
Belum sampai Deny menuruni tangga, langkahnya terhenti saat ada yang memanggilnya.
"Tuan Deny" Panggil seseorang tersebut sedikit berteriak yang tak lain adalah Andra.
Deny membalikkan badannya dan melihat Andra berjalan kearahnya.
"Ada apa tuan?" Tanya Deny sopan
"Jangan memanggilku tuan panggil namaku saja" Ucap Andra seraya menepuk pelan bahu Deny
"Lalu anda juga tidak boleh memanggilku tuan" Balas Deny
Andra pun menganggukkan kepalanya dan bertanya
"Oh ya, kata anda tadi anda melihat teman lama anda ikut ke acara keluarga saya. Apa sudah bertemu?" Tanya Andra
"Belum Ndra" Jawab Deny
"Ayo, aku kenalkan anda pada keluarga besar saya mungkin saja anda bisa bertemu dengan teman lama anda" Ajak Andra
"Tidak perlu ndra. Mungkin saya salah lihat" Tolak Deny halus.
"Tidak apa ayo" Ajak Andra lagi
Mereka terus berdebat hingga suara panggilan menghentikan perdebatan mereka.
"Andra" Panggil Heru
"Iya pa" Jawab Andra dan menengok kearah Heru
"Loh tuan Deny?" Tanya Heru terkejut
__ADS_1
"Maaf mengganggu acara anda tuan" Ucap Deny tidak enak
"Tidak apa tuan, ayo masuk. Panggil om saja" Ucap Heru sambil tersenyum
"Baik om, anda juga tidak perlu memanggil saya tuan" Balas Deny ramah yang dibalas senyum juga anggukan kepala oleh Heru
"Andra, ayo ajak Deny masuk" Titah Heru yang diangguki oleh Andra
Mereka bertiga memasuki tempat acara. Saat mereka masuk, semua orang yang sudah selesai berdansa pun sedang bersantai dan bercanda di sofa yang ada di rooftop itu.
"Loh pa ini siapa?" Tanya Sandra sambil menunjuk Deny hingga menyita pandangan semua orang.
"Sepertinya aku tidak asing dengan wajah itu" gumam Imelda didalam hati
"Ini rekan bisnis papa ma, Namanya Deny Weyler" Ucap Heru hingga membuat semua orang terkejut kecuali Andra.
uhukk uhukk
"Hati-hati sayang" Ucap Riko penuh perhatian seraya memberikan segelas minuman
"Makasih" Ucap Imelda lembut yang dibalas senyum Riko.
Sedangkan Deny yang sedari tadi hanya memperhatikan pun menjadi panas.
"Silahkan duduk nak Deny" Ucap Sandra yang dibalas anggukan juga senyuman oleh Deny
Setelah semuanya duduk, Heru pun membuka obrolan mereka.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" Tanya Heru to the point
__ADS_1
"Bulan depan pa" Jawab Riko tenang hingga membuat Imelda dan Deny membelalakkan matanya.
"Apa tidak terlalu cepat? Bulan depan tinggal 2 minggu lagi. Pernikahan juga membutuhkan persiapan yang matang" Ucap Imelda pada Riko
"Tidak sayang, aku sudah tidak sabar memilikimu seutuhnya" Ucap Riko sengaja karena sedari tadi Riko memperhatikan jika Deny selalu menatap Imelda dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Wajah Imelda memerah saat mendengar kalimat ambigu Riko sedangkan yang lain hanya terkekeh
"Kau selalu membuat adikku malu" Gerutu Alvian seraya melempar bantal sofa ke arah Riko yang kembali membuat semua orang terkikik
"Lebih cepat lebih baik. Mama sudah tidak sabar menggendong cucu" Ucap Sandra yang mengundang gelak tawa semua orang tapi tidak dengan Imelda yang menunduk malu sedangkan Deny hanya tersenyum getir.
"Saya pamit kekamar mandi sebentar" Ucap Deny langsung berdiri dari duduknya.
Riko yang melihat Deny keluar pun memutuskan untuk mengikutinya.
"Ma pa, Riko pamit keluar sebentar." Pamit Riko pada kedua orang tuanya juga calon mertuanya yang diangguki mereka.
"Sayang aku keluar sebentar" Pamit Riko pada Imelda seraya mengecup kening Imelda dan lagi-lagi Imelda hanya menunduk malu sedangkan kedua orang tua mereka hanya menggelengkan kepalanya.
Saat Riko baru berdiri dan akan keluar, Alvian langsung menghampiri Imelda dan duduk disamping Imelda dengan menyenderkan kepalanya di bahu Imelda.
Sebelum keluar Riko membalikkan badannya dan betapa terkejutnya dia saat melihat Alvian manja dengan Imelda
"Hei kak kenapa kau bersender dibahu istriku? Itu hanya untuk aku" Gerutu Riko
"Apa kau lupa jika masih calon?" Jawab Alvian tanpa menoleh kearah Riko
"Tap-" Belum sempat Riko menyelesaikan ucapannya, Tomi sudah terlebih dulu memotongnya.
"Riko" Peringat Tomi
__ADS_1
"Iya pa" jawab Riko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sehingga membuat semua orang tertawa.