
Bibir cantik itu mencebik, mengalihkan pandangannya kearah luar menatap pohon yang silih berganti diiringi kecepatan mobil yang ditumpanginya. Hampir dua jam duduk dimobil dan bertanya pada Gibran, tapi Jasmine sama sekali tidak mendapat jawaban. Bahkan sekarang mobil yang ditumpanginya pun berhenti tepat didepan loby hotel yang dimaksut Gibran, tanpa mengajak Jamsine turun Gibran langsung turun begitu saja. Jasmine melongo, menatap punggung Gibran yang sudah memasuki loby hotel.
Jasmine membuka pintu mobil dan turun, bersender dimobil. Dirinya membaca tulisan atau lebih tepatnya nama hotel yang tertulis besar disana.
"Ryuichi? Bukankah Ryuichi nama awal Gibran?" Jasmine menutup mulutnya saat menatap kearah loby hotel yang terlihat Gibran masih berdiri dengan gagahnya dan juga banyak karyawan yang menunduk hormat padanya.
Jasmine memilih untuk memasuki mobil kembali berharap menemukan atas jawabannya dari supir yang mebgantarkan mereka.
"Pak sebenarnya ini mobil siapa?" Tanya Jasmine pada supir yang duduk dikursi kemudi.
"Hotel milik tuan muda nona" jawab sang supir sopan.
"T-tuan muda?" Baru saja ingin bertanya lebih lanjut, Gibran sudah memasuki mobil dan tersenyum kearahnya.
__ADS_1
"Ayo jalan pak" Supir mengangguk kemudian menancap pedal gasnya.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumah utama, pagar menjulang tinggi membuat Jasmine semakin bertanya-tanya siapa sebenarnya suaminya ini.
"Selamat siang tuan muda" sapaan satpam yang membuka pintu gerbang, hanya dibalas anggukan oleh Gibran. Jasmine menoleh kesana-kemari, memperhatikan jalanan yang akan menuju kepintu utama rumah megah yang ada didepannya.
"Tuan dan nyonya sudah menunggu diruang keluarga tuan muda" Baru saja turun dari mobil, Jasmine kembali dikejutkan dengan suara para pelayan yang sudah berjejer rapi dipintu utama.
"Ada tuan muda" jawab pelayan dengan sopan.
"Mom, dad" dua orang yang sibuk menonton film di layar besar itu menoleh saat mendengar suara. Berbeda dengan Imelda yang langsung berdiri dan berjalan mendekat, Riko malah duduk diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Apakah ini menantu Mommy?" pertanyaan Imelda membuat Jasmine semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Gibran, Jasmine semakin gugup saat Imelda menelisik penampilannya.
__ADS_1
"Ha-Hallo nyonya" bibir Jasmine bergetar, sebisa mungkin dirinya menutupi kegugupannya tapi gagal. Dua orang paruh baya didepannya ini bukan orang sembarangan, Jasmine tahu itu.
"Panggil Mommy saja, ayo duduk" Imelda langsung meraih tangan Jasmine yang digenggam oleh Gibran, mengajaknya duduk tanpa memperdulikan Gibran yang masih menatapnya kesal.
"Ada yang ingin kau jelaskan Ryuichi Gibran Squelle?" jika daddynya sudah bertanya dengan nada seperti ini, sudah bisa dipastikan daddynya sedikit kecewa dengannya.
"Tentu daddy sudah tahu tanpa Gibran menjelaskan apapun" jawab Gibran tenang. Riko mendengus kesal, entah menurun dari siapa sifat arogan anaknya itu. Riko tidak ingin mengakui bahwa dirinya juga arogan.
"Haii kakakk" Chayra langsung memeluk leher Gibran dan menelusupkan kepalanya dileher kakaknya, belum menyadari jika ada orang lain di ruang keluarga itu. Berbeda dengan Gibran yang mengelus rambut adiknya penuh sayang, Jasmine menatap dua manusia yang masih saling tatap itu dengan tatapan cemburu. Sepertinya Jasmine belum menyadari jika gadis remaja itu gadis yang biasa melakukan panggilan video dengan Gibran.
"Chayra duduk" ucapan sang daddy membuat bibir Chayra mengerucut dan langsung duduk disamping Gibran.
"Wahhh apa kau kak Jasmine? cantik sekali, ternyata lebih cantik daripada difoto" Chayra yang semula duduk disamping Gibran langsung berdiri dan duduk disamping Jasmine.
__ADS_1