
Berlalu menuju tempat pemesanan, Gibran melangkah dengan elegan hingga membuat pandangan para wanita seakan terpaku pada sosok itu. Gibran langsung kembali duduk didepan Chayra yang sibuk dengan ponselnya.
Setelah pesanan datang, Chayra langsung meletakkan ponselnya dan melahap coklat didepannya. Gibran tersenyum, sesekali dirinya mengusap ujung bibir Chayra yang terlihat belepotan.
"Araa hati-hatii. kakak tidak memintanya" Ucap Gibran menegur Chayra yang terlihat sangat antusias dengan berbagai macam cake coklat yang ada didepannya.
"Kakk" rengek Chayra dengan manja hingga membuat Gibran tertawa kecil dan mengacak gemas rambut adiknya itu.
"Kakakkkk lihat rambutku sudah tidak rapi" gerutu Chayra seraya mengerucutkan bibirnya. Gibran tersenyum, setidaknya Chayra sudah melupakan kejadian tadi.
"Kakk apa kakak tahu siapa yang menyelamatkan Ara 2 tahun yang lalu?" Gibran yang sedang melihat ponsel langsung menatap Chayra yang terlihat sedang menunggu jawabannya.
Gibran menggeleng, dirinya sama sekali tidak tahu siapa yang menjadi penolong Chayra saat kejadian 2 tahun yang lalu. Bahkan sudah banyak anak buah daddy nya menyelidiki juga Anak buah keluarga Gunawan menyelidiki tapi sama sekali tidak ada yang membuahkan hasil. Mereka hanya tahu jika itu seorang laki-laki, tapi mereka tidak tahu siapa laki-laki itu karena laki-laki tersebut menggunakan topi dan masker.
__ADS_1
Chayra menghela nafasnya dan menyuapkan suapan coklat terakhir kedalam mulutnya. Mengambil tisu dan mengelap sisa coklat dibibirnya, Chayra menatap Gibran yang terlihat memikirkan sesuatu. Meskipun pandangannya tertuju pada ponsel, tapi Chayra yakin jika pikiran Gibran tidak sepenuhnya tertuju pada ponsel yang ada didepannya.
Kini Gibran dan Chayra sudah berada didalam mobil untuk pulang. Keadaan di mobil sunyi, baik Chayra maupun Gibran sedang hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Setelah sampai dirumah, Gibran langsung masuk diikuti Chayra dibelakangnya.
"Gibran" Gibran menghentikan langkahnya saat suara berat daddy nya memanggil.
"Dadd" Gibran mendekat diikuti Chayra dibelakangnya. Chayra langsung memeluk lengan Riko manja sedangkan Gibran duduk didepan Riko.
"Kenapa Daddy sudah pulang? bukankah ini masih jam 2? apa mom juga ikut pulang?" pertanyaan Chayra membuat Riko tersenyum dan menyentil kening putri cantiknya itu.
"Dadd, Ara keatas dulu" setelah mendapat anggukan dari Riko, Chayra langsung bangkit dan berjalan kearah tangga. Taoi langkahnya seketika terhenti saat mendengar ucapan Sang Daddy. Baru daja akan kembali berjalan, Chayra kembali menghentikan langkahnya saat mendengar jawaban Gibran.
"Gibran, bagaimana keputusanmu? apa kau tetap ingin melanjutkan S2 mu di negara J? jika iya maka daddy akan segera mengurus keperluanmu" pertanyaan Riko membuat Gibran menghela nafasnya kemudian bersender disofa.
__ADS_1
"Gibran belum memikirkannya dad. Gibran harus menjaga Ara disini"
"Daddy harap kau segera mengambil keputusan" Riko berkata dengan tegas dan Gibran pun mengangguk.
"Tadi daddy mendapat telvon dari uncle Cleo, dia meminta maaf dan memberitahu daddy jika anaknya masuk rumah sakit karena ulahmu." Gibran sedikit terkejut, bagaimana bisa pria yang terlibat perkelahian dengannya tadi adalah anak dari mantan asisten daddynya.
"Maaf dad" Gibran menundukkan kepalanya. Riko menghela nafasnya "Daddy tahu jika kau menjaga adikmu, tapi daddy mohon jangan sampai membuatnya kembali masuk rumah sakit kedua kalinya, daddy tidak mau persahabatan daddy dengan ayah nya menjadi renggang karena kesalahpahaman" setelah mengatakan hal tersebut, Riko beranjak dan pergi meninggalkan Gibran yang masih bergelut dengan pikirannya.
Gibran langsung bangkit dan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Gibran merebahkan dirinya diatas ranjang king size nya itu.
"Kakk" Chayra mengetuk pintu dan memanggil nama Gibran.
"Masuk saja, pintu tidak dikunci" Chayra langsung membuka pintu dan ikut merebahkan dirinya disamping Gibran.
__ADS_1
"Apa kakak jadi melanjutkan S2 kakak di negara J?" Mendengar pertanyaan Chayra membuat Gibran menolehkan kepalanya dan menatap wajah adiknya yang terlihat sendu.