
Hancur, itu yang dirasakan Dareen saat melihat coklat yang diberikannya tadi pada Chayra jatuh dibawah kursi. Entah kenapa dirinya sakit hati, dirinya tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Bahkan biasanya dirinya yang menerima coklat tapi sekarang dia yang memberi tapi tidak diterima.
"Bro keluar yuk" Tino merasa aneh pada Dareen yang melamun seraya menatap kursi Chayra.
"Kalian duluan, nanti gue nyusul" Ucap Dareen tanpa mengalihkan pandangannya.
"Oke" Jawab Tino dan Alex bersamaan kemudian bangkit dan langsung keluar kelas. Setelah kedua sahabatnya keluar, Dareen langsung berdiri dan menghampiri bangku Chayra. Mengambil coklat yang jatuh dan memasukkannya kedalam tas.
"Kenapa kau berbeda dengan gadis yang kutemui sebelumnya?" lirih Dareen seraya menatap kursi kosong yang ada didepannya itu. Berlalu keluar, Dareen yang ingin menyusul para sahabatnya terhenti saat melihat Chayra yang berjalan jauh didepannya dan ada Marcell didepan Chayra. Dengan langkah pasti, Dareen mengikuti langkah mereka hingga Dareen sampai pada taman belakang yang tidak terlalu ramai, dilihatnya Chayra sedang duduk disebuah Gazebo bersama Marcell.
"Kenapa kau lebih suka bersama batu itu? bahkan dia tidak pernah bicara sama sekali? apa karena dia pernah menolongmu? apa aku juga harus menolongmu setiap saat agar kau bisa melihatku?" lirih Dareen dengan pandangan tak lepas dari Chayra yang belajar bersama Marcell.
"Cell, kenapa aku merasa tidak asing dengan wajahmu ya? apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Marcell yang semula sibuk dengan buku mendongakkan kepalanya. Mata tajam itu menatap mata cantik milik adik Gibran itu.
__ADS_1
"Tidak" jawab Marcell tegas dan kembali membaca buku.
"Mungkin aku salah orang" Chayra menampik pemikirannya, Marcell sedikit melirik Chayra yang sibuk mengotak atik ponselnya.
Marcell meletakkan buku didepan Chayra dan itu berhasil membuat Chayra terkejut. "Belajar, letakkan ponselmu. Kasianilah matamu" Marcell berkata cenderung tegas dan dingin tapi mampu membuat Chayra patuh dan merasakan gelenjar aneh didalam hatinya.
"Aku tidak mengerti bagian ini" lirih Chayra seraya mengetuk-ngetuk buku yang ada didepannya.
"Coba lihat" Chayra mendongak saat mendengar Marcell berbucara dengannya. Chayra menggeser tubuhnya hingga tidak ada jarak diantara mereka, bahkan bahu mereka bersentuhan.
"Apa kau mengerti?" Chayra seolah terhipnotis dengan wajah tampan serta tatapan tajam itu, Chayra hanya mengangguk kemudian meraih bukunya.
"Apa kau mencintai Chayra?" Agatha yang sedari tadi memperhatikan reaksi Dareen saat melihat kedekatan Chayra dan Marcell memutuskan untuk bertanya.
__ADS_1
"Bukan urusanmu" jawab Dareen dingin.
"Aku iri dengan Chayra, dirinya punya banyak orang yang melindunginya. Tapi aku?" Gumam Agatha seraya tersenyum getir. Dareen menatap wajah Agatha yang berada disampingnya. Terlihat jelas kalau wajah Agatha dipenuhi kesedihan bahkan sorot mata yang biasa terlihat sombong kini sendu.
"Maksutmu?" tanya Dareen mencoba memperjelas maksut ucapan Agatha.
"Sudahlah lupakan. Jika kau mencintainya kau harus mengikhlaskan dirinya bersama orang lain. Bukankah titik tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan?" Agatha mengikuti arah pandang Dareen yang masih setia menatap Chayra dan Marcell.
"Kenapa kau bisa bilang seperti itu jika kau saja belum mengerti arti mengikhlaskan? apa kau lupa jika kemarin kau hampir melukai Chayra karena Chayra dekat dengan kak Elard?" Tanya Dareen seraya tersenyum sinis.
"Aku tidak mencintai kak Elard, aku hanya berobsesi untuk mendapatkannya. Lagi pula kemarin aku belum bisa membedakan mana cinta mana obsesi" Dareen terkejut dengan perubahan sikap Agatha yang cukup drastis, bahkan Agatha yang kemarin seolah ditelan bumi dan berganti Agatha yang dewasa dan berpemikiran baik.
Tapi Dareen tidak bisa percaya begitu saja pada Agatha, bagaimanapun Agatha terkenal sombong dan semaunya sendiri dan itu membuat hati Dareen ragu jika Agatha berubah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...