
Baru saja memejamkan matanya selama dua jam, ponsel Gibran terlihat berdering. Sesegera mungkin mengambil ponselnya dan berniat mengangkat telvon karena Gibran tidak ingin membangunkan Jasmine yang masih terlelap tidur. Gibran menyibakkan selimutnua, sedikit memberi kecupan dikening wanitanya sebelum akhirnya bangun dan memakai celana pendeknya untuk mengangkat telepon.
"Hallo dad" Gibran mendesah, jelas sudah bisa ditebak kenapa sang daddy menghubunginya sepagi ini.
"Ada yang ingin kau sampaikan?"
"Maaf dad, aku sudah menikah" Gibran menuangkan air kedalam gelas dan meminumnya.
"Dasar anak durhaka, kenapa kau tidak meminta restu kami?" tanya Riko dengan nada yang dingin, bahkan Gibran sampai dibuat bergidik ngeri.
"Mendesak dad, nanti akan aku kenalkan istriku pada kalian" ucapan Gibran sukses membuat Riko menggeram kesal diseberang sana.
"Bawa istrimu hari ini juga" setelah mengatakan itu, Riko langsung memutus sambungan teleponnya. Gibran melongo, mengguyar rambutnya frustasi. Sebenarnya dirinya ingin hidup sederhana dan membuktikan ketulusan Jasmine, tapi semua dia urungkan saat mendengar titah dari sang daddy.
"Jam makan siang jemput aku dan siapkan mobil, aku akan pulang hari ini" Gibran mengirim pesan pada anak buahnya.
__ADS_1
Gibran mengotak-atik ponselnya, membuka layanan pesan antar makanan yang sudah menjadi langganannya. Memesan dua bungkus untuk dirinya dan Jasmine. Duduk dikursi ruang tamu, Gibran mendongak saat pintu kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu itu terbuka menampilkan sosok cantik yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Sayang, kenapa sudah bangun?" Gibran merentangkan tangannya agar Jasmine masuk kedalam pelukannya.
"Aku hanya tidak terbiasa bangun terlalu siang" Jasmine menyenderkan kepalanya di bahu kokoh itu. Sesekali dirinya menatap makhluk tampan yang sedari tadi masih menatapnya.
"Aku masih tidak percaya jika suamiku yang semula culun jadi setampan ini" ucap Jasmine menepuk-nepuk dada Gibran pelan.
"Apa kau menyesal mengenalku saat kau mengetahui kebenarannya?" Gibran mengelus rambut yang sedikit acak-acakan itu dengan penuh sayang.
"Tidak, aku bahkan merasa snagat beruntung. Terima kasih karena telah mempercayakan hati dan masa depanmu denganku" Gibran tersenyum kemudian menarik tangan Jasmine untuk duduk dipangkuannya. Seolah mengerti apa yang diinginkan Gibran, Jasmine langsung duduk dipangkuan Gibran dan menempelkan keningnya pada kening paripurna itu.
"Sayang biarkan aku yang buka" Gibran hanya mengangguk lemah kemudian melepaskan rengkuhan tangannya dari pinggang istrinya.
"Apa kau yang memesan ini?" Gibran mengangguk tanpa menoleh, dirinya fokus pada benda pipih ditangannya.
__ADS_1
"Letakkan ponselmu dulu, ayo makan" Jasmine merebut paksa ponsel Gibran, bukannya marah. Gibran malah tersenyum dan mengikuti langkah kaki istrinya yang sudah berjalan lebih dulu.
...****************...
"Sayang, nanti aku akan mengajakmu pergi kesuatu tempat, jadi setelah ini bersiaplah" Gibran memeluk Jasmine dari belakang saat Jasmine mencuci piring setelah sarapan. Jasmine menoleh, melirik Gibran yang masih menyenderkan kepalanya dibahunya.
"Kemana?" Tanya Jasmine.
"Ikut saja, aku akan bersiap terlebih dahulu" Gibran melepaskan pelukannya kemudian mengecup pipi Jasmine singkat sebelum akhirnya dirinya berjalan memasuki kamar.
Setelah selesai mencuci piring, Jasmine langsung menyusul Gibran yang sudah masuk kedalam kamar terlebih dahulu, mendengar suara gemericik air, Jasmine menyimpulkan jika Gibran masih didalam kamar mandi. Meskipun rumah ini hanya satu lantai dan terholong sederhana, tapi kamar yang digunakan oleh Gibran sudah ada kamar mandinya.
"Sayang aku sudah menyiapkan pakaianmu" ucap Jasmine saat melihat Gibran keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
"Terima kasih" jawab Gibran tersenyum manis.
__ADS_1
Satu jam berlalu, dua insan yang sudah selesai bersiap itu langsung menaiki mobil yang akan ditumpangi mereka. Jasmine menoleh kearah Gibran yang sibuk dengan tablet ditangannya. Masih bertanya-tanya siapa Gibran sebenarnya, melihat dari mobil yang ditumpanginya saat ini, Jasmine menyimpulkan jika Gibran bukan orang sembarangan. Bahkan baju yang disiapkan olehnya tadi dilapisi jas oleh Gibran.
"Kita kehotel dulu" ucap Gibran kepada supir yang mengantar mereka. Mendengar ucapan Gibran, membuat Jasmine menoleh dengan cepat. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum dan mengusap tangan Jasmine yang berada digenggamannya.