Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 250-S2


__ADS_3

Air mata jatuh membanjiri pipi mulusnya, bagai dihantam batu besar. Kabar ini sungguh menyayat hatiny, bahkan ponsel yang digenggamnya erat kini merosot jatuh.


"Chayra ada apa?" Jasmine bangkit dari posisi tidurnya dan langsung merengkuh tubuh Chayra yang terlihat syok.


"Marcell kak, Marcell penumpang di pesawat itu hiks hiks" Jasmine terkejut, langsung berteriak untuk memanggil Gibran yang berada diluar.


"Sayang" Telinga Chayra memekik seketika saat Jasmine berteriak tepat disamping telinganya, tapi biarkan. Chayra tak kuasa untuk berkomentar karena di dalam pikirannya kini hanya terfokus pada Marcell.


"Ada apa sayang?" Gibran tergopoh-gopoh masuk, melihat pemandangan yang memilukan. Mendengar acara televisi yang masih menayangkan berita yang sama, Gibran langsung tahu letak permasalahannya. Segera mengambil ponselnya dan mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Marcell.


"Kakk, aku mau mencari Marcell" Chayra langsung melepaskan pelukannya dan berlari keluar tapi gagal, Gibran sudah menarik tangannyadan memeluk adiknya yang terlihat sangat rapuh.


"Marcell pasti baik-baik saja, sekarang tenangkan dirimu biar anak buah yang mencari keberadaan Marcell" hati Gibran ikut sakit saat melihat adiknya yang selalu ceria terlihat serapuh ini. Chayra hanya diam dengan isak tangis yang terus bersahutan dari bibirnya, tidak mampu untuk berkata-kata.


Brukk


Tubuh Cahyra melemas, ambruk dipelukan Gibran. "Sayang cepat hubungi mommy dan beritahu mengenai kabar ini" Jasmine hanya mengangguk, dirinya ikut syok dengan kejadian seperti ini.

__ADS_1


"Araa" baru saja akan dihubungi, Riko dan Imelda sudah muncul dibalik pintu. Sejujurnya mereka langsung menuju kesini setelah mendengar berita itu dan bertanya lokasi Chayra kepada supir yang mengantar Chayra tadi pagi.


"Mom" lirih Gibran terkejut saat melihat orang tuanya sudah berada disana. Imelda langsung memeriksa Chayra yang sudah dibaringkan oleh Gibran diranjang yang ada diruangan itu.


Gibran duduk disamping Jasmine dan memeluk tubuh wanitanya, sepertinya Jasmine juga syok dengan kejadian ini. Entah kenapa, Gibran belum tau alasan yang pasti.


"Marcell" bibir cantik milik gadis yang tidak sadarkan diri itu terus bergumam, memanggil nama yang mungkin salah satu korban jatuhnya pesawat itu. Hati mereka semua bagai diiris, selama sebesar ini sudah dua kali Chayra mengalami hal mengenaskan yang mengkhawatirkan. Harapan semua orang hanya satu, agar Chayra tidak kembali drop seperti saat itu.


"Ara" semua bernafas lega saat Chayra terlihat membuka matanya, langsung bangkit dari posisi tidurnya dan memeluk sang mommy.


"Mom Marcell baik-baik saja kan?" mendengar pertanyaan sang putri, hati Riko seperti disayat. Putri cantiknya kini sedang tidak baik-baik saja. Segera mendekat dan memeluk dua wanita berbeda usia tersebut.


"Sayang, Marcell akan baik-baik saja. Sekarang istirahat dulu biar anak buah kita yang mencari Marcell oke" ucapan Riko dijawab gelengan kepala oleh Chayra.


"Tidak dad, Marcell menungguku. Aku harus menemuinya" Melihat Chayra seperti ini, tangis semua orang yang ada diruangan itu pecah. Gibran bahkan juga ikut menitikkan air mata.


"Baiklah tapi janji pada Daddy, jika nanti kabar apapun yang kau dengar kau harus menerimanya" Chayra mengangguk cepat, tidak ingin terlalu lama berdebat.

__ADS_1


"Sayang, kau ajak Jasmine pulang biar aku dan Gibran yang mengurus masalah ini" ucapan Riko dijawab anggukan oleh Imelda.


"Hati-hati sayang" Gibran mengangguk saat mendengar suara Jasmine.


"Aku pergi dulu" Jasmine mengangguk saat Gibran berpamitan dan mengecup keningnya sebelum pergi.


.


.


Didalam mobil kini hanya terisi keheningan dan suara isak tangis yang memilukan hati. Riko tak henti-hentinya mengecup pucuk kepala sang putri. Sedangkan Gibran yang duduk dikursi depan samping kemudi hanya diam termenung, memikirkan perasaan adiknya yang pastinya sangat hancur.


45 menit berlalu, bandara sudah dipenuhi dengan lautan keluarga yang menunggu kabat sanak saudara mereka yang termasuk korban pesawat. Tangis memilukan terdengar bersahutan dibandara luas ini. Berjalan dengan pelan dan dipekuk oleh sang daddy, Chayra mencoba menguatkan hati meskipun air mata yang kunjung kering dari matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**YOKKK KOMEN YOKKK READERS YANG BAIK HATI SEDEKAH JEMPOL YUK MUMPUNG DIBULAN RAMADHAN😘

__ADS_1


SEMANGAT PUASANYA BAGI YANG MENJALANKAN YA🥰**


__ADS_2