
"Hustt kau tidak boleh bicara seperti itu, kau punya aku, kau punya daddy, mommy, Chayra, dan ayah kandung kamu. Kita semua menyayangi kamu, jangan pernah merasa sendiri sayang" Gibran tersenyum tulus, membuktikan jika ucapannya memang benar adanya.
"Ayah kandung? Kurasa dia tidak menginginkanku karena terbukti saat setelah menjadi wali nikah dia langsung pergi" Jasmine menunduk, sejujurnya dia juga merindukan sosok ayah.
"Beliau banyak tanggung jawab yang harus diurus sehingga belum bisa menemuimu lagi sayang, aku janji secepatnya aku akan mengajakmu bertemu beliau" ucap Gibran.
"Terima kasih sudah menerimaku sampai sejauh ini" air mata lolos dari mata cantik itu, terharu. Tak kuasa untuk menahan kebahagiaan ini, segera memeluk suaminya yang sudah melindunginya sampai saat ini.
Gibran bangkit, segera memeluk istrinya yang sudah bangkit juga.
.
.
Kini Gibran dan Jasmine sudah berada didalam mobil untuk kerumah sakit sebelum kembali keluar kota. Karena sang daddy masih dikantor jadi Gibran akan berpamitan melalui sambungan telepon nanti sedangkan nanti dirinya kerumah sakit untuk berpamitan pada sang mommy dan Chayra sekaligus menjenguk Marcell.
Tangan kokoh Gibran setia menggenggam erat tangan istrinya selama perjalanan. Baik Gibran maupun Jasmine tidak ada yang membuka suara, Jasmine yang sibuk dengan suasana kota dan Gibran yang sibuk dengan jalanan didepannya.
__ADS_1
"Gibran berhenti" dengan refleks Gibran mengerem mendadak, beruntung jalanan sepi jadi tidak menyebabkan kecelakaan.
"Ada apa sayang?" Tanya Gibran khawatir. Tanpa menjawab pertanyaan Gibran, Jasmine langsung turun dan berlari.
"Heii lepaskan" teriak Jasmine pada dua orang bertubuh besar yang mencoba memaksa anak-anak untuk mengemis.
"Wahh ada bidadari bos" ucap salah satu penjahat.
"Lepaskan" teriak Jasmine sekali lagi saat melihat penjahat tersebut masih mencengkeram kuat anak kecil.
"Puaskan dulu kita dan kita akan menyerahkan anak ini hahahah" sahut mereka dengan tawa jahat.
"Dek sini" bukannya membalas pelukan Gibran, Jasmine malah memanggil bocah berusia 10 tahun itu dengan melambaikan tangannya. Bocah denvan rambut sebahu dan pakaian yang sedikit kusam itu berlari kecil menghampiri Jasmine.
Jasmine melepaskan pelukan Gibran, bukannya kesal karena Jasmine mengabaikannya Gibran malah tersenyum, kagum dengan hati lembut istrinya.
"Nama kamu siapa?" Tanya Jasmine lembut seraya jongkok dengan bertumpuan lututnya.
__ADS_1
"Dela kak" jawab bocah itu seraya menundukkan kepalanya.
"Cantik sekali, dimana orang tua kamu?" Pertanyaan Jasmine mendapat gelengan kepala dari Dela. Sepertinya bocah malang itu harus berjuang hidup sendirian.
"Ikut kakak yuk, kakak bakal kenalin Dela sama banyak teman disana" bukannya menjawab pertanyaan Jasmine, Dela mendongakkan kepalanya, menatap Gibran yang sedari tadi diam.
Seolah tahu apa yang dipikiran Dela, Jasmine langsung berdiri dan merangkul lengan Gibran. "Kenalin ini suami kakak, dia orang baik kok kamu nggak perlu takut. Mau ikut kakak kan?" Tanya Jasmine sekali lagi. Melihat Gibran yang tersenyum dan mengangguk akhirnya Dela menyetujui ajakan Jasmine.
Jasmine memutuskan untuk mampir ketoko pakaian sebentar sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
"Jangan turun, biar mereka yang membelinya"Gibran mencekal tangan Jasmine, sepertinya sisi posesifnya mulai muncul.
Jasmine mengangguk, dirinya percaya pada suaminya.
"Dela lapar?" Tanya Jasmine menolehkan kepalanya kebelakang dimana Dela duduk.
Dengan ragu Dela mengangguk, hati lembut Jasmine seperti tersayat. Melihat anak kecil yang harus berjuang untuk hidup sendirian sedangkan dirinya selalu berkecukupan sejak lahir. Bukan hanya Jasmine, Gibran pun merasakan demikian.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
MINAL AIDZIN WAL FAIZIN🙏❤