Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 280-S2


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Jasmine memegang kendali perusahaan cabang milik mertuanya, sebenarnya Jasmine belum siap, tapi daripada ia berdiam diri dirumah tanpa melakukan apapun itu lebih terasa membosankan.


Kehamilannya sudha menginjak usia tiga bulan, perutnya pun sudah terlihat sedikit membuncit. Dan selama itu juga ia berdiam diri dirumah karena paksaan kedua mertuanya.


Perusahaan yang awalnya dipegang oleh asisten Riko kini benar-benar berpindah tangan setelah seminggu yang lalu terdapat rapat pelantikan CEO baru.


Asisten Riko, yang menjabat sebagai pemimpin perusahaan ini sebelumnya sudah pensiun, umur yang sudah menginjak tua membuat asistennya memutuskan untuk istirahat.


"Selamat siang pak Gibran" sapa sekertaris baru Jasmine saat melihat kedatangan suami atasannya itu. Dengan nada genitnya, berniat menggoda tapi sayang, Gibran sama sekali tidak menggubris. Bahkan menoleh pun tidak.


Oh iya, selain asisten yang memutuskan untuk resign, sekertaris pun resign. Jadilah kini Jasmine bekerja dengan orang baru.


"Sayang" bukan pertama kali, setiap hari Gibran akan ke perusahaan ini saat jam makan siang. Tahu sendiri bukan, setelah Jasmine hamil, Gibran menjadi sangat posesif.


"Anak ayah capek ya? Ajak bunda istirahat yuk" Jasmine menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Gibran yang sudah jongkok disamping kursi kerjanya dan mengelus perutnya.


"Sebentar sayang, tinggal sedikit lagi" Gibran mengangguk, kemudian berdiri dan membantu istrinya mengecek laporan tersebut agar istrinya bisa cepat beristirahat.

__ADS_1


Jasmine merentangkan tangannya setelah laporan selesai, ia kemudian berdiri dan memeluk suaminya yang berdiri dijendela menatap kearah luar dan membawa satu lembar dokumen.


"Sudahh, ini sudah kuperiksa" Jasmine merebut dokumen itu, meletakkannya dimeja kemudian kembali menghampiri suaminya. Gibran tersenyum, entah hanya perasannya atau memang benar adanya, Istrinya lebih manja ketika hamil tapi Gibran menyukainya.


Gibran menggendong tubuh istrinya, membawanya kesofa yang ada diruangan itu dan menurunkannya disana.


"Emhh hahaha" lenguh dan tawa Jasmine ketika Gibran mencium dan memberi kecupan dibibirnya.


Gibran hanya tersenyum, kembali melanjutkan kegiatannya hingga tangannya sudah siap bergerilnya. Tapi naas, pintu tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok sekertaris Jasmine yang membawa secangkir teh.


"Ah maaf" ucapnya tanpa berniat pergi


"Maaf bu, saya hanya ingin memberikan teh ini pada pak Gibran" ucapnya dengan wajah penuh sesal, iya hanya wajah karrna hatinya terus mengumpat Jasmine.


Mata Jasmine memicing, menoleh kearah suaminya yang sedari tadi memasang wajah datar.


"Aku tidak meminta apapun padanya sayang" ucap Gibran lembut.

__ADS_1


"Bawa kembali, aku tidak minum teh" ucap Gibran lagi dengan dingin, sangat berbeda saat berbicara dengan sang istri.


"Maaf, saya permisi" membalikkan badannya, hatinya terus mengumpat, ingin sekali ia melenyapkan atasannya itu sekarang juga agar ia bisa memiliki Gibran seutuhnya.


"Kita makan disini saja ya sayang" ucap Jasmine, padahal tadi ia berencana mengajak Gibran makan ditempat yang sudah ia rencanakan sebelumnya tapi kini selera itu tiba-tiba hilang.


"Baiklah, aku akan memesannya" Gibran mengambil ponselnya, memesan makanan yang swhat untuk istrinya.


Setelah selesai memesan, Gibran memasukkan kembali ponselnya, segera memeluk istrinya agar tenang.


.


.


Sore hari, seperti biasa Gibran akan menjemput istrinya untuk pulang. Menyetir sendiri karena Gibran harus memastikan jika kecepatan mobil yang ia kendarai benar-benar pelan.


"Kau belum pulang Ven?" Tanya Jasmine pada sekertarisnya yang masih berdiri didepan loby.

__ADS_1


"Belum bu, nunggu taksi" jawabnya.


__ADS_2