
uhukk uhukk
"Sudah biarkan, ayo" ajak Sandra pada Vani.
"Loh loh mau kemana ma?" tanya Alvian.
"Buat kue" jawab Sandra tanpa menoleh kearah Alvian.
Alvain pun hanya bisa mendengus kemudian merebahkan tubuhnya kembali dengan sedikit kasar.
"Melda masih belum selesai ma?" tanya Vani saat belum bertemu Imelda.
"Belum, mungkin sebentar lagi" jawab Samdra seraya memasukkan adonan kedalam mangkuk takaran.
"Vanii" panggil Imelda. Baru saja diomongin sudah muncul, panjang umur sekali.
"Hai mel" sapa Vani.
Imelda langsung memeluk sahabatnya itu, bagi Imelda Vani dan Dinda sudah seperti keluarga.
"Sayang ganti baju dulu" Ucap Sandra lembut.
"Iya ma" jawab Imelda kemudian langsung berlari kearah lift.
"Hati-hati dek" teriak Alvian yang sudah bangkit dari tidurannya kemudian melihat Imelda berlari.
__ADS_1
Brukkk
Nahh kan, akibat kurang berhati-hati. Imelda jatuh terpeleset karena lantai dan sandal yang digunakan licin.
"Dekkk" Teriak Alvian menggema dan semua langsung berlari kearah Imelda begitu juga Riko yang belum selesai meeting langsung berlari saat mendengar teriakan Alvian.
"Sakitt kakk" rintih Imelda saat merasakan nyeri diperutnya.
"Sayang" teriak Riko tak kalah histerisnya.
"Riko kau angkat Melda aku akan menyiapkan mobil" ucap Alvian dan langsung berlari keluar dan Riko langsung membopong Imelda sedangkan Sandra dan Vani memilih untuk menyiapkan keperluan Imelda saat dirumah sakit.
"Sakitt sayang" ucap Imelda dan mencengkeram lengan Riko.
"Bertahanlah sayang" ucap Riko tak kuasa menahan air matanya.
"Kumohon bertahanlah sayang" ucap Riko dan setelah itu Imelda pun sudah tidak sadarkan diri.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, akhirnya mobil sampai di rumah sakit. Sesampainya disana, mereka sudah disambut dengan para perawat dengan membawa brankar rumah sakiit.
"Bertahanlah sayang" ucap Riko seraya berlari mendorong brankar. Sedangkan Alvian menghubungi Heru dan juga Andra.
Kini Imelda sudah dibawa masuk kedalam dan kini tinggal Riko yang mondar-mandir panik.
"Tenanglah. Doakan semoga tidak terjadi apa-apa" ucap Alvian mencoba untuk tenang meskipun dia sendiri juga gugup.
__ADS_1
Tidak lama, tedengar suara pintu ruangan terbuka. Menampilkan Dinda dengan jas dokternya.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Riko.
"Kita harus melakukan operasi caesar karena Imelda sudah tidak sadarkan diri dan itu akan bahaya jika bayi nya tidak segera dikeluarkan" jelas Dinda hati-hati.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya" jawab Riko.
"Silahkan menanda tangani berkas dan kami akan melakukan tindak operasi sebaik mungkin" jawab Dinda kemudian langsung kembali masuk.
Bersamaan dengan datangnya Sandra, Heru, Andra dan Vani, brankar Imelda didorong oleh pata perawat menuju ruang operasi.
"Imelda mau dibawa kemana pa?" tanya Sandra yang sudah menangis dipelukan Heru. Begitu juga Vani yang menangis di pelukan Alvian.
"Imelda akan melakukan operasi caesar ma" jawab Alvian hingga membuat Sandra semakin menangis
"Paa anak kita" lirih Sandra.
"Tenanglah ma, anak kita sedang berjuang demi cucu kita" ucap Heru menenangkan kemudian mengajak semua orang untuk menunggu di depan ruang operasi.
"Lalu kemana Riko?" tanya Andra saat tidak mendapati Riko.
"Riko sedang mengurus berkas yang diperlukan kak" jawab Alvian kemudian mengajak Vani duduk.
Beberapa dokter pun berlarian menuju ruang operasi. Lampu ruang operasi pun menyala tanda operasi akan dilaksanakan. Setelah menunggu hampir 3 jam, akhirnya lampu ruang operasi padam. Lalu munculah seorang suster dengan bayi ditangannya.
__ADS_1
"Apakah disini ada ayah dari bayi?" tanya suster.