Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 148


__ADS_3

"Ti-tidak, pria siapa yang kau maksut?" tanya Dinda gugup.


"Aku selalu menyelidiki setiap orang yang berhubungan dengan keluarga ku termasuk kau yang sudah dianggap anak oleh orang tuaku. Jadi aku yakin perkataanku tidak ada yang salah" jawab Andra menoleh sekilas ke Dinda yang masih terkejut.


"Hemm, tentu saja aku masih mencintainya meskipun aku sudah ikhlas tapi sangat sulit bagiku melupakan dia karena dia yang menguatkanku akan sikap papa yang tiba-tiba berubah setelah kepergian mama" jawab Dinda dan langsung bangkit kemudian berdiri di samping Andra.


"Sangat sulit jika kita merindukan seseorang dan kita tidak bisa memeluknya, bahkan kita mempunyai alam yang berbeda" jawab Andra menatap Dinda. Sejenak tatapan mereka saling terkunci kemudian langsung kembali menatap kearah depan.


"Aku tahu. Bahkan papa yang menjadi alasanku bertahan malah tega melakukan semua itu padaku" jawab Dinda dan menitikkan air matanya.


"Setiap kejadian pasti mempunyai hikmah tersendiri. Jadi jangan hukum dirimu dengan menjadi pendiam dan tidak mau berbagi saat mempunyai masalah" tegur Andra.

__ADS_1


"Kau bisa menasehatiku tapi kau lupa bahwa kau juga menjadi pendiam sejak kematian Nesya" jawab Dinda seraya mengusap ujung matanya.


Andra pun hanya diam tanpa menjawab. Yang dikatakan Dinda memang ada benarnya.


"Apa kau pernah bermimpi bertemu Nesya? Aku bahkan ingin sekali bertemu mantan kekasihku tapi dia sama sekali tidak pernah muncul" tanya Dinda saat sebelumnya sempat terjadi keheningan.


"Aku pernah bermimpi sekali dan dia mempertemukanku dengan seorang wanita dan menautkan tanganku dengan tangan wanita itu tapi aku tidak tau siapa wanita itu" jawab Andra kemudian berjalan duduk diikuti oleh Dinda.


"Aku belum memikirkan itu, jika memang kedua adikku harus menikah lebih cepat kenapa aku melarangnya? aku sangat bahagia jika melihat mereka juga bahagia" jawab Andra.


"Kenapa kau bertanya tentangku?" tanya Andra sengan menatap heran Dinda yang diam menghadap kolam.

__ADS_1


"Aku hanya memastikan apa yang kau rasakan apa sama dengan yang kurasakan. Aku pernah mempunyai niat memiliki seorang kekasih lewat aplikasi biro jodoh tapi aku tersadar jika jodoh tidak bisa dicari dengan mudah dan tidak bisa dipaksakan." jawab Dinda kemudian menoleh kearah Andra.


"Hahaha kau mempunyai pemikiran yang pendek ternyata" jawab Andra diiringi tertawa kecil. Para pelayan yang tidak sengaja melihat senyum Andra pun takjub saat melihat Andra tersenyum setelah kepergian Nesya dan itu karena Dinda.


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka, Dinda yang semula diam pun menjadi banyak bicara. Sampai suara pelayan mengagetkan mereka.


"Tuan, nona, Nyonya memanggil untuk makan malam" ucap sang pelayan.


"Baik bi, terima kasih" jawab Dinda kemudian beranjak diikuti oleh Andra.


Sebelum melangkahkan kakinya, Tangan Dinda dicekal oleh Andra kemudian ditarik hingga membuat posisi mereka saling berhadapan.

__ADS_1


"Yakinlah, Tuhan sudah menuliskan takdir untuk setiap hambanya. Jangan pernah berkecil hati karena kau sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini karena banyak yang menyayangimu. Dan cobalah untuk mencoba lebih mengikhlaskan kekasihmu, biarkan dia tenang dengan alam barunya tanpa memikirkan kamu yang larut dalam kesedihan. Aku tahu itu pasti akan sulit dan aku merasakannya tapi tetap lah mencoba nya pelan-pelan. Semangat" ucap Andra dan menepuk pelan kepala Dinda kemudian berjalan masuk meninggalkan Dinda yang masih berdiri mematung mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Andra.


__ADS_2