
Setelah berhasil menetralkan keterkejutannya, Dinda langsung masuk kedalam rumah dan menuju ruang makan untuk makan malam. Setelah ritual makan malam selesai, mereka menuju ruang keluarga untuk mengobrol sebelum tidur.
Saat ini, Gibran sedang berada di gendongan Alvian. Alvian pun tak henti-henti nya mengusik Gibran yang sedang terlelap itu.
"Besok kalau kau sudah besar uncle akan mengajarimu cara membuat mobil menjadi sangat gesit dan tidak mudah disaingi" ucap Alvian kemudian mencium pipi gembul itu hingga membuat sang empu menggeliat.
"Alvian dia masih kecil kenapa kau sudah mengajaknya memodifikasi mobil?" tanya Andra sedikit sinis.
"Hei kak. kan aku bilang kalau dia sudah besar" jawab Alvian tak kalah sinisnya.
"Sini biar kakak mencoba gendong" ucap Andra kemudian meraih bayi kecil itu dengan sangat hati-hati.
"Jagoan uncle jangan dengerin uncle Alvian ya. Nanti kalau udah besar Gibran harus jadi CEO tampan yang mempunyai perusahaan disetiap penjuru negara oke" ucap Andra kemudian mencium pipi gembul itu dengan gemas
"Cih," Alvian hanya membalasnya dengan memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Sudah sudah kalian ini sudah jadi uncle tapi masih seperti anak kecil" ucap Sandra menengahi kemudian langsung meraih Gibran dari gendongan Andra.
"Cucu grandma sangat tampan nanti kalau udah besar nggak boleh sering ganti pasangan kayak uncle Alvian ya harus jadi orang yang setia dan menghargai perasaan wanita" ucap Sandra hingga membuat Andra menatap sinis kearah Alvian yang menggaruk kepalanya itu.
"Dan juga jangan seperti Uncle Andra yang sifatnya sedingin es" lanjyt Sandra hingga membuat semua orang tertawa dan Alvian lah yang tertawa paling keras.
Mendengar suara tawa yang sangat ramai, baby Gibran menangis. Sepertinya dia haus.
"Mungkin dia haus sayang" ucap Sandra kemudian menyerahkan baby Gibran ke Imelda.
"Anak daddy sangat haus rupanya" ucap Riko seraya mengelus pipi baby Gibran yang sedang asik menyusu itu.
"Sayang, nanti dia tersedak" ucap Imelda menasehati dan hanya dibalas cengiran oleh Riko.
"Haloo selamat malam, Deny yang paling tampan sepulau jawa datang, jangan lupa red carpetnya" teriak Deny yang baru saja masuk dan langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Riko
__ADS_1
"Aduhh kak, Deny punya dosa apa sih sama kak Riko" ucap Deny tanpa rasa bersalah.
"Bisakah kau tidak teriak, ini bukan hutan. Dan lagi, apa kau tak lihat anak ku tidur" ucap Riko geram.
"Hehe maaf kak. Kan Deny kesini hanya rindu pada mama Sandra" ucap Deny mencoba mencari perlindungan dan Sandra hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa Vira tidak ikut?" tanya Sandra saat tidak melihat Vira datang bersama Deny.
"Tidak ma, Tadi Deny habis dari rumah teman langsung kesini jadi tidak sempat pulang dan menjemput Vira" jawab Deny seraya menyalami Sandra dan Heru.
Mereka melanjutkan obrolan mereka dengan sesekali bercanda. Karena hari sudah larut, Imelda membawa baby Gibran kekamar begitu juga dengan yang lain sudah kembali kekamar mereka masing-masing. Begiru juga Deny yang sudah pulang karena tidak tega meninggalkan Vira dirumah sendiri.
"Aku tidak menyangka jika aku sudah menjadi seorang daddy" ucap Riko saat sudah berbaring di ranjang king size nya dengan Baby Gibran yang berada diantaranya dan Imelda. Ya, mereka memutuskan untuk tidur bertiga sampai tidur baby Gibran teratur. Karena setiap malam sesekali baby Gibran akan menangis karena haus atau popok yang sudah penuh.
"Ya, apa kau bahagia?" tanya Imelda seraya memandang sosok kecil dihadapannya.
__ADS_1
"Tentu sayang. Aku sangat bahagia" jawab Riko kemudian memiringkan tubuhnya dan menatap dua manusia yang menjadi penyemangat hidupnya.