
Menyusuri lorong untuk sampai di kelasnya, Gibran lagi-lagi mendapat tatapan rendah dari para mahasiswa yang berpapasan dengannya. Bahkan, mereka tidak segan-segan menunjukkan raut wajah jijik saat menatap Gibran.
"Selamat siang, maaf saya terlambat" Gibran langsung duduk disalah satu kursi kosong tepat disamping gadis yang tadi menasehati mahasiswa yang menghinanya.
"Jasmine Veronika, silahkan" entah kebetulan atau keberuntungan bagi Gibran, disaat dirinya ingin mengetahui nama gadis tersebut, namanya sudah lebih dulu dipanggil oleh dosen.
Gibran menatap Jasmine yang berdiri didepan menerangkan tentang penelitiannya. Tubuh sexy, wajah cantik, dan rambut pirangnya membuat Jasmine sering mendapat tatapan iri dari teman-temannya. Jasmine terlihat seperti gadis lugu dan polos tapi semua itu salah. Jasmine seorang gadis dewasa yang memimpin sebuah perusahaan dengan segala tuntutan dari orang tuanya. Jadi, kemampuan Jasmine dalam public speaking sudah tidak perlu diragukan lagi.
"Benar apa yang kau katakan, jangan nilai seseorang dari penampilannya" gumam Gibran didalam hati seraya tersenyum tipis.
Setelah melewati beberapa SKS, akhirnya perkuliahan selesai. Semua mahasiswa berhamburan keluar kelas untuk pulang karena setelah ini sudah tidak ada mata kuliah lagi. Gibran langsung menuju parkiran khusus sepeda motor untuk mengambil motornya dan pulang. Karena sejujurnya, dirinya sangat lelah karena selesai melakukan perjalanan yang sangat melelahkan ditambah harus langsung mengikuti perkuliahan hari pertama.
__ADS_1
Gibran menghela nafasnya saat melihat ban motornya kempes. Dengan segala kekesalannya, Gibran langsung mengambil motornya dan menuntunnya keluar kampus. Tidak mungkin dirinya menghubungi anak buahnya untuk mengurus motor ini di sekitar kampus, bisa-bisa nanti para mahasiswa curiga dengan penyamarannya.
Baru saja sampai 100 meter menjauh dari lingkungan kampus, Gibran sudah merasa lelah kemudian istirahat sebentar duduk di trotoar tidak peduli tatapan rendah mahasiswa yang lewat.
"Hahaha pria miskin sepertimu tidak pantas kuliah di kampus ini" ucap salah satu orang yang berada di mobil sport, dan Gibran mengira jika itu adalah bos dari 4 orang tersebut.
"Hahaha benar bos, lihatlah tampangnya"
"Pekerjaan kita berjalan mulus bos" Gibran tidak memperdulikan hinaan mereka, tapi Gibran fokus pada ucapan terakhir dari salah satu dari mereka, dan itu membuat Gibran tersenyum sinis dan langsung mengirim pesan pada anak buahnya setelah segerombolan pria tersebut melajukan mobilnya.
"Dasar bodoh kenapa kau bilang padanya jika kita yang membuat ban motornya kempes" bentak Bram, selaku bosnya.
__ADS_1
"Ma-maaf bos" jawab Vero, pria yang tadi berkata dengan keceplosan. Vero adalah pria pandai dan sedikit polos, hal itu yang membuat Bram mengangkat Vero menjadi anak buahnya. Tujuan Bram hanya untuk memperalat Vero dalam mengerjakan tugasnya.
"Berhenti, biarkan dia turun" setelah salah satu dari mereka yang menyupir memberhentikan mobil, Vero langsung didorong keluar. Tanpa mereka sadari, dengan mengeluarkan Vero akan membuat Vero selamat dari kejaran anak buah Gibran.
Kembali pada Gibran yang masih duduk ditrotoar, Gibran menghela nafasnya secara kasar. Ingin sekali dirinya pergi menggunakan taksi dan meninggalkan motornya tapi Gibran masih berpikir dua kali.
"Motormu kenapa?" Suara lembut itu berhasil membuat Gibran yang semula menundukkan kepala langsung mendongak. Dilihatnya gadis cantik yang sedari tadi sudah menarik perhatiannya sedang berdiri didepannya.
"Kempes" jawab Gibran seraya menunjuk ban motornya.
"Ayo pulang denganku, nanti anak buahku yang akan mengurus motormu"
__ADS_1