
Matahari kembali menampakkan sinarnya, pria tampan pewaris keluarga Yunanda itu terlihat bersiap untuk memulai perkuliahannya. Setelah dirasa siap dan tidak ada yang tertinggal, Gibran langsung mengambil kunci motornya dan bersiap untuk berangkat.
Berbeda dengan Gibran yang terlihat santai mengawali paginya, Jasmine dibuat kesal karena sang mama terus-terusan menuntutnya untuk bertingkah elegan dan meninggalkan baju casualnya yang terkesan seperti lelaki. Bahkan mamanya tak segan menyuruh orang untuk membuang baju-bajunya.
"Stop atur-atur Jasmine ma, Jasmine juga butuh kebebasan" Jasmine sudah tak kuasa menahan rasa kesalnya hingga membuat dirinya sampai meneteskan air mata.
"Mama melakukan ini untuk kebaikan mu Jasmine" teriak mama Jasmine.
Jasmine menutup telinganya, dirinya sudah sangat hafal dengan alasan mamanya "Ini bukan untuk kebaikan Jasmine, ini untuk kebaikan mama agar tidak malu dengan teman-teman sosialita mama. Mama ingin terus dipandang tinggi oleh teman-teman mama dengan memanfaatkan Jasmine. Jasmine mempunyai kepribadian sendiri ma, Jasmine nyaman dengan penampilan Jasmine itu, tidak penampilan seperti ini yang memperhatikan lekuk tubuh Jasmine seperti wanita penggoda seperti ini." ucap Jasmine disela isak tangisnya.
__ADS_1
Plakkk
Jasmine memegang pipinya yang terkena tamparan sang papa. Jasmine tersenyum samar "Terima kasih pa, terima kasih untuk asupan di pagi harinya." Jasmine langsung mengambil tasnya dan berlari keluar untuk berangkat kuliah. Papa Jasmine menatap tangannya yang baru saja memberi tamparan pada putri satu-satunya.
Sebelum benar-benar keluar, Jasmine kembali membalikkan badannya dan berkata "Jangan pernah kalian sakiti mereka" mereka yang dimaksut oleh Jasmine adalah anak-anak yang diasuhnya, karena dirinya pernah mendapat laporan dari anak buahnya jika ada anak buah dari orang tuanya ingin menghancurkan anak-anak tak berdosa itu.
Jasmine langsung mengambil mobilnya dan menancap gasnya. Masih dengan tangisnya, Jasmine menjelajahi jalanan raya yang masih dipadati oleh para manusia yang akan berangkat bekerja ataupun memulai hari barunya.
Dengan cepat, Gibran menyusul langkah Jasmine yang berjalan lebih dulu. Tanpa berani menyapa, Gibran hanya diam ditempat duduknya seraya menatap Jasmisne yang seolah sedang mengalihkan pikirannya. Terlihat jelas kalau Jasmine sedang memendam rasa sesak dihatinya.
__ADS_1
Perkuliahan dimulai, Jasmine hanya diam memperhatikan dosen yang memberi materi bahkan Jasmine hari ini sangat berbeda dengan Jasmine yang selalu aktif dalam perkuliahan.
Gibran yang sudah tidak bisa memendam rasa penasarannya langsung menghubungi anak buahnya untuk menyelidiki tentang masalah Jasmine. Bukan Gibran ingin mencampuri, hanya saja Gibran merasakan aneh saat dirinya melihat Jasmine bersedih.
"Selidiki tentang masalah yang Jasmine hadapi hari ini" begitulah kira-kira isi pesan Gibran yang dikirimkan kepada anak buahnya. Setelah mendapat balasan dari anak buahnya, Gibran langsung memasukkan kembali ponselnya.
"Haii" Gibran sedikit kikuk saat mendekati Jasmine, bahkan Gibran sampai menggaruk tengkuknya. Jasmine tersenyum dan meletakkan bukunya.
"Ada apa?" tanya Jasmine ramah, Gibran menatap lekat wajah cantik wanita yang ada didepannya, terlihat jelas guratan kesedihan dan tertekan diwajah cantik itu. Bahkan pipinya terlihat memar. Tanpa sadar Gibran mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Kau tidak apa?" ini sungguh jauh dari kepribadian Gibran biasanya yang dingin dan acuh terhadap sekitar. Bahkan jika adiknya tahu, Gibran bisa diejek habis tak tersisa oleh adik satu-satunya itu. Ah jika mengingat adiknya, Gibran jadi merindukan gadis manjanya itu, sudah dari kemarin adiknya sama sekali tidak menghubunginya.
"Memangnya aku kenapa?" Jasmine terlihat tersenyum mencoba menutupi kesedihannya. Dirinya tidak mau jika ada seseorang yang mengetahui sisi kelamnya.