
Semua orang terkejut, tidak menyangka ada ayah yang tega menjual anak kandung nya sendiri demi wanita yang baru dikenalnya. Sangat memalukan. Tanpa rasa bersalah, setelah mendapat uang dari Tuan Jek, Hans langsung pergi begitu saja dan menjual rumahnya.
"Ada kami disini, kamu tidak perlu takut" ucap Imelda seraya memeluk sahabatnya itu.
"Iya din, kamu bisa tinggal dirumahku kalo kamu mau" ucap Vani yang juga ikut memeluk Dinda.
"Terima kasih, aku sangat bersyukur bisa kenal dengan orang baik seperti kalian. Tapi aku akan tinggal di apartemenku, aku tidak mau hidup ketergantungan dengan orang lain" jawab Dinda sendu.
"Nakk, kamu tidak bergantung. Justru kami akan sangat bahagia karena rumah ini akan semakin ramai." jelas Sandra.
"Apa yang dikatakan mama benar, sebaiknya kamu tinggal disini nakk, sampai anak buah Tuan Jek sudah tidak mencarimu. Papa yakin pasti mereka akan terus menerormu saat ini. Jadi tinggalah disini sampai waktu benar-benar aman" Kalau Heru sudah berkata, tidak ada yang berani membantahnya.
"Baik pa" jawab Dinda pasrah dan Sandra pun tersenyum lega.
"Pa, Ma, Andra oergi kekamar dulu" pamit Andra kemudian mengecup.kening Sandra dan Imelda bergantian.
"Kakk" panggil Alvian menghentikan langkah Andra yang akan menaiki tangga.
"Ada apa?. apa kau ingin dicium juga?" tanya Andra dengan mata memicing.
__ADS_1
"Dasar Gila" teriak Alvian bergidik ngeri hingga membuat semua orang terkikik geli sedangkan Heru hanya menggelengkan kepalanya.
"Modelmu" ucap Andra hingga membuat semua orang melongo mendengar ucapan Andra kecuali Imelda yang sudah terbahak sampai menutupi wajahnya dengan bantal sofa.
"Dapet bahasa dari mana kak?" teriak Alvian saat Andra sudah berjalan menaiki tangga.
"Imelda Farasya Gunawan" jawab Andra lantang dan Imelda langsung bangkit dan bersembunyi di dada bidang sang suami.
"Hah?" semua orang kembali melongo tak percaya sedangkan Imelda semakin malu.
"Benarkah sayang?" tanya Riko yang dijawab anggukan oleh Imelda.
"Sudah sudah, sebaiknya kita semua istirahat, Vani bisa tidur disini" ucap Heru.
"Baiklah, Alvian akan mengantarmu" ucap Heru tegas
"Tapi pa..." belum sampai Alvian menolak papanya sudah menatap nya dnegan tatapan tajam
"Baik lah. Ayo" ajak Alvian.
__ADS_1
Sstelah berpamitan, Alvian dan Vani pun langsung berlalu keluar. Didalam mobil, tidak ada diantara mereka yang membuka percakapan. Baik Vani atau pun Alvian sama sekali tidak berniat membuka obrolan. Setelah menempuh perjalanan 45menit, Akhirnya mobil Alvian sampai didepan rumah lantai dua bergaya klasik itu.
"Kakk" panggil Vani sebelum turun dari mobil
"Hm" jawab Akvian menyenderkan kepalanya tanpa menoleh sama sekali.
"Maafkan Vani" ucap Vani seraya menitikkan air mata
Alvian menghela nafasnya, hatinya hancur saat melihat wanita yang dicintainya menitikkan air mata.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi masuklah. Aku juga minta maaf atas sifat egoisku" ucap Alvian seraya memeluk erat Vani.
Vani pun langsung membalas pelukan Alvian tak kalah eratnya, ketakutannya akan kemarahan Alvian lenyap sudah saat melihat Alvian sudah kemvali bersikap lembut padanya.
"Apa kakak tidak mau mampir?" tanya Vani saat hendak turun.
"Tidak. Sudah malam. masuklah, aku akan menunggumu disini sampai kau benar-benar aman" jawab Alvian kemudian mengecup kening Vani.
"Vani sayang kakak" ucap Vani kemudian langsung berlari masuk kedalam rumah. Dan Alvian pun hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Aku tidak tahu kapan rasa ini muncul, aku terjebak dalam permainanku sendiri. Aku yang awalnya hanya iseng dan tidak berniat serius padamu kini aku malah menjadi seperti budak cinta saat bersamamu. I love you more.
(gumam Alvian dalam hati kemudian langsung menginjak pedal gasnya untuk pulang)