Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 238-S2


__ADS_3

Marcell mengajak Chayra untuk turun dan bergabung dengan yang lainnya dibawah. Sepanjang menuruni tangga, tangan mereka saling bertautan.


"Loh dimana kak Gibran mom?" Chayra menoleh kesana kemari mencari batang hdiung sang kakak yang tak terlihat di perkumpulan keluarganya.


"Ada urusan katanya" jawab Imelda sekenanya karena Gibran juga tidak memberitahukan masalah apa yang dialami Gibran sampai anak pertamanya itu langsung berlari saat melihat pesan di aplikasi handpone nya.


Sedangkan yang dicari sedang membelah jalanan yang tidak terlalu padat itu dengan kecepatan tinggi, tidak peduli nyawanya yang bisa saja melayang. Dipikirannya saat ini hanyalah pesan dari sang kekasih dan menyuruhnya untuk segera kesana karena Jasmine mengatakan bahwa dirinya akan dinikahkan malam ini juga dengan pria tua berkacamata.


Berkali-kali Gibran memukul setir kemudinya, merasa bersalah karena seharian ini dirinya sibuk mengatasi perusahaannya sampai melupakan ponselnya.


Beberapa jam berlalu, Gibran langsung menuju rumah kecilnya untuk mengganti kostum sebelum meluncur kerumah Jasmine. Dirinya tidak ingin dimanfaatkan oleh orang tua Jasmine jika mereka tau siapa Gibran sebenarnya. Dengan cepat, Gibran langsung melempar kunci mobilnya asal dan mengambil kunci motornya.


Angin malam yang berhembus kencang menusuk kulit Gibran yang berbalut kemeja putih. Setelah beberapa menit, akhirnya motor Gibran memasuki gerbang rumah Jasmine. Tidak ramai, karena tidka ada pesta dirumah ini. Bahkan hanya terlihat beberapa mobil yang terparkir sepertinya itu mobil calon mempelai pria. Gibran melihat jam yang ada ditangannya, sudah tengah malam, tapi sepertinya acara akad belum juga dimulai.

__ADS_1


"Den cari non Jasmine ya?" Salah satu pelayan yang tidak sengaja melihat Gibran langsung menyapa.


"Iya bi, disini ada acara apa ya?" Gibran mencoba mengulik informasi.


"Loh aden tidak tau kalau non Jasmine malam ini menikah?" Pertanyaan pelayan dijawab gelengan oleh Gibran meskipun dirinya sudah tahu, tapi setidaknya dirinya bisa mendengar sedikit informasi yang lebih jelas.


"Sebenarnya tadi jam 10 adalah acara akad nikah non Jasmine dengan teman tuan besar. Tapi karena nona Jasmine sakit perut dan bolak-balik kekamar mandi jadi terpaksa diundur. Sebenanya juga bisa saja mempelai pria melakukan akad tanpa nona Jasmine tidak disampingnya tapi nona Jasmine menolak, dengan alasan kata nona Jasmine dirinya ingin mendengar sendiri calon suaminya mengucapkan kalimat sakral itu. Tapi, sampai saat ini nona Jasmine juga masih didalam kamarnya"


Gibran mengangguk kemudian berlari masuk kedalam bertepatan dengan papa Jasmine yang menjabat tangan calon mempelai pria tanda jika acara akad akan segera dimulai.


"Mau apa kau kesini?" Teriak papa Jasmine dengan suara berat nan menggelegar.


"Pak saya mempelai pria yang asli" Gibran langsung duduk didepan penghulu dan mau tidak mau calon pengantin pria yang sebenarnya harus bergeser tempat.

__ADS_1


"Gibran" Jasmine menatap Gibran sendu, Gibran menoleh dan menggenggam tangan mulus itu.


"Hei apa yang kau lakukan?" Papa Jasmine kembali berteriak seraya memegang dadanya, baru saja akan melontarkan kalimat lagi, papa Jasmine sudah tergeletak tidak sadarkan diri.


"Papaaa" teriak Jasmine, seburuk apapun sikap papanya, pria yang sedang tidak sadarkan diri itu tetap papanya.


"Kalian cepat tolong suamiku" mama Jasmine berteriak memanggil para pengawal yang berdiri mengelilingi ruang tamu yang sudah didekor dengan tema pernikahan itu.


"Nyonya, bagaimana ini? Saya sudah membayar untuk bisa menikahi putri anda." Mata Jasmine membelalak lebar, menatap pada sang mama yang mengikuti langkah pengawal yang membopong tubuh sang papa. Sedangkan pria tua itu langsung meninggalkan rumah itu dengan wajah marah.


"Pak nikahkan kami" Gibran langsung menjabat tangan penghulu dengan paksa. "Tapi pak, pernikahan perlu beberapa syarat yang harus dipenuhi. Anda tiba-tiba duduk dan meminta saya untuk dinikahkan. Dan juga ayah dari mempelai wanita sedang tidak sadarkan diri. Jadi tidak ada wali" jelas penghulu membuat Gibran mendesah frustasi.


"Nikahkan mereka saja pak, tapi Jasmine jangan harap kau akan bertemu dengan mama dan papa lagi" ancam mama Jasmine berharap Jasmine takut dengan ancamannya, tapi dugaannya salah. Jasmine menjawab ucapannya dengan lantang "Baik, nikahkan kami pak" Jasmine terlalu sakit saat mendengar kenyataan bahwa orang tuanya menjual dirinya.

__ADS_1


"Ta-tapii.." ucapan penghulu terputus saat tiba-tiba ada yang berteriak dari arah pintu.


"saya yang akan menjadi wali nikah Jasmine"


__ADS_2