
Karena keras kepala, Chayra akhirnya berhasil membujuk sang mommy agar mengantarnya keruang perawatan Marcell. Ketika masuk kedalam ruang perawatan Marcell, Chayra melihat sang kekasih yang masih terbaring lemah dan menutup mata. Segera menghapus air matanya dan tersenyum saat orang tua Marcell juga tersenyum padanya.
"Mom sebenarnya apa yang terjadi dengan Marcell?" Chayra meraih jemari kokoh milik pria tampan itu, tatapannya fokus pada wajah pucat yang masih terlihat tampan meskipun sedang sakit.
"Marcell tidak termasuk dalam korban pesawat itu tapi Marcell diculik" Chayra menyipitkan kedua matanya, menoleh pada sang mommy yang berdiri disampingnya.
.
.
Satu jam berlalu, duduk dikursi tepat disamping ranjang Marcell selama itu seolah tidak membuat Chayra tergerak untuk berpindah posisi. Tatapannya terus terfokus pada mata elang yang sudah sangat lama menutup mata, sepertinya Marcell masih terpengaruh obat bius.
Jari lentik itu menggengam erat tangan kekar yang tidak terkena infus, air matanya sudah mengering. Tidak ada yang perlu ditangisi, orang yang dia cari selama ini sudah ditemukan hanya tinggal menunggu sembuh.
"Ara" suara serak itu membuyarkan lamunan Chayra, segera mendongakkan kepalanya untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Sayang, kau sudah bangun" Chayra langsung berdiri dan memeluk tubuh lemah itu, sampai melupakan kehadiran orang tua Marcell.
__ADS_1
"Nak, biarkan dokter memeriksa Marcell terlebih dahulu" ucapan sang ayah Marcell membuat Chayra langsung melepaskan pelukannya dengan wajah merona.
"Maaf om" ucap Chayra seraya menundukkan kepalanya.
"Tidak apa, panggil ayah saja seperti Marcell lagipula Marcell juga sudah memanggil orang tuamu seperti orang tuanya sendiri"
"Keadaan Tuan Marcell sudah membaik kita hanya tinggal menunggu pemulihan dan setelah itu tuan Marcell boleh pulang, kalau begitu saya permisi." Dokter menjelaskan pemeriksaannya, semua bernafas lega.
Setelah kepergian dokter, dengan alasan yang dibuat-buat ayah dan ibu Marcell keluar ruang perawatan Marcell agar Marcell dan Chayra bisa leluasa berbicara tanpa merasa sungkan pada mereka.
Marcell meraih jemari Chayra, menggenggam erat seperti tidak ingin terlepaskan lagi. "Maafkan aku karena tidak memberimu kabar" hati Chayra seperti disayat, perasaan bersalah muncul dibenaknya. Chayra segera memeluk tubuh itu, meluapkan rasa rindunya melewati pelukan yang tidak seerat kemarin karena memang tubuh Marcell yang masih lemah.
"Maafkan aku, karena keluargaku kau jadi seperti ini" sang mommy telah menceritakan sedikit peristiwa dan pelaku penculikan Marcell, dari situ Chayra menyimpulkan keluarganya juga bersalah dalam hal ini karena kesalahan mereka dimasa lalu harus berimbas pada Marcell.
"Semua itu hanya musibah, dan sekarang aku sudah disini. Jangan menangis, air matamu sangat berharga" Marcell tersenyum, mengusap air mata Chayra yang sudah membanjiri pipi mulusnya dengan ibu jari.
"Boleh aku memelukmu lagi?" Mendengar pertanyaan konyol dari bibir calon istrinya, Marcell terkekeh geli. Segera merentangkan tangannya agar Chayra masuk kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu" dengan susah payah, Marcell menarik tengkuk Chayra dan menempelkan bibir kenyal itu. Merasakan sensasi yang menggiurkan bagi keduanya. Sebelum terlampau lebih jauh, Marcell segera melepaskan tautannya, mengusap ujung bibir Chayra yang sedikit basah. Lagi-lagi Marcell terkekeh saat melihat rona memerah diwajah cantik Chayra.
.
.
Disudut lain, sepasang suami istri terlihat bersiap untuk pergi keluar kota dan melanjutkan kuliahnya yang sudah hampir usai karena mereka akan wisuda beberapa minggu lagi.
"Aku sudah membeli rumah baru sayang, jadi tidak usah membawa banyak barang. Orangku sudah mengurus semuanya" Gibran memeluk Jasmine dari belakang saat Jasmine merias wajahnya didepan cermin.
"Kenapa harus beli rumah baru? Bagaimana dengan rumah lama?" Tanya Jasmine tanpa melepaskan bedak yang ditangannya.
"Aku takut istriku tidak nyaman jika tidur dirumah kecil itu" jawaban Gibran membuat Jasmine langsung membalikkan badannya, memeluk perut lelaki itu karena posisinya duduk sedangkan Gibran berdiri.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan semua itu, aku akan ikut denganmu kapan saja dan dimana saja. Meskipun tidur dirumah kecil tidak masalah bagiku. Karena aku sudah tidak memiliki siapapun kecuali dirimu" Gibran melepaskan pelukannya, segera jongkok dan menggunakan lututnya untuk tumpuan dan mensejajarkan tingginya seperti Jasmine.
"Hustt kau tidak boleh bicara seperti itu, kau punya aku, kau punya daddy, mommy, Chayra, dan ayah kandung kamu. Kita semua menyayangi kamu, jangan pernah merasa sendiri sayang" Gibran tersenyum tulus, membuktikan jika ucapannya memang benar adanya.
__ADS_1