Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 179


__ADS_3

Plakkk


Suara tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus Lexa hingga membuat Lexa merasakan panas dipipinya.


"Hei apa yang kau lakukan" teriak Lexa yang ingin membalas Vani tapi gagal karena tangannya dicekal oleh Vani dan diputarnya kebelakang.


"Itu balasan untukmu karena sudah berani mengganggu calon suamiku" Vani alngsung mendorong Lexa hingga tersungkur dilantai.


Vani langsung berlari keluar sorum dan menyusuri jalan tanpa memperdulikan panggilan dari Alvian yang mengejarnya. Sedangkan Lexa yang melihat dari luar sorum tersenyum sinis kemudian mengambil ponselnya.


"Sekarang" ucap Lexa dipanggilan telepon saat melihat Vani hendak menyeberang jalan.


"Selamat jalan Vani" gumam Lexa memandang dari kejauhan sudah ada truk yang melaju sangat kencang.


"Sayang" Alvian berteriak saat melihat truk melaju sangat kencang hendak menghantam tubuh kekasihnya. Vani yang melihat truk memejamkan kedua matanya dan menutupnya dengan kedua tangannya.


"Bruaakkk" suara hentaman berasal dari tengah jalan raya. Tapi Vani hanya merasakan tubuhnya didorong tidak merasakan tubuhnya tertabrak. Dengan cepat Vani membuka matanya dan ternyata Alvian yang mendorong tubuhnya dan sekarang Alvian tidak sadarkan diri dengan darah berlumuran ditubuhnya.


"Alviann" teriak Vani histeris kemudian langsung berlari menghampiri Alvian yang sudah dikerumuni oleh orang-orang.

__ADS_1


"Sayang bangun" Vani histeris seraya menopang kepala Alvian dengan pahanya.


"Tolong panggilkan Ambulance" teriak Vani pada orang yang berkerumun didekatnya.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya mobil ambulance datang dan Alvian langsung dibawa kerumah sakit dibantu oleh petugas ambulance. Vani yang ikut duduk dimobil ambulance tak henti-hentinya menangis saat melihat kekasihnya berlumuran darah demi menyelamatkan dirinya.


Setelah sampai dirumah sakit utama sekaligus milik keluarga Gunawan, Alvian langsung dibawa keruang operasi karena patah tulang dan sedikit cidera dikepalanya.


"Dokter ada pasien gawat darurat diruang operasi bernama Alvian Gunawan" salah satu dokter langsung masuk ruang meeting para petinggi rumah sakit.


Bagai dihantam batu yang sangat keras, Heru langsung berdiri dan berlari dimana ruang operasi berada saat mendengar putra nya sedang dalam kondisi kritis. Saat didepan ruang operasi, Heru melihat Vani sedang duduk menangis dilantai seraya memeluk kedua lututnya. Heru mendongak, melihat lampu ruang operasi sudah menyala itu tandanya operasi sedang dijalankan.


"Pa ini salah Vani pa" ucap Vani tidak berani menatap Heru terlalu lama.


"Bangunlah ini semua kecelakaan" ucap Heru berusaha tenang dan membantu Vani berdiri.


"Paa bagaimana keadaan Alvian pa? Alvian tidak apa kan?" Sandra yang baru saja datang setelah dikabari oleh Heru langsung mencecar Heru dengan banyak pertanyaan.


"Tenanglah ma" setelah mendudukkan Vani dikursi, Heru langsung memeluk Sandra yang sudah histeris.

__ADS_1


"Bagaimana ini bisa terjadi pa?" tanya Sandra didalam pelukan Heru.


"Ini semua salah Vani ma, Vani bodoh" ucap Vani memukul kepala nya sendiri.


"Vanii apa yang kau lakukan" Imelda berteriak dan kemudian memeluk sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya itu. Imelda yang tadi ingin menjemput baby Gibran di perusahaan Yunanda mengurungkan niatnya saat mendengar kabar dari salah satu dokter bahwa kakaknya sedang kritis diruang operasi.


Sandra langsung melepaskan pelukan Heru dan ikut duduk disamping Vani dan memeluk Vani seperti anaknya sendiri. Ketiga wanita itu menangis secara bersamaan.


"Maa ini semua salah Vani ma Vani yang gegabah" Vani terus saja menyalahkan dirinya dan memukul kepalanya sendiri hingga membuatnya tidak sadarkan diri.


"Van Van" Imelda menepuk pelan pipi Vani tapi Vani tidak merespon.


"Sayang, tolong angkat Vani dan bawa kekamar lain agar aku bisa memeriksanya" Imelda langsung menyuruh Riko saat melihat Riko sudah datang dan menggendong baby Gibran. Heru langsung mengambil baby Gibran agar memudahkan Riko untuk membawa Vani.


"Ama ama" baby Gibran langsung turun dari pangkuan Heru dan berlari kearah Sandra yang duduk menangis.


"Ama ama" mendengar panggilan sang cucu, Sandra tersenyum dan mengambil baby Gibran dan dipangkuannya.


"Ama apa?" baby Gibran bertanya seraya mengusap air mata Sandra.

__ADS_1


__ADS_2