
Sesuai dengan arahan si gelang merah, Riko membawa banyak pihak berwajib untuk membantu misi menyelamatkan Marcell. Dari kejauhan sudah terlihat beberapa penjaga berpakaian serba hitam yang sudab melumpuhkan pasukan pelaku penculikan Marcell.
"Bisakah kau ambilkan aku kopi di belakang?" si gelang merah yang melihat kedatangan dua keluarga itu mencoba mengelabui temannya yang bertugas disampingnya.
Si gelang merah disini mempunyai jabatan yang cukup tinggi sehingga menyebabkan para penjaga itu gampang sekali patuh terhadapnya.
"Lakukan sesuai arahanku. Orang yang kalian cari ada dilantai empat. Lakukan dengan hati-hati, jangan ceroboh" Riko mengangguk saat si gelang merah yang dicarinya sudah menghampirinya.
"Apa kita bisa mempercayaimu?" tanya Alvian sedikit mendelik.
"Terserah kalian, mereka sudah datang sejak 10 menit yang lalu. Jangan sampai kalian kalah cepat karena terlalu banyak bicara" tegas si gelang merah seraya menatap sinis Alvian dibalik kacamata hitamnya.
"Cih" Alvian langsung menyusul yang lainnya yang sudah berjalan terlebih dahulu. Beberapa penjaga sudah lumpuh dan terkapar dilantai karena bantuan polisi dan juga banyaknya anak buah yang kedua keluarga itu bawa.
"Apa mau kalian?" teriak seorang pria yang berasal dari lantai empat.
"Hahaha membunuhmu lalu tidak ada seorangpun yang bisa menghalangiku untuk mendekati putri bungsu mereka untuk melancarkan balas dendamku" tawa jahat menggema digedung tua nan usang itu.
"Jangan dekati Chayra" teriakan Marcell menggema diiringi tawa jahat beberapa orang yang juga berada didalam ruangan itu.
Riko mengepalkan tangannya, sebenarnya siapa penculik Marcell. Kenapa dia berkata ingin balas dendam? ah entahlah Riko semakin pusing memikirkannya.
Duarrr
__ADS_1
Suara tembakan menusuk telinga, polisi sudah melancarkan aksinya sedangkan Riko dan yang lainnya sudah berada didalam ruangan itu.
"Ahh shit. Siapa yang berkhianat disini" Teriak pemuda yang diduga dalang dari penculikan ini.
"Diam ditempat" polisi sudah melingkar mengepung mereka, tapi naas. Peluru meluncur tepat mengenai perut Marcell saat polisi tidak mengetahui jika salah satu diantara mereka menggenggam pistol.
"Ahhh" rintih Marcell.
"Kalian cepat bawa Marcell biar aku yang mengurus mereka" ucap Heru pada Andra dan Alvian.
"Baik pa" setelah ikatan ditubuh Marcell terputus, mereka langsung membopong Marcell dibantu dua anak buah mereka.
"Siapa kalian?" tegas Heru seraya menajamkan pandangannya.
"Ibu?" lirih Riko.
"Hahaha kau pasti tidak mengingatnya. Ibuku gila karenamu. Setelah melahirkanku ibuku ingin kembali mencarimu tapi anak buah sialanmu itu terus saja mencegah ibuku. Hingga akhirnya ibuku frustasi dan selalu melamun dan sekarang harus mendekap dirumah sakit jiwa" jelas pemuda itu dengan tangis pilu.
"Lalu siapa kau?" tanya Heru menghentikan ucapan pemuda itu.
"Saya ayah dari Alena, seorang gadis penyakitan yang harus merelakan pria yang dicintainya bersama dengan cucu kesayanganmu. Aku tidak akan tinggal diam, putriku harus mendapatkan apa yang aku inginkan"
"Pak bawa mereka" Heru memijat pelipisnya, menurutnya didepannya kali ini orang-orang bodoh yang menyita waktunya.
__ADS_1
"Oh ya siapa namamu?" tanya Riko menghentikan langkahnya saat akan berbalik meninggalkan ruang usang itu.
"Riko, Ibuku bahkan memberikan nama yang sama untukku karena terlalu menginginkan mu" jawab pemuda itu tidak seangkuh tadi. Riko dan Heru bisa melihat jika sebenarnya pemuda itu baik, hanya aaja karena tekanan pemuda itu bisa melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa memikirkan akibatnya.
.
.
Dirumah sakit, Marcell masih ditangani dokter. Operasi menegangkan untuk mengangkat peluru pun masih dilaksanakan.
Mereka juga sudah menghubungi keluarga Marcell dan mereka akan terbang kesini secepatnya.
.
.
Dua jam berlalu, operasi pun selesai. Marcell langsung dipindahkan keruang rawat untuk pemulihan karena beruntung peluru tidak mengenai organ vitalnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Gibran yang baru saja datang menjenguk.
"Hanya menunggu pemulihan, kau tunggu disini Daddy ingin melihat adikmu" jawaban Riko diangguki oleh Gibran.
Seorang pria paruh baya berseragam tentara lengkap terlihat tergopoh-gopoh berlari menuju ruang perawatan Marcell dengan menggandeng wanita yang sepertinya sang istri.
__ADS_1