
"Kenapa kau bisa disini?" Marcell melepaskan pelukannya dan menangkup wajah cantik yang sudah dibanjiri dengan air mata itu. Chayra menggeleng dan langsung kembali menenggelamkan wajahnya didada bidang Marcell.
"Kau mau pergi kemana?" Chayra mendongak menatap wajah yang lebih tinggi darinya itu.
Marcell terkikik geli kemudian mencium pucuk kepala gadis cantik yang sudah memenuhi hati dan pikirannya "Aku akan pergi ke negara A, menggapai mimpiku disana. Tunggu aku ya" Marcell kembali meraih tubuh Chayra dan mendekapnya erat-erat. Tanpa sepengetahuan Chayra, Marcell menitikkan air mata "Tunggu aku kembali, semoga aku bisa memenuhi janjiku" gumam Marcell didalam hati.
Karena pesawat sudah akan berangkat, Marcell langsung berlalu meninggalkan Chayra yang masih berdiri ditempat tadi. Baru beberapa langkah, Marcell kembali berhenti saat merasakan tangan mungil yang mendekapnya erat dari belakang.
"Kumohon jangan pernah mengingkari janjimu" lirih Chayra yang hanya dibalas anggukan oleh Marcell. Marcell melepaskan tangan Chayra dan kembali melangkah tanpa menoleh sedikitpun. Dirinya hanya tidak mau kembali merasa berat melangkah saat melihat wajah imut yang dibasahi air mata itu.
Chayra melangkah meninggalkan bandara, sesekali dirinya membalikkan badan hanya berharap Marcell kembali meskipun itu mustahil. Berjalan dengan langkah gontai dan mata yang masih basah, Chayra menjadi pusat perhatian perhatian seluruh pengunjung bandara.
"Ara?" Chayra menoleh, terlihat Elard berjalan seraya menarik koper. Sepertinya Elard baru saja turun dari pesawat.
__ADS_1
"Kakk" lirih Chayra dan langsung berhambur memeluk tubuh kekar kakak sepupunya itu. Masih menangis sesenggukan, Elard dibuat panik karena Chayra hanya menangis dan tidak mengatakan apapun.
"Araa kenapa? Apa yang terjadi? Dan apa yang kau lakukan disini?"
Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut Elard. Menuntun Chayra untuk duduk, Elard menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung bandara karena mengura jika Elard berbuat macam-macam pada seorang gadis.
"Marcell kak hiks hiks" Elard menautkan kedua alisnya kemudian mengelus punggung Chayra yang bergetar.
"Marcell pergi keluar negeri hiks, Marcell pindah hiks hiks. Kenapa ini mendadak sekali" lirih Chayra dan menatap Elard dengan sendu bahkan air mata tak berhenti menetes dipipinya.
"Mungkin Marcell mempunyai alasan tersendiri, Marcell mengatakan apa padamu?" Masih dengan nada bicara yang tenang, Elard menjadi sosok kakak bagi Chayra menggantikan Gibran.
"Marcell hanya bilang dia akan pergi ke negara A untuk menggapai cita-citanya hiks hiks" lirih Chayra kembali menenggelamkan wajahnya dilengan Elard.
__ADS_1
"Lalu ini?" Tanya Elard seraya menunjuk jari manis Chayra yang dilingkari oleh cincin berbentu hati itu. Mengingat Chayra tidak pernah menyukai perhiasan dari kecil, Elard bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Chayra menggunakan perhiasan meskipun itu hanya cincin.
"Ini dari Marcell, dia bilang ini tanda cintanya padaku, Marcell juga bilang aku harus menggunakan cincin ini saat dia kembali agar dia bisa tau jika aku benar-benar menunggunya" Elard melongo, dirinya hanya tahu jika Chayra sedang dekat dengan Marcell tapi dirinya belum tahu jika kedekatan mereka sudah sejauh itu.
"Jika sudah begitu lalu apa yang kau tangisi? Biarkan Marcell menggapai mimpinya dan kembali dengan sebuah kebanggan yang bisa dipamerkan padamu" ucap Elard kembali mengelus lengan Chayra yang memeluknya.
"Ini terlalu mendadak kak, Ara baru saja mengenalnya" bantah Chayra.
"Mungkin dia mempunyai alasan tersendiri yang tidak bisa diberitahukan kepadamu, jadi tenanglah. Kau doakan saja dia" ucapan Elard disambut anggukan kepala dari Chayra.
"Kakak dari mana?" Mengingat kembali sebelum dirinya memeluk Elard, Elard terlihat sedang menarik koper dibelakang tubuhnya.
"Emm kakak dari luar negeri menjenguk teman kakak" jawab Elard sedikit gugup.
__ADS_1