
Pagi harinya.
"Dinda" Dinda yang sedang berada didepan supermarket pun menoleh saat ada yang memanggilnya.
"Wahyu" Melihat sang pemanggil, Dinda langsung membalikkan badannya dan akan bergegas pergi tapi tangan nya dicekal oleh Wahyu.
"Lepas" ucap Dinda dingin berbeda sekali dengan Dinda yang hangat sebelum insiden kemarin.
"Maafkan aku" ucap Wahyu tanpa melepaskan tangannya.
"Lupakan.. Aku sudah ti-" belum sampai Dinda menyelesaikan ucapannya sudah terdengar wanita berteriak memanggil Wahyu.
"Sayang" wanita tersebut langsung memeluk lengan Wahyu seolah tidak memperdulikan Dinda.
"Lepas" bentak Wahyu pada wanita tersebut yang tak lain adalah Novi.
"Wahyu" bentak seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari mobil. Mereka bertiga menoleh kesumber suara, Wahyu langsung melepaskan tangan Dinda sedangkan Novy tersenyum sinis.
__ADS_1
Plakk
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Dinda. Air mata Dinda menetes, sakit hati. Itu yang Dinda rasakan, bahkan ibunya sendiri tidak pernah menamparnya selama hidupnya tapi kenapa orang lain malah menamparnya dengan sesuka hati?.
"Ma" Wahyu berusaha mencegah mamanya.
"Apa Wahyu? Mau ngebela wanita J*lang ini? Mama sudah bilang jangan pernah temui wanita ini lagi. Oh apa jangan-jangan wanita ini yang memang mengejarmu?" Tessa berbicara dengan nada tinggi, berusaha menarik pengunjung supermarket untuk melihat bagaimana dia mempermalukan Dinda tapi dia tidak berpikir jika dia yang akan malu dengan sendirinya.
"Jaga mulut anda nyonya" suara dingin bersumber dari seorang pria tampan dengan setelan jas formal dan juga kacamata hitam yang baru saja turun dari mobil.
"Siapa kau? Apa kau juga simpanan wanita ini?" Tessa masih saja bersikap sombong seolah dia paling berkuasa disini.
"Wahh apakah itu benar Tuan Andra pewaris GNW company?"
"Aku tidak menyangka aku bisa bertemu langsung dengannya"
"Iya ternyata dia lebih tampan daripada yang difoto"
__ADS_1
"Beruntung sekali wanita itu menjadi kekasihnya"
"Lihatlah bagaimana Tuan Andra merengkuh pinggang wanita itu, terlihat sekali jika dia sangat penyayang"
Banyak bisik-bisik yang didengar oleh Tessa dari para pengunjung supermarket.
"Jadi kau mempunyai mangsa yang lebih kaya rupanya" masih saja tidak mengakui kesalahannya, Tessa menghalalkan segala cara untuk memojokkan Dinda dan membuat nya malu.
"Tuan Wahyu, anda seorang abdi negara, bisakah anda lebih tegas terhadap ibu anda yang tidak tahu etika itu?" Andra langsung berbicara pada Wahyu yang sedari tadi diam menahan amarah karena Dinda dipeluk oleh Andra, tapi apa daya? dia lebih menghormati ibu dan jabatannya jadi dia tidak berani mengambil langkah untuk membela Dinda.
"Saya akan tegas pada ibu saya, tapi bisakah anda menjaga mulut anda agar tidak menghina ibu saya?" Wahyu menjadi emosi, bukan hanya karena ibunya tapi lebih cenderung pada Andra yang seolah tidak mau melepaskan pelukannya pada Dinda.
"Saya akan menjaga mulut saya jika orang tersebut juga bisa menjaga mulutnya agar tidak menghina orang penting dihidup saya. Lebih baik mengintropeksi diri sendiri sebelum mengoreksi hidup orang lain. Dan lagi jangan pernah temui Dinda atau perusahaan dan jabatan mu yang akan jadi korban keegoisanmu" Andra langsung melenggang pergi dengan menggandeng Dinda. Wahyu yang merasa malu karena semua orang mencemoohnya dan Tessa langsung mengajak Tessa pulang.
"Terima kasih kak" Andra yang baru saja ingin menjalankan mobilnya terhenti saat Dinda memegang tangan kirinya.
"Untuk apa? aku rasa aku tidak melakukan apapun" jaaab Andra acuh kemudian menyenderkan kepalanya dijok mobil dan menatap Dinda dalam.
__ADS_1
"Terima kasih karena kak Andra sudah menganggap ku menjadi bagian penting dihidup kak Andra" Nah, Andra menjadi salah tingkah.
"Aku ada meeting jadi kita jalan sekarang" Andra lebih memilih mengalihkan pembicaraan daripada dia semakin salah tingkah.