
Berjalan dengan labgkah tertatih sebenarnya itu hanya akal-akalan Lexa, kakinya tidak ada yang sakit hanya saja Lexa ingin menarik simpati Alvian. Karena jarak pantai dan Vila tidak terlalu jauh, akhirnya mereka sampai di Vila.
"Kamu duduk disini dulu aku akan mengambil makanan untuk Gibran" ucap Vani kemudian mengikuti Alvian yang berjalan masuk kedalam Vila. Sedangkan Lexa duduk dikursi luar Vila dengan senyuman yang tak bisa diartikan.
"Sayang" Alvian menoleh saat ada yang memanggilnya dari belakang.
"Iyha" bukan Alvian marah, hanya Alvian sedikit kesal karena Vani masih tetap percaya pada wanita ular itu.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan dan aku pun juga memikirkan hal yang sama. Aku kenal Lexa sudah dari kecil jadi aku tahu sifat dia yang asli. Sekarang aku ingin memastikan dugaanku benar atau salah" Jelas Vani membuat Alvian menghrla nafasnya
"Iya aku akan membantumu" jawab Alvian lembut dan mengacak gemas rambut Vani.
"Sayang onty laper banget ya" ucap Vani saat melihat baby Gibran dengan lahap saat disuapi oleh Alvian.
"Van siapa diluar?" tanya Imelda yang baru saja masuk bersama Riko.
"Sepupu aku Mel" jawab Vani disertai senyum sekilas.
"Kok bisa disini?" tanya Imelda heran kemudian duduk di sofa.
"Dia bilang ketinggalan kapal entah itu benar atau tidak" Vani menjawab seraya mengedikkan kedua bahunya.
Imelda hanya beroria saja meskipun Imelda bisa merasakan jika ada yang janggal.
__ADS_1
******
Waktu sudah sore, matahari juga mulai condong kearah barat. Persiapan untuk pulang sudah siap. Lexa juga ikut pulang bersama menaiki jet pribadi keluarga Gunawan karena tidak mungkin jika meninggalkan Lexa di pulau tersebut.
Kini anggota keluarga sudah memasuki pesawat.
"Sayang sebentar ya aku ingin ketoilet" baru saja duduk, Vani kembali berdiri karena ada sesuatu yang harus dituntaskan.
"Hati-hati sayang" jawab Alvian.
Lexa yang melihat Vani berdiri menuju toilet yang berada didalam pesawat langsung menyusulnya. Menunggu didepan toilet, Lexa dibuat cemas karena Vani tidak kunjung keluar sedangkan pesawat sudah akan terbang.
"Eh Lexa apa kau juga ingin ketoilet?" tanya Vani saat baru saja keluar dari toilet.
"Apa?" tanya Vani mengerutkan dahinya.
"Handphone ku tertinggal dikamar mandi Vila, bisakah kau mengambilkannya?" tanya Lexa dengan nada yang dibuat sedrama mungkin.
"Sebentar aku akan meminta Alvian untuk mengantarku" Baru saja Vani ingin melangkahkan kakinya, Lexa sudah mencekal tangannya.
"Tidak usah Van, Penjaga Vila kan juga sudah mengenalmu. Jadi cepatlah" Lexa langsung mendorong Vani keluar pesawat, ini kesempatan emas saat tidak akan FA yang mengawasinya. Meskipun ini jet pribadi tapi keluarga Gunawan tetap menyediakan FA agar perjalanannya lebih nyaman.
Lexa langsung kembali ketempat duduknya saat melihat FA ingin menutup pintu, dengan senyuman menyeringai, Lexa memandang Vani yang berjalan mendekati Vila.
__ADS_1
"Apa semuanya sudah ada didalam?" Sebelum terbang Heru memastikan jika nggota keluarganya lengkap tidak ada yang tertinggal.
"Iya pa" jawab mereka serempak.
"Vian, dimana Vani?" tanya Heru saat tidak melihat calon menantunya duduk disamping Alvian.
"Vani sedang di toilet pa" jawab Alvian.
"Baiklah kita bisa terbang sekarang" ucap Heru dan pilot pun langsung menerbangkan pesawatnya. Saat perjalanan sudah 10 menit, Alvian risau saat Vani tidak kunjung kembali. Dengan cepat, Alvian langsung menuju toilet dan Alvian tidak menemukan Vani didalam.
"Capt putar balik" ucap Alvian tegas dan menatap Lexa tajam hingga membuat Lexa ketakutan.
"Ada apa Alvian?" tanya Sandra saat melihat Alvian diliputi rasa panik.
"Vani tertinggal ma" jawab Alvian gusar.
"Capt putar balik" Ucap Heru tegas.
"Baik tuan" Pilot langsung kembali mengemudikan pesawat untuk kembali kepulau tersebut. Meski terdengar aneh, tapi tidak ada yang bisa membantah perintah sultan.
"Katamu Vani ditoilet, kenapa bisa tertinggal?" tanya Heru tegas.
"Tadi Vani pamit ketoilet pa tapi aku juga tidak tahu kenapa dia bisa turun lagi" jawab Alvian tak henti-hentinya melihat jam ditangannya. Hari sudah mulai gelap, Alvian semakin panik saat hujan turun deras sedangkan pesawat belum juga sampai.
__ADS_1
Saat pesawat sudah mendarat dengan sempurna, Alvian langsung berlari keluar tidak peduli hujan dan petir yang terdengar saling beradu. Baginya keselamatan calon istrinya nomor satu meskipun itu harus mengorbankan nyawanya sendiri.