
Gibran meletakkan cangkirnya, menatap Jasmine yang terlihat cantik dengan balutan kebaya sederhana. "Jasmine" Jasmine mendongak saat Gibran menyebut suaranya begitu merdu.
"Maaf karena aku tidak sekaya orang tuamu, maaf karena mengajakmu tinggal dirumah kecil seperti ini" Gibran menatap Jasmine yang duduk disampingnya, Jasmine mendekatkan tubuhnya dan memeluk tubuh kokoh itu.
"Aku bersyukur karena kau bersedia menikahiku mendadak seperti tadi, aku juga berterima kasih karena kau dengan cepat sampai ke kota ini. Kita bisa memulai hidup bersama, aku tidak peduli seberapa banyak kekayaanmu" Gibran tersenyum saat mendengar ucapan Jasmine.
"Kebohongan apapun nanti yang kau ketahui didiriku kuharap kau tidak membenciku" senyuman yang sedari tadi mengulas dibibir cantik Jasmine seolah menghilang, pikiran negatif berkeliyaran di otaknya.
"Aku tidak akan membencimu" ucap Jasmine dan menyenderkan kepalanya dibahu kokoh itu. Gibran mengangkat kepala Jasmine dengan kedua tangannya, memajukan wajahnya untuk menempelkan apa yang selama ini dengan susah payah ditahannya.
"Kita tunggu sampai anak buahmu mengantarkan pakaian lalu aku akan menunjukkan sesuatu padamu" Gibran mengusap ujung bibir Jasmine yang sedikit basah karena ulahnya. Jasmine hanya mengangguk dengan wajah bersemu.
Benar, tidak lama terdengar suara ketukan pintu yang nyaring. Gibran segera berdiri dan membuka pintu.
__ADS_1
"Taruh saja dikamar" Gibran membuka pintu sedikit lebar agar anak buah Jasmine dengan leluasa bisa masuk.
Kini sudha hampir dini hari, tapi sepasang pengantin baru itu baru saja bisa lega karena anak buah sudah selesai membereskan barang-barang Jasmine. Rumah yang semula luas karena ditinggali satu orang tersebut jadi sedikit sempit karena banyaknya buku-buku yang masih didalam karton.
"Jasmine, apa kau siap?" pertanyaan ambigu dari mulut Gibran lolos negitu saja, Jasmine mengangguk malu. Dipikiran Jasmine adalah melakukan kegiatan sepasang suami istri tapi dugaannya salah, karena bukan itu yang dimaksut oleh Gibran.
Gibran melepaskan kacamatanya, sedangkan Jasmine mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan Gibran didepannya seraya duduk diranjang berukuran sedang yang ada dikamar Gibran. Bukan kamar Gibran, lebih tepatnya kamar mereka sekarang. Segera mengacak rambutnya agar tidak beraturan untuk lebih meyakinkan wajah aslinya.
"G-Gibran" Jasmine menutup mulutnya saat melihat pergerakan terakhir Gibran yang melepas tompel dipipinya. "K-kau?" Jasmine semakin terbata saat melihat wajah asli suaminya.
"T-tapi kenapa kau menyamar seperti itu?" Jasmine menatap Gibran dengan tatapan penuh selidik.
"Aku hanya ingin menempuh pendidikan tanpa banyak dikejar oleh pata wanita tidak tahu diri. Aku hanya mengantisipasi diriku sendiri, dan juga aku ingin mengetahui siapa yang benar-benar tulus padaku. Dan aku sudah menemukannya" Jasmine menatap Gibran yang sudah menggulung legan kemejanya sampai siku. Satu langkah, dua langkah, Gibran semakin dekat dengan Jasmine. Jasmine memejamkan matanya saat merasakan benda kenyal menempel dibibirnya.
__ADS_1
"Gibran" Jasmine sedikit mendorong tubuh Gibran yang sudah diliputi nafsu, begitu juga dirinya.
"Maaf" Gibran segera mengusap bibir cantik yang sedikit basah itu.
"G-Gibran apa kita akan melakukannya sekarang?" Jasmine menunduk malu, entah kenapa dirinya bisa bertanya hal konyol semacam itu.
"Aku hanya akan melakukannya jika kau mengizinkan" Gibran duduk disamping Jasmine dan mengelus rambut lurus itu.
"Aku siap" menurut Jasmine, tidak ada hal yang perlu ditunda. Gibran sudah mengorbankan hidupnya demi menikahinya. Jadi tidak ada alasan untuk Jasmine menolak ajakan Gibran untuk melayani sebagai istri yang sempurna.
Gibran tersenyum dan langsung memeluk Jasmine, membuka resleting dengan hati-hati lalu melancarkan aksinya mulai dari bagian atas. Jasmine menggeliat saat Gibran menyusuri tubuhnya, ada sensasi aneh yang dirasakan keduanya.
Cukup lama, hingga ayam sudah berkokok tapi kedua manusia yang masih dilanda bahagia itu masih berbalut selimut. Baru saja lima menit yang lalu selesai pergukatan panjang yang mengeluarkan peluh keringat penuh nikmat.
__ADS_1
"Terima kasih" ucap Gibran seraya mengecup kening Jasmine yang sudah memejamkan matanya.