuh dengan tumpukan dokumen dan jejeran buku yang tertata rapi di rak.


"Duduk" ucap papanya tegas dan Dinda pun langsung Duduk berhadapan dengan papanya yang hanya dibatasi oleh meja itu.


"Ada apa pa?" tanya Dinda.


"Papa mau minta tolong sama kamu" ucap Tuan Hans menatap intens putri nya.

__ADS_1


"Apa itu pa?" tanya Dinda.


"Gantikan papa untuk meeting hari ini di GNW hotel's di kamar nomor 143A. Karena papa sedang tidak enak badan jadi papa tidak mungkin membatalkan meeting penting ini. Pengawal nya akan menjemputmu dirumah nanti jam 8 jadi bersiaplah." ucap Hans dengan sesekali batuk.


"Kenapa harus di kamar hotel pa?" sejujurnya Dinda merasa ada yang tidak beres dengan papanya tapi dia mencoba menampik semua prasangka buruknya. Sejujurnya sikap papa nya berubah sejak kematian mamanya dan papa nya mempunyai kekasih seorang kupu-kupu malam.


"Beliau orang penting jadi tidak mau terlalu mengekspos wajahnya di muka umum" jelas Hans sedikit gugup.


"Baiklah" jawab Dinda pasrah.


"Pergilah. Tapi papa pinjam ponselmu sebentar untuk memasukkan nomor orang itu jadi kau bisa dengan mudah untuk menghubungi nya jika kau tidaj bertemu dengannya nanti" ucap Hans sedikit terbata. Dinda pun memicingkan matanya, sikap papa nya sangat aneh. Begitulah pikirnya.


"Pergilah" ucap Hans saat dia sudah menerima ponsel Dinda. Dinda pun semakin bingung dengan sikap papa nya.


"Baik" jawab Dinda dan langsung berlalu keluar.


"Maafkan papa. Papa hanya ingin bahagia dengan Tiara (Kekasih baru Hans), Dan hanya kamu satu-satunya harapan papa agar papa bisa bebas dari kejaran Tuan Jek." ucap Hans seraya memasukkan nomor Tuan Jek kemudian mencoba menghubungi nya.


Dinda yang sedang berperang dengan pikirannya pun terlonjak saat mendengar suara IRT memanggilnya di depan pintu.


"Non, anda sudah ditunggu seseorang dibawah" ucap pelayan.


"Baik bi. Dinda akan turun" jawab Dinda dan langsung menyambar tas slempang nya.


"Mari nona" ucap pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam tak lupa kacamata yang bertengger dihidung mancungnya.

__ADS_1


__ADS_2