
"Maaf karena aku menghilang selama ini, maaf jika aku membuatmu kesepian dan menunggu. Maaf juga karena aku melibatkan keluargamu dalam menjalankan rencana ini. Tapii hanya satu yang ingin kutanyakan, Will you Marry Me?" Chayra menatap mata elang itu, terdapat sorot mata tulus disetiap ucapannya.
Chayra hanya terdiam, disatu sisi dia merindukan sosok Marcell taoi disisi lain dirinya juga kecewa dengan perubahan sikap Marcell beberapa bulan terakhir ini. Chayra menatap satu-persatu orang yang ada didalam ruangan itu. Semuanya mengangguk, hanya Gibran yang terlihat tidak menunjukkan respon apapun.
"Aku tidak akan mengajakmu menikah dalam waktu dekat, aku hanya ingin melamarmu lalu kita mempunyai ikatan yang jelas" sambung Marcell menatap Chayra yang masih terlihat ragu.
"Yes i will" jawab Chayra cepat, selain dirinya meragukan keseriusan Marcell tapi Chayra juga tidak ingin menikah diusianya yang masih sangat muda. Bahkan dirinya belum mempunyai kemampuan apa-apa yang bisa dibanggakan.
Marcell berdiri dari posisi jongkoknya kemudian memakaikan cincin dijari manis Chayra dan mengecupnya. Cukup lama tangan putih itu menempel pada bibir Marcell jika Chayra tidak menariknya. Chayra menunduk, menyembunyikan raut merah diwajahnya.
Cukup lama mereka saling diam, bahkan semua orang sudah menikmati hidangan yang disediakan, tapi dua insan yang masih saling berlomba senam jantung itu masih saling pandang ditempatnya.
"Ikut aku" Marcell langsung menarik tangan Chayra dan mengajaknya menaiki tangga yang menghubungkan dengan rooftop restoran. Suasana malam diatas bangunan terlihat jelas disana.
__ADS_1
Marcell mendorong tubuh Chayra sampai menempel pada dinding pembatas rooftop. Menempelkan tubuhnya hingga tidak tersisa jarak satu centi pun. Jantung Chayra berpacu dengan cepat, bahkan bulu kuduknya seketika berdiri saat Marcell memeluknya.
"I love you and i'am sorry" hembusan nafas hangat itu menerpa telinga Chayra, Chayra menggerakkan tangannya hingga akhirnya membalas pelukan hangat yang sudah hampir dua tahun ini dia rindukan.
"Kau kemana hiks" lirih Chayra dengan aur mata yang sudah bercucuran dipipinya.
"Aku akan menceritakannya nanti" Marcell melepas pelukannya tapi tidak menggeser sedikitpun posisi tubuhnya. Menangkup pipi yang basah itu kemudian mengecup pipi yang mengeluarkan air mata itu. Mata Chayra terpejam, merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa wajahnya.
"Maafkan aku karena dengan lancang mengambil ciuman pertamamu" ucap Marcell hingga membuat Chayra tersipu dan kembali memeluk tubuh kokoh itu.
"Ayo duduk disana" Marcell menunjuk satu kursi panjang yang terletak tidak jauh dari temoatnya berdiri. Chayra mengangguk, kemudian mengikuti langkah Marcell yang menariknya.
"Apa kau merindukanku?" Marcell terkekeh kecil saat melihat Chayra menyenderkan kepalanya dibahu kokohnya.
__ADS_1
"Sopankah bertanya begitu saat beberapa bulan ini kau hilang tanpa kabar?" ketus Chayra.
Marcell menghembuskan nafasnya pelan kemudian mengecup pucuk kepala gadis itu.
"Maafkan aku, aku mempunyai alasan kenapa aku menghilang begitu saja" lirih Marcell dengan menatap lurus kedepan.
"Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?" tanya Chayra seraya mengusap rahang kokoh itu.
"Aku akan menceritakannya padamu, tapi sebelum itu aku ingin kekamar mandi sebentar" ucap Marcell dan diangguki oleh Chayra. Chayra mengangkat kepalanya dan menatap punggung Marcell yang mulai jauh dari pandangannya.
Ting
Suara dering ponsel Marcell membuyarkan lamunan Chayra. Menatap pada benda persegi panjang yang menyala itu, dengan ragu Chayra mengambil ponsel Marcell dan membaca pesan yang tertulis disana. Chayra menutup mulutnya, air mata menetes begitu saja.
__ADS_1