
Hari ini adalah hari dimana Gibran akan pulang dari rumah sakit. Di rumah keluarga Gunawan sudah ramai keluarga besar untuk menyambut anggota tampan baru di keluarga Gunawan dan Yunanda.
Kini tinggal Riko, Alvian dan Vani yang masih berada di rumah sakit untuk membantu Imelda membereskan barangnya. Meskipun sudah ada pwngawal yang dikirim untuk mengemasi barang-barang tapi tetap saja Imelda tetap mengecek agar tidak ada yang tertinggal.
"Apa semua sudah siap?" tanya Alvian.
"Sepertinya sudah" jawab Vani.
"Baiklah kita pulang sekarang" jawab Alvian dan langsung menyuruh para pengawal untuk membawakan barang-barang sedangkan Riko mendorong Imelda di kursi roda dengan Gibran digendongannya.
"Sayang aku bisa jalan" sudah berulang kali Imelda meminta untuk jalan kaki tapi Riko melarang dengan alasan jahitan Imelda yang masih rentan.
"Aku tahu sayang" jawab Riko singkat tanpa memperdulikan tatapan kagum dari pengunjung rumah sakit.
Alvian dan Vani memutuskan untuk pulang dengan mobil terpisah. Dan kini didalam mobil Riko terus memandang takjub ciptaan tuhan yang sangat luar biasa itu. Diusapnya pipi gembul yang baru berusia satu minggu itu. Gemas, itulah yang dirasakan Riko saat melihat anaknya.
"Sayang sudahlah nanti dia menangis" ucap Imelda menasehati karena sepanjang perjalanan Riko terus saja mengganggu Gibran.
__ADS_1
"Dia sangat lucu sayang, lihatlah dia menguap" jawab Riko tanpa mengalihkan pandangannya.
Imelda menutupi bibir mungil yang menguap itu dengan jari telunjuknya. Seperti mendapatkan kenyamanan, baby Gibran langsung kembali tertidur saat Imelda menepuk bokongnya.
Setelah 30 menit, akhirnya mereka sampai di rumah Gunawan. Bayi kecil itu menjadi rebutan saat baru saja turun dari mobil. Dian dan Sandra langsung berebut untuk menggendong cucu mereka.
"Resiko mempunyai malaikat tampan" bisik Riko tepat di telinga Imelda dan hanya ditanggapi Imelda dengan senyuman.
"Selamat ya Mel" ucap Dinda, karena tadi Dinda belum sempat mengucapkan selamat pada Imelda.
Kini semua orang sudah berkumpul di ruang tamu, mereka juga bergantian menggendong baby Gibran seperti boneka yang sedang diputar. Karena hari sudah mulai petang, yang lain nya pun pamit pulang. Dan saat ini baby Gibran sedang tidur lelap diranjang bayi samping tempat tidur Imelda dan Riko.
Sedangkan dihalaman belakang, terlihat Dinda yang duduk termenung sambil menatap air kolam yang mulai tersorot oleh lampu-lampu itu.
"Sedang apa?" suara berat dan terkesan dingin itu mengejutkan Dinda.
"Hanya duduk" jawab Dinda menoleh sekilas pada Andra yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Apa kau masih memikirkan ayahmu?" tanya Andra dengan alis terangkat.
"Tidak" jawab Dinda dan membuang pandangannya terlihat sekali jika dia sedang berbohong.
Andra pun hanya mengangkat kedua bahunya dan hendak berjalan kembali masuk kedalam tapi langkahnya terhenti saat Dinda kembali memanggilnya.
"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Dinda tanpa menoleh kearah Andra.
"Hanya bosan." jawab Andra.
"Apa kau masih mencintai Nesya?" tanya Dinda sedikit pelan.
"Tentu, tapi aku sudah berusaha mengikhlaskannya" terdengar nada getir saat mengucapkan itu, Andra pun berbalik dan berdiri menghadap kolam dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana.
"Apa kau masih mencintai pria yang sudah membuatmu menjadi pendiam seperti itu? aku yakin bukan hanya ayahmu yang menjadi alasan dibalik sikap diammu" tanya Andra dengan sedikit nada menyindir. Dinda pun dibuat terkejut dengan pertanyaan Andra.
"Ti-tidak, pria siapa yang kau maksut?" tanya Dinda gugup.
__ADS_1