
"Sayang maafkan aku" Gibran langsung memeluk tubuh istrinya yang terbaring lemah tanpa menjawab pertanyaan sang mommy. Imelda hanya geleng-geleng kepala kemudian meletakkan obat dinakas samping ranjang king size dikamar itu.
"Obatnya mommy taruh disini, cepet sembuh ya sayang" sebelum pergi, Imelda menyempatkan untuk mengelus rambut menantunya itu.
"Kau tidak salah sayang, aku yang terlalu ceroboh" lirih Jasmine seraya mengusap rambut Gibran yang menempel pada dadanya.
"Kenapa kau memakannya tadi jika kau alergi?" rasa bersalah menyeruak didalam hatinya, bagaimana tidak jika istrinya tiba-tiba tak berdaya seperti ini dan itu karena kecerobohannya yang tidak mengetahui apa yang bisa dan tidak bisa dimakan oleh sang istri.
"Sayang bisakah kita tidur?" Jasmine sedang tidak ingin berdebat, tubuhnya lemas tak bertenaga. Bukan hanya itu, dirinya juga tidak ingin Gibran terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidurlah aku akan menjagamu" mendengar ucapan Gibran, Jasmine menggeleng kemudian menepuk sisi ranjang disebelahnya agar Gibran membaringkan tubuhnya disana.
Masih belum bergeming, Gibran masih menatap setiap pergerakan Jasmine.
"Sayang, aku ingin tidur jika kau memelukku" Gibran tersenyum kemudian naik keatas ranjang dan segera merengkuh tubuh istri cantiknya. Tidak butuh waktu lama, tubuh lemas tak bertenaga itu sudah menjelajahi alam mimpi sedangkan sang pria masih terjaga dengan tak henti-hentinya memberikan kecupan dikening wanita yang ada didalam dekapannya.
"Maafkan aku, aku berjanji aku akan mencari tahu apapun yang berkaitan denganmu. Selamat malam istriku" Gibran ikut memejamkan mata, kedua insan itu terlelap dengan posisi berpelukan mesra.
.
.
__ADS_1
Lain dengan pengantin baru yang sudah terlelap, dua manusia berbeda lawan jenis itu masih setia duduk diruang keluarga dengan menyantap camilan yang tersedia, seolah malam tak mampu memisahkan mereka.
"Sayang besok aku harus kembali, kasian ibu jika aku terlalu lama disini" ucapan Marcell mengalihkan fokus Chayra yang semula menatap kayar besar dihadapannya. Menundukkan kepalanya, menatap Marcell yang merebahkan diri dengan berbantalkan pahanya.
"Hati-hati ya sayang, jangan lupa kabari aku." Marcell memeluk pinggang Chayra.
.
.
Pagi hari tiba, semua orang sudah menjalankan aktivitasnya. Chayra mengantarkan Marcell ke bandara, selama perjalanan Chayra sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. Entah kenapa, dirinya tidak ingin Marcell pergi, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya yang membuatnya berat untuk melepas sang kekasih.
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan kembali. Tunggu aku sampai menjemputmu" Chayra mengangguk dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Segera merengkuh kembali tubuh kokoh itu sebelum akhirnya melepaskan dan menjalani hubungan jarak jauh.
"Cepat kabari aku" Marcell mengangguk dari kejauhan, tidak ingin menoleh kebelakang lagi. Ia tidak ingin semakin berat untuk pergi.
Chayra keluar bandara dengan langkah gontai, sesekali menoleh kebelakang berharap Marcell berubah pikiran. Tapi nihil, sampai masuk kedalam mobil dirinya sudah mendengar pesawat yang terbang menuju angkasa untuk berpatroli menuju tujuannya.
"Jalan pak" sopir yang mengantar mengangguk, melihat sang nona yang tidak baik-baik saja, sang sopir takut untuk bertanya.
"Antarkan saya kehotel kak Gibran pak" lagi-lagi sopir mengangguk.
__ADS_1
45 menit berlalu, Chayra baru saja sampai dihotel milik sang kakak, petugas resepsionis yang memang sudah mengenalnya langsung mengantarkan dirinya untuk keruang kerja Gibran.
"Silahkan nona"
"terima kasih mbak"
Chayra tidak melihat siapapun disana, hanya terdengar suara obrolan diruangan yang ada diruang kerja Gibran. Tidak lama, Gibran keluar dan terkejut saat melihat sang adik sudah duduk diruangnnya dengan wajah lesu.
"Ada apa?" tanya Gibran kemudian duduk disamping Chayra dan merengkuh tubuhnya. Gibran tahu, yang dibutuhkan Chayra saat ini hanyalah ketenangan dan ditanya pelan-pelan.
"Kak perasaan Chayra tidak enak" lirih Chayra.
"Hustt mungkin itu hanya perasaanmu saja, nontonlah televisi bersama kakakmu disana kakak harus mengerjakan beberapa dokumen" Chayra mengangguk kemudian melepaskan pelukannya dan langsung berdiri untuk masuk dan bergabung dengan Jasmine.
"Eh Chayra sini" Jasmine yang sesang berbaring langsung melambaikan tangannya meminta Chayra untuk duduk disampingnya. Chayra menurut, menatap wajah kakak iparnya yang masih sedikit pucat. Chayra yakin, kakaknya pasti sudah memaksa kakak iparnya untuk ikut dan istirahat disini karena tidak ada siapapun dirumah.
"Kakk apa kakak baik-baik saja?" Jasmine mengangguk kemudian menatao wajah Chayra yang juga lesu.
"Selamat pagi pemirsa, kabar duka menyelimuti tanah air. Pesawat Elang 43 jatuh ......"
Chayra terkejut, langsung mengambil ponselnya untuk mengecek pesawat yang ditumpangi Marcell. Benar, dunianya bagai runtuh begitu saja.
__ADS_1