
Sesi foto pun tiba, anggota keluarga bergantian untuk berfoto setelah mereka berfoto bersama. Senyum bahagia selalu terpancar dari pasangan suami istri yang baru saja sah itu. Para tamu undangan menikmati hidangan yang tersaji seraya berkenalan dengan tamu undangan yang lain. Tapi tidak dengan Lexa, wanita itu menatap tajam Vani yang selalu menempel pada Alvian. Bahkan sesekali mereka tertwa dan itu membuat Lexa ingin melenyapkan Vani saat itu juga.
"Aku yang lebih dulu mengenalnya tapi kenapa kau yang jadi kekasihnya. Sejak kecil kau selalu merebut perhatian orang disekitarku dengan prestasimu itu. Jangan salahkan aku jika aku mulai bertindak dan mengambil apa yang kau punya termasuk Alvian. Sudah cukup aku membuatmu hidup tenang selama ini." gumam Lexa didalam hati dan mengepalkan tangannya.
Kini keluarga Gunawan dan keluarga Yunanda sedang berkumpul di meja khusus keluarga, terlihat juga orang tua Vani yang duduk berkenalan dengan Heru dan Sandra.
"Aa ady atuhh atuhh" Baby Gibran yang digendongan Riko berceloteh saat kue yang ditangannya jatuh.
"Minta tolong mommy ambilkan" ucap Riko seraya menunjuk Imelda yang duduk disampingnya dan mengobrol dengan Vira.
"Omyy omyy" panggil Baby Gibran seraya menepuk pundak Imelda. Imelda pun menoleh dan tersenyum.
Imelda merentangkan kedua tangannya hendak menggendong baby Gibran tapi baby Gibran langsung menggeleng cepat.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Imelda heran.
"Omyy mamam atuh atuhh" ucap Baby Gibran seraya menunjuk bawah kursi.
"Oh jatuh, mau lagi?" tanya Imelda dan baby Gibran pun menjawab "Auu auu" seraya mengangguk.
Imelda langsung mengambil kue yang ada dihadapan Vira karena dihadapannya hanya ada makanan ringan.
"Vian cepat lamar Vani, om sudah tidak sabar menimang cucu" goda Leo hingga membuat semua orang tertawa sedangkan Vani tersipu malu.
"Secepatnya om" jawab Alvian sopan.
"Kenapa tidak melamarnya sekarang juga? disini sudah banyak wartawan yang hadir dan aku yakin kalian akan jadi artis besok" usul Deny asal seraya memakan jamuan didepannya.
__ADS_1
"Sepertinya itu ide bagus, jadi semua orang bisa tahu kalau Vani milik Alvian Gunawan" jawab Alvian hingga membuat semua orang terperangah.
Alvian langsung menarik tangan Vani menuju podium, para orang tua saling tatap. Apakah Alvian benar melakukan apa yang disarankan Deny?. Sedangkan Deny dibuat melongo karena Alvian menganggap ucapannya serius.
"Selamat siang, saya minta perhatiannya sebentar" ucap Alvian menggunakan mikrofon dan para tamu yang awalnya mengobrol memusatkan perhatian mereka pada Alvian. Wajah Vani bersemu, dia hanya mampu menundukkan kepalanya.
Setelah memastikan situasi sudah kondisional, Alvian menghadap Vani dan memegang tangan Vani menggunakan tangan kirinya.
"Will you marry me baby? Kau harus menerimanya, karena sekarang aku secara resmi melamarmu dihadapan semua orang. Ayo menikah, terlalu melelahkan jika aku harus mengantarmu dan pergi meninggalkanmu disaat hatiku masih sangat merindukanmu. Aku tidak bisa berkata manis seperti kak Andra bahkan aku juga belajar dari kak Andra untuk merangkai kata romantis tapi aku sudah meluoakan semuanya, aku tidak ingat sama sekali. Hufttt, lupakan lupakan. Oh ya apa kau tahu? aku sudah sangat sangat ingin mempunyai baby seperti Gibran. Jadi ayo menikah dan kita bisa membuatnya. Oke sekali lagi will you marry me?" Alvian yang humoris, bahkan disaat yang serius dia masih sempat bercanda hingga semua tamu dibuat terkikik dan juga terharu. Sedangkan Andra menepuk jidatnya.
"Sia-sia Al, kamu belajar denganku cara melamar wanita tapi kau malah menggunakan caramu sendiri" gumam Andra seraya geleng-geleng kepala.
Vani hanya mampu mengangguk dan langsung memeluk Alvian erat, air matanya sudah menetes dari tadi. Tidak menyangka bahwa lamarannya jauh dari ekspetasinya tapi tidak apa lamaran seperti ini mempunyai kenangan tersendiri.
__ADS_1